Sejumlah pekerja menyelesaikan pembangunan hunian relokasi bagi warga terdampak warga terdampak pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) di wilayah Desa Janten, Kecamatan Temon, Kulonprogo. Foto diambil pada akhir Agustus 2017. (Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja) Sejumlah pekerja menyelesaikan pembangunan hunian relokasi bagi warga terdampak warga terdampak pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) di wilayah Desa Janten, Kecamatan Temon, Kulonprogo. Foto diambil pada akhir Agustus 2017. (Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja)
Selasa, 6 Februari 2018 11:40 WIB Rima Sekarani I.N/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Belum Berdiri Bandara Kulonprogo Sudah Kerek Pertumbuhan Ekonomi

Sektor konstruksi yang bermunculan di kawasan NYIA turut pacu pertumbuhan.

Solopos.com, BANTUL–Perekonomian DIY selama 2017 tumbuh 5,26%, lebih tinggi dibanding pertumbuhan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 5,05%. Pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) dinilai mulai menunjukkan kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY JB Priyono mengatakan pertumbuhan tertinggi secara sektoral pada 2017 dicapai oleh lapangan usaha konstruksi, yaitu sebesar 6,94%. Menurutnya, salah satu faktor pendukung sektor konstruksi adalah pembangunan terkait proyek NYIA di Temon, Kulonprogo. Hal itu terutama berkat gencarnya pembangunan hunian relokasi bagi warga terdampak para triwulan keempat 2017. “Tahun 2016 belum terlihat karena masih fokus di pembebasan lahan, sehingga tidak seintens 2017,” ujar Priyono, Senin (5/2/2018).

Selain NYIA, Priyono juga menyebut pembangunan hotel baru di wilayah Bantul sebagai faktor pendukung pertumbuhan sektor konstruksi. Meski begitu, potensi paling tinggi tetap dipegang mega proyek bandara baru di Kulonprogo. Sektor konstruksi diyakini bakal semakin terangkat karena pembangunan fisik NYIA dimulai tahun ini.

Priyono mengungkapkan pertumbuhan tertinggi berikutnya adalah penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 6,21% serta jasa informasi komunikasi sebanyak 6,14%. “DIY adalah daerah tujuan wisata dan jasa pendidikan. Keduanya menggenjot kebutuhan akan akomodasi,” kata dia.

Semua lapangan usaha memberikan andil positif terhadap pertumbuhan ekonomi DIY pada 2017. Industri pengolahan menyumbangkan kontribusi terbesar, yaitu 0,74%. Lapangan usaha industri pengolahan menduduki peringkat kedua dengan andil sebesar 0,67%, disusul konstruksi 0,65%, penyediaan akomodasi dan makan minum 0,59%, jasa pendidikan 0,49%, serta perdagangan 0,48%.

“Sektor industri pengolahan masih mendominasi perekonomian DIY tapi pertumbuhan konstruksi tetap yang paling tinggi,” ucap Priyono menegaskan.

Sebelumnya, pengamat ekonomi dari Pusat Kajian Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran, Ardhito Binadi pernah menyebut proyek NYIA bakal memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi DIY pada 2018 ini. Mega proyek tersebut diyakini mampu mendorong peningkatan investasi daerah karena akan diikuti adanya aliran dana yang besar di DIY. Bukan hanya untuk pembangunan infrastruktur bandara melainkan juga pendukungnya, seperti kebutuhan untuk meningkatkan kualitas akses jalan dan pembangunan jalur kereta api baru menuju kawasan NYIA.

Pertumbuhan ekonomi DIY juga masih akan didukung tren leisure economy atau ekonomi liburan serta pesatnya perkembangan ekonomi digital. “Perekonomian DIY di tahun 2018 memang diprediksi akan membaik dibanding tahun-tahun sebelumnya,” ungkap dia.

Kolom

GAGASAN
Guru Honorer

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (7/2/2018). Esai ini karya Roko Patria Jati, dosen di Institut Agama Islam Negeri Salatiga. E-mail penulis adalah bee.ascholar@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Tragedi yang mencoreng dunia pendidikan Indonesia muncul lagi bak serial drama televisi yang terus…