Petugas kabin Transjogja menunjukkan ruang khusus penyandang disabilitas di Trans Jogja. Armada baru ini didesain lebih ramah bagi penyandang disabilitas. (Gilang Jiwana/JIBI/Harian Jogja) Petugas kabin Transjogja menunjukkan ruang khusus penyandang disabilitas di Trans Jogja. Armada baru ini didesain lebih ramah bagi penyandang disabilitas. (Gilang Jiwana/JIBI/Harian Jogja)
Senin, 5 Februari 2018 09:55 WIB Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Ramah Disabilitas, Trans Jogja Rencanakan Halte Rendah

Dek akan dibangun lebih rendah

Solopos.com, JOGJA-Halte Trans Jogja direncanakan akan lebih ramah bagi penyandang disabilitas pada 2022 mendatang. Perhentian angkutan publik ini akan dibangun dengan dek yang lebih rendah guna memudahkan penumpang dengan keterbatasan.

Riski Budi Utomo, Kasie Sarana dan Prasarana UPT Trans Jogja mengatakan, jika halte bus yang sifatnya portable saat ini memang belum ramah penyandang disabilitas. Bentuknya yang hanya seperti tangga tanpa jalur landai menyulitkan penyadang disabilitas memanfaatkannya dan terpaksa harus mencari halte lain terdekat.

“Kalau yang bus stop kan bentuknya tangga jadi memang yang disabilitas seperti menggunakan kursi roda tidak bisa mengakses,” katanya, Minggu (4/2/2018).

Oleh karena itu, Trans Jogja akan berbenah dengan menyediakan dek rendah sebagai perhentian bus setidaknya pada empat tahun mendatang. Menurut Riski, halte baru ini nantinya akan menempel langsung ke trotoar sehingga penyandang disabilitas bisa langsung mengaksesnya.

Disesuaikan pula dengan bentuk unit bus Trans Jogja yang bagian dek-nya juga rendah. Kemudian, di bagian halte itu akan dipasangi penyekat sebagai rambu-rambu bahwa titik tersebut merupakan area perhentian bus.

Ia mengatakan, jika hal ini masih sesuai dengan SK Dirjen Nomor 272/1996 tentang Pedoman Teknis Perekayasaan Tempat Perhentian Kendaraan Penumpang Umum. Dalam regulasi itu dikatakan jika perhentian kendaraan berpenumpang umum terdiri dari dua tipe yakni halte dengan bangunan dan bus stop yang dilengkapi fasilitas pendukung baik rambu maupun tangga.

Lebih lanjut, pihak pengelola Trans Jogja sebenarnya menyadari kekurangan ini sedari awal. Hanya saja, halte portable ini dibutuhkan sebagai alternatif keterbatasan lahan. Sebelumnya, pernah dilakukan kajian pula mengacu pada bentuk halte bus yang diterapkan di Kolombia.

Halte di negara itu ramah penyandang disabilitas karena modelnya yang menggunakan hidrolik sehingga bisa mekanismenya bisa mendongkrak kursi roda. Hanya saja, sistem ini membutuhkan biaya yang sangat tinggi untuk diterapkan sehingga belum bisa diwujudkan di DIY.

Rencana ini menjawab keluhan beberapa pihak terkait fasilitas publik di DIY yang belum sepenuhnya ramah bagi penyandang disabilitas. Yayasan Sentra Advokasi Perempuan, Difabel dan Anak (SAPDA) Yogyakarta sempat menggelar audit sosial pada akhir tahun lalu di beberapa kota di Indonesia termasuk pula empat kabupaten dan satu kota di DIY.

Hasilnya, ada beberapa fasilitas publik yang sudah berusaha ramah bagi penyandang disabilitas, tetapi belum sepenuhnya. “Belum fully accessible, jadi penyandang disabilitas masih butuh bantuan,” kata Nurul Saadah Andriani, Ketua SAPDA.

Jalur landai pada beberapa fasilitas publik sendiri menjadi salah satu infrastruktur yang paling gampang dijumpai sebagai penanda ramah disabilitas. Hanya saja, masih sangat banyak fasilitas publik tanpa jalur landai atau rute yang dibangun terlalu curam sehingga tetap menyulitkan.

lowongan pekerjaan
SALESMAN/GIRL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Urgensi Mendesain Ulang Prolegnas

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (14/2/2018). Esai ini karya Isharyanto, dosen Hukum Tata Negara di Universita Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah isharyantoisharyanto8@gmail.com.  Solopos.com, SOLO–Sidang paripurna DPR di ujung 2017 lalu dibuka dengan laporan 50 rancangan undang-undang (RUU)…