Sugiyatno mengecek salah satu kolam ikan lele miliknya di Dusun Kedung Dowo Wetan, Desa Pampang, Kecamatan Paliyan, Gunungkidul.(Mayang Nova Lestari/JIBI/Harian Jogja) Sugiyatno mengecek salah satu kolam ikan lele miliknya di Dusun Kedung Dowo Wetan, Desa Pampang, Kecamatan Paliyan, Gunungkidul.(Mayang Nova Lestari/JIBI/Harian Jogja)
Selasa, 6 Februari 2018 21:55 WIB Herlambang Jati Kusumo/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

Siswa SD dan SMP di Gunungkidul akan Diberi Modal untuk Memelihara Ikan

Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP),  Gunungkidul akan bekerjasama dengan sekolah

 

Solopos.com, GUNUNGKIDUL–Dorong produktivitas produksi perikanan budidaya, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP),  Gunungkidul akan bekerjasama dengan sekolah.

Kepala Bidang Perikanan Budidaya DKP, Emerlindis Budiwati kerjasama dengan sekolah untuk budidaya ikan ini merupakan tahun pertama dan akan dicoba dibeberapa sekolah SD dan SMP.

“Kami akan mencoba kejar target produksi 2018 dengan bekerjasama dengan sekolah. Kami nanti akan memberikan modal awal untuk satu sekolah sekitar Rp10 juta, berupa pelatihan-pelatihan cara budidaya ikan dengan bis beton, bantuan bis beton tujuh masing-masing sekolah, benih, lalu pakan. Selanjutnya nanti dilanjutkan sekolah dengan pendampingan Dinas” ujarnya, Minggu (4/2/2018).

Untuk tahap awal ini rencana akan diberikan kepada empat sekolah, diantaranya SD N Ngabean, Karangasem, Ponjong, SMP 2 Saptosari, SD N Sokasari, Ngoro oro, Patuk, dan, SD N Mijahan 2 Jonge, Pacarejo, Semanu.

Jika berhasil budidaya bekerjasama dengan sekolah ini, 2019 mendatang akan diusulkan lebih banyak sekolah lagi.

Kolam bis beton sendiri menurut Budiwati memiliki keunggulan, dengan tidak perlu terlalu sulit seperti mengurus kolam yang besar, karena daya tampung dengan bis beton ini hanya 150-200 ekor. Dengan pengenalan bis beton ini juga diharapkan peternak ikan yang masih memiliki modal maupun lahan yang terbatas tetap bisa berjalan.

Selain itu juga air bekas kolam dapat digunakan sembagai pengairan atau pupuk tanaman. Menurutnya sudah banyak yang menerapkan itu, dan berhasil menyuburkan tanaman.

Tidak hanya mengejar target produksi dengan program ini, diharapkan juga nantinya adanya program tersebut, memberi edukasi pada anak-anak sekolah dalam budidaya ikan. Hasilnya juga dapat dimakan sendiri untuk penambahan gizi maupun dijual. Selain di sekolah, pengembangan program ini juga akan disosialisasikan ke kelompok-kelompok PKK yang ada di desa.

Sebelumnya Sekretaris DKP, Gunungkidul, Sugeng Raharjo, mengatakan target produksi perikanan budidaya di 2018 yaitu 19.773 ton. Yang sering menjadi kendala produksi perikanan budidaya sendiri dikatakan Sugeng yaitu jika memasuki musim kemarau.

“Jika masuk musim kemarau biasanya banyak pembudidaya yang libur dahulu. Namun juga beberapa tetap ada yang jalan. Budidaya perikanan yang banyak, kami di daerah Ponjong,” ujarnya.

Terkait program dari DKP Gunungkidul yang akan bekerjasama dengan sekolah, Kepala Sekolah SD N Mijahan 2 Jonge, Pacarejo, Semanu, Margiyo sangat mendukung program tersebut.

“Kami sangat mendukung program tersebut. Selain hasilnya nanti dari perikanan tersebut dapat menambah gizi anak-anak, juga dapat menjadi wahana edukasi,” ujarnya.

Dia mengatakan pihaknya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu program ini dan diharapkan nantinya juga budidaya ikan ini menjadi pekerjaan atau sambilan yang menjanjikan pemasukannya.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…