Bupati, Wakil Bupati, dan para pejabat di lingkungan Pemkab Sragen menyaksikan uji coba pengoperasian RMT di jalan kabupaten yang terletak di Desa Tangkil, Kecamatan Sragen Kota, Sragen, pekan lalu. (Istimewa/Kurniawan Ari Sujono/DPUPR) Bupati, Wakil Bupati, dan para pejabat di lingkungan Pemkab Sragen menyaksikan uji coba pengoperasian RMT di jalan kabupaten yang terletak di Desa Tangkil, Kecamatan Sragen Kota, Sragen, pekan lalu. (Istimewa/Kurniawan Ari Sujono/DPUPR)
Selasa, 6 Februari 2018 07:15 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

Pemkab Sragen Operasikan RMT untuk Menambal Jeglongan Sewu

Pemkab Sragen mengoperasikan RMT untuk menyapu lubang jalan.

Solopos.com, SRAGEN — Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Sragen mulai mengoperasikan road maintenance truck (RMT) senilai Rp1,4 miliar pada 2018. Truk itu menjadi satu-satunya yang ada di Soloraya karena baru Sragen yang memiliki RMT.

Truk tersebut berfungsi untuk “menyapu bersih” atau menambal lubang-lubang jalan atau jeglongan sewu pada ruas jalan dengan tingkat kerusakan sedang dan ringan. Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati menargetkan lima Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) PUPR di lima eks-kawedanan bisa memiliki RMT semua secara bertahap.

RMT hasil pengadaan 2017 senilai Rp1.425.000.000 diuji coba di wilayah Tangkil, Sragen Kota, pada pekan lalu, dan dinyatakan efektif.

Kasi Pemeliharaan Jalan dan Jembatan Bidang Bina Marga DPUPR Sragen, Kurniawan Ari Sujono, saat ditemui solopos.com, Senin (5/2/2018), mengatakan sebelumnya pemeliharaan jalan dilakukan dengan cara manual, yakni dengan membawa tiga truk dan membutuhkan 15 personel.

Setelah menggunakan RMT, pihaknya bisa efisiensi sampai di atas 60% untuk tenaga dan operasional karena truk tersebut hanya membutuhkan 3-5 orang tenaga dan cukup dengan satu truk untuk menjangkau sejumlah ruas jalan rusak.

“Ya, keinginan Ibu Bupati truk itu harus ada di setiap UPTD tetapi pada 2018 ini tidak ada anggaran untuk pengadaan RMT. Ketika ada kerusakan di Gemolong misalnya tidak perlu membawa material dari Sragen tetapi cukup ditangani oleh petugas UPTD Gemolong. Untuk saat ini, mereka sudah dilengkapi peralatan memadai dan anggaran operasional Rp30 juta per UPTD,” jelasnya.

Ari menjelaskan jalan rusak sedang di Sragen mencapai 45,21 km atau 4,43% dan rusak sepanjang 367,85 km atau 36,05% dari total jalan kabupaten sepanjang 1.020,25 km.

Untuk pemeliharaan jalan dari kerusakan, Ari menyampaikan adanya peningkatkan alokasi anggaran sampai dua kali lipat. Anggaran pemeliharaan pada 2017 yang hanya Rp2 miliar per tahun itu meningkat menjadi Rp4 miliar per tahun pada 2018.

“Target perbaikan pemeliharaan itu hanya untuk rusak sedang dan rusak ringan. Untuk rusak berat dibangun dengan cor bertulang dengan alokasi anggaran Rp260 miliar pada 2018. Jalan rusak berat di Sragen dituntaskan pada tahun ini yang terdiri atas 94 ruas jalan,” imbuhnya.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Urgensi Mendesain Ulang Prolegnas

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (14/2/2018). Esai ini karya Isharyanto, dosen Hukum Tata Negara di Universita Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah isharyantoisharyanto8@gmail.com.  Solopos.com, SOLO–Sidang paripurna DPR di ujung 2017 lalu dibuka dengan laporan 50 rancangan undang-undang (RUU)…