barongsai Satya Henri Chandra saat melukis kepala barongsai di bengkelnya di kawasan Pecinan, Semarang, Jumat (2/2/2018). (JIBI/Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
Selasa, 6 Februari 2018 12:50 WIB Imam Yuda S./JIBI/Semarangpos.com Semarang Share :

IMLEK 2018
Bengkel Las di Pecinan Semarang Ini Disulap Jadi Workshop Barongsai

Tahun Baru Imlek 2018 disambut warga Pecinan di Semarang dengan membuat Barongsai.

Solopos.com, SEMARANG – Tak seperti bengkel las lainnya, bengkel di Jl. Petudungan, kawasan Pecinan Kota Semarang, Jawa Tengah itu terlihat sunyi, Jumat (2/2/2018). Tak ada suara besi beradu maupun aktivitas pengelasan di bengkel yang terletak tak jauh dari Klenteng Tay Kak Sie tersebut.

Kendati demikian, pemilik bengkel itu, Satya Heri Chandra, bersama dua pekerjanya tampak sibuk. Namun, kesibukan mereka bukanlah melakukan pengelasan atau memperbaiki logam seperti kebanyakan tukang las. Mereka justru tengah sibuk membuat kepala barongsai.

“Ini lagi mengerjakan pesanan dari Pontianak. Harus segera selesai sebelum [Tahun Baru] Imlek,” ujar Satya saat dijumpai Semarangpos.com di bengkelnya, Jumat siang.

Memang menjelang perayaan Tahun Baru China atau tahun baru sesuai tarikh Imlek, Satya memilih menyulap bengkel lasnya sebagai workshop untuk membuat kerajinan jubah untuk pemain barongsai maupun naga atau liong.

Hal itu menyusul menggeliatnya bisnis pembuatan jubah barongsai menjelang Tahun Baru Imlek 2018. Ia bahkan mengaku sudah menerima pesanan barongsai maupun liong dari berbagai daerah di luar Pulau Jawa sejak empat bulan lalu.

“Ada yang dari Pontianak, Makassar, maupun Riau. Rata-rata pesan sejak empat bulan lalu, kalau sekarang sudah tidak bisa,” terang Satya.

Satya menambahkan keuntungan membuat jubah barongsai maupun liong memang cukup menjanjikan. Satu set jubah barongsai dibanderol dengan label harga Rp2,5 juta hingga Rp3 juta. Sementara, untuk jubah liong satu setnya dibanderol Rp6 juta – Rp6,5 juta.

Namun, harga itu bisa lebih mahal tergantung tingkat kerumitan pesanan. Jika lukisan di kepala barongsai lebih rumit, harga pun turut naik. Begitu juga dengan panjang atau pendek kainnya yang digunakan sebagai tubuh barongsai atau liong.

Barongsai

Satya Henri Chandra saat melukis kepala barongsai di bengkelnya di kawasan Pecinan, Semarang, Jumat (2/2/2018). (JIBI/Semarangpos.com/Imam Yuda S.)

Meski demikian, bukan itu saja alasan Satya mengeluti bisnis pembuatan jubah untuk mempertunjukkan kesenian barongsai. Keinginan untuk meneruskan tradisi Tionghoa merupakan faktor utama dirinya menjadi perajin jubah barongsai.

Terlebih lagi dirinya merupakan cucu dari seniman asal Tionghoa, almarhum Thio Thiong Gie alias Teguh Candra, yang terkenal sebagai maestro dalang wayang potehi.

“Sudah tradisi bikin barongsai. Turun temurun dari kakek dan orang tua. Jadi seperti melanjutkan tradisi,” tutur Satya.

Sementara itu, adik Satya, Gunawan Heri Chandra, mengaku pesanan jubah barongsai menjelang tahun baru dalam tarikh Imlek memang banyak. Meski demikian, jika dibanding tahun lalu, kali ini pesanannya menurun. Hal itu ia perkirakan dikarenakan saat ini persaingan bisnis jubah barongsai cukup ketat. Banyak orang yang mulai menekuni pembuatan barongsai menjelang perayaan Tahun Baru Imlek.

“Dulu di Pecinan yang bikin barongsai cuma beberapa tempat. Sekarang bisa 10 lebih. Kebanyakan juga mulai buka menjelang Imlek,” tutur Gunawan.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Kolom

GAGASAN
Guru Honorer

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (7/2/2018). Esai ini karya Roko Patria Jati, dosen di Institut Agama Islam Negeri Salatiga. E-mail penulis adalah bee.ascholar@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Tragedi yang mencoreng dunia pendidikan Indonesia muncul lagi bak serial drama televisi yang terus…