Kepala BEI Solo, M.Wira Adibrata memberikan buku Indonesia Bond Market Directory 2017-2018 kepada Pemred Solopos, Suwarmin, saat kunjungannya ke Griya Solopos, Senin (5/2). Kepala BEI Solo, M.Wira Adibrata (kiri), memberikan buku Indonesia Bond Market Directory 2017-2018 kepada Pemred Solopos, Suwarmin, saat berkunjung ke Griya Solopos, Senin (5/2/2018). (Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos)
Selasa, 6 Februari 2018 05:15 WIB Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos Ekonomi Share :

KUNJUNGAN MEDIA
BEI Solo Dorong Perusahaan Soloraya Melantai di Bursa Saham

Kunjungan media, Kepala BEI Solo mengunjungi Griya Solopos.

Solopos.com, SOLO — Bursa Efek Indonesia (BEI) Solo mendorong perusahaan di Solo untuk go public. Hingga saat ini, baru tiga perusahaan di Soloraya sudah terdaftar sebagai emiten di bursa saham.

Ketiga perusahaan tersebut adalah PT Sri Rejeki Isman Tekstil (SRIL) perusahaan tekstil di wilayah Sukoharjo, PT Tiga Pilar Sejahtera (TPS) Food (AISA) perusahaan makanan di Sragen, dan Indo Acidatama (SRSN) sebuah perusahaan industri agro kimia yang berbasis di wilayah Kebakkramat Karanganyar.

Dari ketiga perusahaan yang sudah berlabel Tbk. itu, salah satu di antaranya telah menjadi saham unggulan. SRIL tercatat sebagai salah satu dari 45 saham unggulan hasil evaluasi BEI periode Agustus 2017-Januari 2018. Saham unggulan adalah saham dengan kinerja baik.

Kepala BEI Solo, M.Wira Adibrata, berharap perusahaan-perusahaan lokal bisa memanfaatkan pasar modal sebagai sarana untuk mendekatkan perusahaan dengan masyarakat. Dengan go public, perusahaan bisa mendapatkan tambahan modal yang sangat murah, perbaikan manajemen yang baik, serta mendapatkan insentif pajak dari pemerintah.

“Tiga perusahaan itu artinya masih sangat sedikit. Padahal di Solo banyak sekali perusahaan yang bisa memanfaatkan pasar modal untuk mengembangkan bisnisnya,” kata Wira, di sela-sela kunjungannya ke Griya Solopos Jl. Adisucipto 190 Solo, Senin (5/2/2018).

Di satu sisi, semakin banyak perusahaan lokal yang go public juga diprediksi bisa mendongkrak pemain saham atau investor di tingkat lokal. Saham-saham dari perusahaan tersebut tentu akan menarik minat warga lokal bermain di pasar modal.

Setelah membeli saham milik perusahaan lokal yang go public, masyarakat akan merasa ikut memiliki dan akan memiliki perhatian agar perusahaan tersebut terus memiliki kinerja baik.

“Dengan go public akan memeratakan pendapatan. Perusahaan yang kinerjanya baik ini sudah semestinya berbagi untung dengan masyarakat, dengan melepas sahamnya ke publik. Bahkan direktur kami sempat menyindir perusahaan-perusahaan besar yang hingga saat ini belum mau go public,” kata dia.

Di kalangan pelaku pasar modal, ada satu perusahaan lagi di Solo yang kini sedang ancang-ancang untuk melantai di pasar modal. Namun, Wira belum bersedia memberikan bocoran terkait identitas perusahaan tersebut. “Ada satu yang sekarang sedang digodok di internal perusahaan mereka. Kita tunggu saja,” ungkap dia.

Sementara itu, BEI di Solo fokus mengedukasi pasar terkait investasi di pasar modal. BEI telah melibatkan 22 sekuritas di Solo dan sekitarnya untuk agenda edukasi ini. Selain ke kampus-kampus melalui program Galeri Investasi, BEI juga akan bersinergi dengan industri media salah satunya Solopos untuk edukasi pasar modal.

Kunjungan BEI Solo ke Solopos diterima langsung Pemimpin Redaksi Solopos, Suwarmin. Suwarmin menyatakan Solopos siap bersinergi dengan BEI untuk menggeliatkan industri pasar modal mengingat Solo adalah kota niaga. Industri padat karya dan perdagangan tumbuh subur di Solo dan sekitarnya.

lowongan pekerjaan
SUMBER BARU REJEKI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Visi Pedagogis Daoed Joesoef

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (27/01/2018). Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015) dan Pembaca Serakah (2017). Alamat e-mail penulis adalah fauzi_sukri@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Indonesia, khususnya dunia pendidikan, kehilangan sosok pemikir pedagogis tangguh yang…