Selasa, 6 Februari 2018 22:40 WIB Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Orang Tua di Jogja Diingatkan Jangan Suka Memberi Junk Food pada Balita

Gizi berlebih menjadi persoalan balita di perkotaan.

Solopos.com, JOGJA–Gaya hidup modern memunculkan masalah gizi berlebih balita di Kota Jogja. Kebiasaan mengonsumsi makanan siap saji alias junk food bagi anak-anak memunculkan risiko sejumlah penyakit kronis.

Sekretaris Dinas Kesehatan Jogja, Agus Sudrajat mengatakan gizi berlebih menjadi permasalah tersendiri selain kondisi gizi buruk di kalangan balita. Kondisi ini dipicu adanya kebiasaan mengonsumsi junk food yang semakin tinggi di masyarakat. “Dengan kondisi gizi berlebih maka penyakit yang muncul sebagai imbasnya juga banyak sekali,” katanya kepada Harianjogja.com, Selasa (6/1/2018).

Fenomenanya saat ini ialah orang tua cenderung lebih mudah memberikan makanan siap saji kepada anak-anaknya. Selain itu, makanan yang kurang sehat itu kini juga lebih banyak dan bebas dijual sehingga membutuhkan pengawasan lebih. Hanya saja, Agus menilai masyarakat masih banyak yang belum menyadari buruknya perilaku mengonsumsi junk food ini.

Hal ini kembali lagi pada pola asuh yang salah sehingga makanan yang diberikan tidak baik bagi kesehatan anak. Selain dari bahan makanannya sendiri, cara menyiapkannya juga seharusnya menjadi pertimbangan. Agus mencontohkan makanan yang digoreng dengan minyak yang berulang kali digunakan menjadi salah satu sumber penyakit dan juga banyak terjadi di perkotaan.

Salah satu penyakit yang bisa muncul adalah hipertensi, jantung, dan diabetes. Hal ini tentunya semakin berbahaya apabila diidap balita sejak usia dini. Pasalnya, upaya untuk penyembuhannya juga relatif sulit dan mahal. Karena itu, akan lebih baik apabila masyarakat perkotaan menyadari hal ini dan mengubah gaya hidup.

Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Kota Jogja, Riska Novriana mengatakan angka prevelensi gizi berlebih di Kota Jogja mencapai angka 4,3 pada 2016 lalu. Sedangkan untuk 2017, angka gizi lebih mencapai 4,14 dari jumlah balita di Kota Jogja yang berkisar 17.000 anak. Pihaknya sendiri berusaha menekan angka gizi berlebih ini dengan melakukan sosialisasi agar kualitas konsumsi masyarakat semakin baik.

Salah satu hal yang kerap menjadi masalah juga karena minimnya aktivitas fisik yang dilakukan. Riska menjelaskan orang di Indonesia memang cenderung memiliki kesadaran yang rendah soal olahraga. Namun, beberapa waktu belakangan hal ini dianggap berubah dan kesadarannya mulai meningkat.

Untuk wilayah perkotaan, keterbatasan ruang terbuka dan fasilitas olahraga yang mudah dan murah menjadi salah satu penyebab kurangnya kegiatan olahraga. Karena itu, ia menilai dibutuhkan lebih banyak Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan kegiatan olahraga seperti car free day untuk masyarakat perkotaan. “Acara itu kan jadi kesempatan untuk berolahraga bagi masyarakat, murah pula,” katanya.

lowongan pekerjaan
SUMBER BARU REJEKI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Urgensi Mendesain Ulang Prolegnas

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (14/2/2018). Esai ini karya Isharyanto, dosen Hukum Tata Negara di Universita Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah isharyantoisharyanto8@gmail.com.  Solopos.com, SOLO–Sidang paripurna DPR di ujung 2017 lalu dibuka dengan laporan 50 rancangan undang-undang (RUU)…