mahasiswa Undip. Salah satu karya mahasiswa Undip yang ditampilkan dalam Margoyoso Fest di Pati, Sabtu (3/2/2018). Margoyoso Fest merupakan festival yang digelar mahasiswa Undip yang melakukan KKN di wilayah tersebut. (JIBI/Semarangpos.com/Istimewa-Humas Undip)
Selasa, 6 Februari 2018 10:50 WIB Imam Yuda S./JIBI/Semarangpos.com Semarang Share :

KAMPUS DI SEMARANG
Ini yang Dilakukan Mahasiswa Undip saat KKN di Pati

Kampus Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, mahasiswanya mengadakan KKN di Pati.

Solopos.com, SEMARANG – Berbagai kegiatan dilakukan mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) Semarang saat menjalankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kabupaten Pati, Jawa Tengah (Jateng), selama satu bulan terakhir. Tak hanya membantu para warga Pati yang tinggal di pedesan, mahasiswa kampus Undip juga menggelar sebuah festival bertajuk Margoyoso Fest.

Acara yang dikemas bersama para warga desa dari Pangkalan, Waturoyo, Kajen, Ngemplak Kidul, dan Soneyan itu digela di Pendapa Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Sabtu (3/2/2018).

Tak hanya produk-produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari desa-desa yang ditempati mahasiswa kampus Undip untuk KKN yang ditampilkan dalam Margoyoso Fest itu. Beberapa kegiatan juga digelar selama festival, seperti jalan sehat, donor darah, cek kesehatan, pertunjukan kesenian, hingga pembagian doorprize.

Dekan Fakultas Ilmu Budaya Undip, Redyanto Noor, yang hadir dalam pembukaan acara yang disponsori Pemerintah Kecamatan Margoyoso dan Yamaha itu mengaku bangga dengan kegiatan yang digelar para mahasiswa saat KKN Itu.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada warga setempat yang mau menerima mahasiswa Undip untuk menggelar KKN di Pati.

“Kami berharap kegiatan ini bisa memberikan manfaat bagi masyarakat setempat,” tutur Redyanto dalam siaran pers yang diterima Solopos.com, Senin (5/2/2018).

Asisten Bupati Pati, Edi Sulistyono, mengatakan kehadiran mahasiswa Undip memberikan manfaat besar bagi masyarakat setempat, terutama terkait pemberdayaan desa.

“Masyarakat desa seperti batu besar yang memiliki potensi namun hanya diam dan mahasiswa yang harus berperan sebagai pengungkit, sehingga mampu menggerakkan batu yang besar tersebut,” ujar Edi.

“Harapan kami masyarakat dapat melanjutkan program yang diberikan, sehingga ketika mahasiswa kembali ke kampus ada keberlanjutan dan tidak kembali statis. Kami merasa kebijakan masa mahasiswa melakukan KKN perlu dikaji lagi, karena masyarakat membutuhkan pendampingan yang lebih lama.”

Selama menggelar KKN di Pati, mahasiswa kampus Undip itu memang memberikan sejumlah program, seperti mitigasi bencana dengan pembuatan poster terkait imbauan akan hadirnya banjir dan juga pembuatan sumber pembuangan yang efisien. Tak hanya itu, para mahasiswa juga menerapkan teknik penanam sayur hidroponik di kolam lele, pembuatan biogas, dan pembuatan tenda prisma plastik UV untuk mempersingkat proses pengeringan kripik.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

lowongan pekerjaan
SUMBER BARU REJEKI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Visi Pedagogis Daoed Joesoef

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (27/01/2018). Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015) dan Pembaca Serakah (2017). Alamat e-mail penulis adalah fauzi_sukri@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Indonesia, khususnya dunia pendidikan, kehilangan sosok pemikir pedagogis tangguh yang…