Ilustrasi pupuk. (JIBI/Semarangpos.com) Ilustrasi pupuk. (JIBI/Semarangpos.com)
Senin, 5 Februari 2018 10:20 WIB David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

Petani Gunungkidul Berharap Distribusi Pupuk Lancar

Ketidaklancaran distribusi pupuk membuat biaya membengkak

Solopos.com, GUNUNGKIDUL-Proses distribusi pupuk masih menjadi kendala bagi pentane di Gunungkidul. Mereka pun berharap kelancaran dalam distribusi bisa dijaga sehingga hasil panen dapat lebih maksimal.

Salah satu harapan agar ada jaminan distribusi pupuk disuarakan oleh Ketua Kelompok Tani Ngudi Mulyo di Desa Bendung, Kecamatan Semin Sakino. Menurut dia, distribusi pupuk belum lancar karena masih ada keterlambatan pengiriman sehingga pasokan ke petani menjadi terganggu.

“Contohnya terjadi pada Oktober lalu saat masa tanam pertama dimulai. Saat itu, pupuk bersubsidi datang terlambat sehingga petani sempat mengalami kesulitan mendapatkan pasokan,” kata Sakino kepada Solopos.com, Sabtu (3/2/2018).

Ia mengaku tidak tahu penyebab terjadinya keterlambatan dalam pasokan, apakah terjadi mulai dari tingkat distributor, agen dan pengecer. Menurut Sakino, keterlambatan pasokan akan berpengaruh terhadap masa pemeliharaan tanaman. “Intinya kami berharap agar pasokan terus lancar sehingga upaya pemeliharaan tidak mengalami kendala sehingga panen yang dihasilkan dapat maksimal,” ungkapnya.

Pada saat terjadi kelangkaan pupuk bersubsidi, para petani terpaksa membeli pupuk dengan harga normal. Kondisi ini pun berdampak terhadap biaya yang dikeluarkan para petani karena harga pupuk non subsidi lebih mahal. “Harganya dua kali lipat lebih mahal dari pupuk bersubsidi. Jadi kalau pasokannya tidak lancar, tidak hanya mengganggu masa pemeliharaan, tapi juga biaya yang dikeluarkan lebih banyak,” imbuhnya.

Untuk mengantisipasi masalah kelangkaan pupuk bersubsidi, para petani di Desa Bendung tidak hanya mengandalkan pupuk nonsubsidi. Namun, pada saat pemeliharaan juga sering memanfaatkan keberadaan pupuk organik cair. “Tapi, masalahnya untuk penggunaan pupuk organik lebih ribet karena penyemprotan yang dilakukan lebih sering ketimbang menggunakan pupuk kimia,” katanya.

Hal tak jauh berbeda diungkapkan Ketua Kelompok Petani Dusun Selang III, Selang, Wonosari Sudadi. Menurut dia, keberadaan pupuk sangat penting bagi petani. Oleh karena itu, pemerintah diminta dapat menjamin ketersediaan pasokan.

Sudadi pun berharap dengan adanya kartu tani dapat memberikan manfaat bagi petani. Terlebih lagi, pada prosesnya kartu tersebut akan digunakan sebagai sarana pemeberian bantuan secara langsung ke petani. “Memang saat ini belum difungsikan, tapi kartu tani akan dijadikan sarana pemberian bantuan ke petani secara langsung berdasarkan berdasarkan atas kelompok,” katanya.

lowongan pekerjaan
PT. Astra International Tbk-isuzu, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Darmanto Jatman Bercerita Jawa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (15/01/2018). Esai ini karya Bandung Mawardi, seorang kritikus sastra. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Rumah dalam pemahaman peradaban Jawa adalah ruang hidup untuk menjadikan manusia ada dan berada. Pemahaman itu menunjukkan konstruksi…