Sejumlah tokoh ikut meletakkan batu pertama pembangunan Masjid Taman Sriwedari, Solo, Senin (5/2/2018). (Nicolous Irawan/JIBI/SOLOPOS) Sejumlah tokoh ikut meletakkan batu pertama pembangunan Masjid Taman Sriwedari, Solo, Senin (5/2/2018). (Nicolous Irawan/JIBI/SOLOPOS)
Senin, 5 Februari 2018 15:15 WIB Ivan Andimuhtarom/JIBI/SOLOPOS Solo Share :

PENATAAN SRIWEDARI
Ganjar Absen, Sejumlah Tokoh Letakkan Batu Pertama Tanda Pembangunan Masjid Sriwedari Dimulai

Pemkot Solo terus jalankan pembangunan Masjid Sriwedari.

Solopos.com, SOLO—Pemerintah Kota (Pemkot) Solo meneruskan rencana pembagunan Masjid Taman Sriwedari di lahan bekas Taman Hiburan Remaja (THR) Sriwedari seiring dengan dilaksanakannya peletakan batu pertama Senin (5/1/2018).

Sedianya Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dijadwalkan melakukan peletakan batu pertama masjid ini. Akan tetapi, ia batal hadir karena mengikuti rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) di Semarang. Ia pun diwakili oleh Kepala Biro (Karo) Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Supriyono.

Agenda besar Pemkot Solo tersebut sempat terkendala hujan yang turun sedari pagi. Acara yang mulanya dijadwalkan mulai pukul 09.00 WIB sedikit molor menjadi pukul 10.00 WIB. (baca: Pembangunan Masjid Sriwedari Bikin Kajian Solo sebagai Kawasan Strategis Nasional Sia-Sia)

Selain Supriyono, beberapa tokoh berkesempatan meletakkan batu disertai adukan pasir dan semen seperti Wakil Wali Kota (Wawali) Solo sekaligus Ketua Panitia Pembangunan Masjid Taman Sriwedari, Achmad Purnomo, Ketua DPRD Solo Teguh Prakosa, Wakil Ketua MUI Solo, Wahid Ismanto, dan Sekda Kota Solo, Budi Yulistianto.

Acara itu dihadiri berbagai pihak seperti unsur TNI, Polri, Kejaksaan, dan para pejabat. Pantauan Solopos.com, turut hadir dalam acara tersebut adalah Wakil Bupati Sragen, Dedy Endriyantno, dan Wakil Bupati Wonogiri, Edy Santosa. Para aparatur sipil negara (ASN) juga diundang dalam acara tersebut.

Wakil Ketua MUI Solo, H. Wahid Ismanto, mengharapkan segenap masyarakat Kota Solo bisa mendukung terwujudnya masjid di bekas Bon Raja (Kebon Raja) tersebut. Selajutnya, setelah masjid selesai dibangun, ia mengajak umat Islam pada khususnya untuk memakmurkan masjid dengan bujet sekitar Rp160 miliar itu.

“Nanti dengan berbagai elemen yang ada di Kota Solo kami akan membahas kegiatan-kegiatan yang perlu disusun agar masjid ini tidak sepi dari kegiatan-kegiatan keagamaan,” ujarnya saat berbincang dengan wartawan seusai acara peletakan batu pertama Masjid Taman Sriwedari, Senin.

Ia menjelaskan, MUI sudah memiliki gagasan mengadakan berbagai kegiatan termasuk mengumpulkan para takmir masjid di Kota Solo. Ia tak ingin para takmir masjid justru saling gontok-gontokan menyikapi keberadaan masjid tersebut.

“Kami akan berusaha mengumpulkan para takmir agar masjid di pusat kota itu bisa memiliki kegiatan keagamaan yang semarak. Kami ingin semuanya menyatu dalam kegiatan,” tuturnya.

Tak hanya itu, MUI juga berencana menggandeng Dewan Masjid Indonesia (DMI) Solo untuk menyusun kegiatan-kegiatan keagamaan itu.

“Kalau sudah ada DMI, mengapa tidak dimanfaatkan? Sudah ada DMI, sudah ada takmir masjid , semuanya untuk memakmurkan masjid ini,” kata dia.

Ketua Panitia Pembangunan Masjid Taman Sriwedari, Achmad Purnomo, mengatakan masjid yang terinspirasi oleh arsitektur Jawa gaya Mataraman itu bakal menempati lahan seluas 17.200 meter persegi. Pelaksanaan pembangunan ditargetkan selesai maksimal dalam jangka dua tahun.

“Kami memohon doa dan restu bapak-ibu sekalian agar proses pembangunan masjid berjalan lancar. Kelak masjid ini akan menjadi masjid indah yang jadi kebanggaan masyarakat Kota Solo,” kata dia dalam sambutannya.

Ditemui seusai peletakan batu pertama, Purnomo mengatakan sesuai laporan Seksi Dana, sudah ada BUMN yang berkomitmen membantu pendanaan masjid itu. Ia mengatakan sesuai dengan komitmen tersebut, penghitungan dana terkumpul adalah Rp160 miliar.

“Ini dengan perubahan tinggi menara yang tadinya 99 meter menjadi 114 meter anggarannya menjadi Rp162,5 miliar. Sebelumnya anggarannya Rp151 miliar,” terangnya kepada wartawan.

Terkait adanya pihak yang tidak setuju dengan pembangunan masjid di lahan Taman Sriwedari, Purnomo mempersilakan pihak-pihak itu menempuh jalur hukum. Yang jelas, kata dia, ia dan panita hanya dipasrahi membangun masjid seindah mungkin.

“Taman masjid akan luar biasa jadi tidak mengurangi nilai dan wacana daripada Sriwedari yang dulunya taman,” katanya.

Kabiro Kesra Setda Provinsi Jateng, Supriyono, menyatakan Gubernur tak dapat hadir
ada kegiatan rapat Forkopimda Provinsi Jateng. Gubernur menugaskannya hadir mewakili sekaligus membacakan sambutan tertulis Gubernur.

Dalam sambutan yang dibacakan Supriyono, Ganjar mengatakan merasa yakin pembangunan masjid dilandasari atas dasar ketakwaan. Ia meminta masjid dimakmurkan setelah bangunan selesai dikerjakan.

“Jadi grengsengnya itu ada. Selain untuk salat, masjid juga jadi pusat peribadatan umat,” kata dia.

Ia meminta seluruh kalangan usia diperkenalkan untuk beribadah di masjid. Dengan demikian, masjid tak akan pernah sepi.

“Sibukkan para remaja dengan masjid. Kalau dilakukan, akan banyak muncul pemikiran, ide, gagasan yang kreatif dan inovatif untuk syiar Islam dan pembangunan bangsa,” tutur dia.

Sementara itu, Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, mengatakan pembangunan masjid itu sesuai permohonan dari warga yang ingin ada masjid di jalan protokol Kota Solo. Ia memaknai jalan protokol dengan Jl. Slamet Riyadi.

“Ke depan, yang akan menikmati adalah anak cucu kita,” kata dia.

lowongan pekerjaan
PT. Astra International Tbk-isuzu, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Visi Pedagogis Daoed Joesoef

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (27/01/2018). Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015) dan Pembaca Serakah (2017). Alamat e-mail penulis adalah fauzi_sukri@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Indonesia, khususnya dunia pendidikan, kehilangan sosok pemikir pedagogis tangguh yang…