Perekonomian Jateng. Ilustrasi pertumbuhan ekonomi jateng (jateng.bps.go.id)
Selasa, 6 Februari 2018 08:50 WIB Alif N.R./JIBI/Bisnis Semarang Share :

BPS Sebut Ekonomi Jateng Tumbuh 5,27%

Perekonomian Jawa Tengah (Jateng) disebut Badan Pusat Statistik (BPS) mengalami pertumbuhan cukup signifikan.

Solopos.com, SEMARANG – Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah (Jateng) menyatakan perekonomian Jawa Tengah (Jateng) selama 2017 mengalami pertumbuhan sekitar 5,27%. Pertumbuhan itu disebabkan beberapa faktor, salah satunya kemajuan industri di sejumlah wilayah di Jateng.

Kepala BPS Jateng, Margo Yuwono, menyebutkan perekonomian Jateng berdasar besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku tahun 2017 mencapai Rp1.187.048,81 miliar dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp894.050,47 miliar.

“Ekonomi Jateng tahun 2017 tumbuh stagnan pada angka 5,27%. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha informasi dan komunikasi sekitar 13,27%. Sedangkan dari sis pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai kompenen impor sekitar 7,83%,” ujar Margo kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI) di Semarang, Senin (5/2/2018).

Selain itu, struktur ekonomi Jateng pada 2017 dari sisi produksi masih didominasi lapangan usaha industri pengolahan dengan kontribusi sebesar 34,96%. Sedangkan dari sisi pengeluaran didominasi oleh komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga (PKRT) dengan kontribusi sebesar 60,71%.

Margo menambahkan ekonomi Jateng triwulan lV-2017 mencatatkan pertumbuhan 5,40% year on year (yon-y). Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh semua lapangan usaha, dengan pertumbuhan tertinggi dicapai lapangan usaha informasi dan komunikasi yang tumbuh 18,81%. Dari sisi pengeluaran, pendorong pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen ekspor yang tumbuh sekitar 23,55%.

“Perekonomian Jateng masih di topang oleh industri pengolahan terutama garmen yang sudah sejak lama menjadi penyokong perekonomian masyarakat di beberapa kota yakni Semarang, Solo, dan Pekalongan,” ujarnya.

Jika industri pengolahan mengalami pertumbuhan, hal berbeda terjadi pada produksi pertanian. Industri sektor pertanian, kehutanan dan perikanan di Jateng selama 2017 justru mengalami penurunan sekitar 24,81%. Sementara dari sisi pengeluaran disebabkan komponen impor yang meningkat hingga 21,40% sementara komponen ekspor hanya tumbuh 1,68%.

Margo menjelaskan impor yang naik salah satunya disebabkan oleh beberapa perusahaan industri pengolahan yang masih bergantung dengan bahan baku dari luar negeri. Selain itu gaya hidup masyarakat yang sering menggunakan barang dari luar negeri menyebabkan impor di Jateng terus naik.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Murid Kencing Berlari, Guru (Honorer) Mati Seorang Diri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (5/2/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Pendidikan Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Bambang Ekalaya atau sering disebut Palgunadi adalah…