Pengendara melintasi jalan Pakis-Wonosari yang rusak di Dukuh Jaten, Desa Teloyo, Kecamatan Wonosari, Klaten, Senin (5/2/2018). (Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos) Pengendara melintasi jalan Pakis-Wonosari yang rusak di Dukuh Jaten, Desa Teloyo, Kecamatan Wonosari, Klaten, Senin (5/2/2018). (Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos)
Senin, 5 Februari 2018 23:35 WIB Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos Klaten Share :

INFRASTRUKTUR KLATEN
 Geram, Warga Tanam Pohon Pisang di Lubang Jalan Pakis-Wonosari

Warga Wonosari, Klaten, menanam pohon pisang di lubang-lubang sepanjang jalan Pakis-Wonosari.

Solopos.com, KLATEN — Jalan penghubung Pakis-Wonosari di Dukuh Jaten, Desa Teloyo, Kecamatan Wonosari, Klaten, rusak parah. Warga memasang dua batang pohon pisang di tengah jalan sebagai rambu-rambu peringatan bagi pengguna jalan agar berhati-hati.

Jalan rusak itu mulai dari SPBU Wonosari ke barah hingga mendekati Kantor Desa Teloyo. Kerusakan paling parah ada di Dukuh Jaten sepanjang sekitar 100 meter. Kerusakan menimbulkan kubangan dengan diameter bervariasi hingga paling besar sekitar satu meter.

Warga setempat, Bibit Sanjaya, 40, menuturkan jalan itu rusak sejak sekitar tujuh bulan terakhir. Kerusakan makin parah saat musim hujan lantaran jalan makin sering tergenang dan tertimpa kendaraan dengan muatan berat.

“Saat hujan, rata-rata terjadi genangan setinggi mata kaki orang dewasa. itu saat posisi jalan masih rata. Memang enggak lama tergenangnya tapi kalau sering bikin jalan cepat rusak,” kata dia saat ditemui Solopos.com di jalan Pakis-Wonosari, Dukuh Jaten, Desa Teloyo, Wonosari, Senin (5/2/2018).

Bibit mengatakan genangan kerap terjadi saat hujan karena di sisi utara jalan tidak terdapat saluran air. Saluran air hanya ada di sisi selatan jalan. Namun, posisi saluran air lebih tinggi ketimbang jalan.

Air pun tak bisa mengalir dan menggenangi badan jalan. “Saat jalan ada genangan dan ditimpa kendaraan bermuatan berat itu yang bikin jalan lekas remuk,” beber warga Dukuh Jaten, Desa Teloyo.

Pemerintah sebetulnya pernah memperbaiki jalan itu. Namun, perbaikan itu hanya dengan tambal sulam sehingga konstruksinya kurang kuat dan hanya bertahan sekitar tiga hari.

Tak hanya itu, warga sekitar juga berulang kali swadaya memperbaiki menggunakan semen. Namun, jalan kembali rusak. “Warga kapok dan sekarang memilih memasang pohon bamboo untuk tanda agar orang berhati-hati.”

Jalan rusak kerap memicu kecelakaan lalu lintas yang didominasi kendaraan roda dua. Pengendara kerap terpeleset atau terpental saat menghantam lubang.

“Korbannya warga sini ada, warga luar kota seperti Wonogiri, Jogja, dan lainnya juga tak sedikit,” imbuh dia.

Ia berharap jalan itu lekas diperbaiki demi kelancaran dan keamanan berlalu lintas.

Lowongan Pekerjaan
Kepala Sekolah KB & TKIT Alhikam Delanggu, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Murid Kencing Berlari, Guru (Honorer) Mati Seorang Diri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (5/2/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Pendidikan Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Bambang Ekalaya atau sering disebut Palgunadi adalah…