Seorang warga Iran memprotes aturan berhijab (Dw.com) Seorang warga Iran memprotes aturan berhijab (Dw.com)
Selasa, 6 Februari 2018 17:15 WIB Chelin Indra Sushmita/JIBI/Solopos.com Internasional Share :

Survei Sebut Hampir Separuh Warga Iran Memprotes Aturan Berjilbab

Mayoritas warga Iran memprotes aturan soal paksaan memakai hijab yang berlaku.

Solopos.com, TEHERAN – Masyarakat Iran dibuat heboh dengan dirilisnya hasil survei soal penggunaan hijab di kalangan wanita dewasa. Dalam laporan tersebut ditulis separuh dari penduduk Iran yang disurvei menganggap pemakaian hijab adalah pilihan pribadi masing-masing orang. Jadi, pemerintah tidak boleh memaksa warganya memakai jilbab.

Dilansir CNN, Selasa (6/2/2018), Pusat Studi Strategis Iran menyebut sekitar 49,2 persen dari 1.167 responden menyebut pemakaian jilbab adalah urusan pribadi. Mereka menilai aturan pemerintah yang mewajibkan penggunaan hijab semestinya dihapus. Sejalan dengan hal ini, pekan lalu ada 29 wanita yang memprotes kebijakan tersebut dengan cara melepas hijab di pusat keramaian.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan perubahan signifikan setiap tahunnya. Sebab, protes soal aturan berhijab terus meningkat sejak 2006 lalu. Berdasarkan data tersebut, pemerintah Iran mengumumkan polisi tidak akan menangkap wanita yang tidak berpakaian menurut syariat Islam sesuai dengan yang tercantum dalam Revolusi Islam 1979.

Pengumuman itu menjadi sinyal melonggarnya hukum bagi kaun wanita di Iran yang tidak berpakaian secara Islami. Sejumlah orang menilai, aturan ini dibuat karena Presiden Iran, Hassan Rouhani, adalah sosok yang moderat. Namun, sejumlah orang lainnya berasumsi jika aturan ini tidak akan bertahan lama mengingat kelompok Islam garis keras masih menguasai parlemen Iran.

Kendati demikian, sejumlah pengamat politik dan ulama Islam di Iran mengapresiasi kebijakan yang diambil Hassan Rouhani. Mereka menilai Hassan Rouhani adalah pemimpin yang mau mendengarkan suara rakyat. Sebab, gelombang protes soal aturan penggunaan jilbab  telah berlangsung sejak lama.

“Pemerintah mungkin ingin menunjukkan bahwa kekerasan terhadap orang yang tidak mau mengenakan jilbab adalah suatu kesalahan. Bagaimana pun tindak kekerasan adalah hal yang bertentangan dengan ajaran Islam,” kata seorang ulama Iran, Fazel Meybodi, seperti dilansir New York Times.

Sebagai informasi, selama ini pemerintah Iran mewajibkan para wanita dewasa mengenakan hijab sesuai dengan aturan Islam. Namun, beberapa tahun belakangan aturan ini menuai protes dari masyarakat. Mereka menilai aturan mengenakan hijab secara paksa adalah simbol penindasan.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…