Peserta beradu cepat saat mengikuti Lomba Dayung Perahu di Kali Pepe, Sudiroprajan, Jebres, Solo, Senin (5/2/2017). (Nicolous Irawan/JIBI/Solopos) Peserta beradu cepat saat mengikuti Lomba Dayung Perahu di Kali Pepe, Sudiroprajan, Jebres, Solo, Senin (5/2/2017). (Nicolous Irawan/JIBI/Solopos)
Senin, 5 Februari 2018 18:35 WIB Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos Solo Share :

IMLEK 2018
Yang Seru dan Lucu di Lomba Perahu Dayung Kali Pepe Solo

Lomba dayung perahu dalam rangkaian Grebeg Sudiro 2018 menjelang peringatan Tahun Baru Imlek 2018 berlangsung seru.

Solopos.com, SOLO — Lorentina Gladis Santoso, 8, buru-buru menarik tangan sang nenek setelah mendengar riuh tepuk tangan dan sorakan ratusan orang di bantaran Kali Pepe wilayah Taman Parkir Loji Wetan, Kelurahan Kedung Lumbu, Pasar Kliwon, Senin (5/2/2018) sore.

Dia meminta kepada sang nenek, Sri Wahyuni, 66, untuk berjalan cepat menuju ke arah bibir sungai dari lokasi parkir. Gadis kecil kelas II sekolah dasar (SD) itu sudah tidak sabar ingin menyaksikan penampilan para peserta lomba dayung dalam event Grebeg Sudiro 2018 itu.

Setelah berdesak-desakan dengan penonton lain, Lorentina dan Sri Wahyuni akhirnya memperoleh tempat yang cukup strategis untuk bisa menyaksikan lomba dayung. Tidak mau ketinggalan, Lorentina yang sudah berada dekat bibir sungai lantas ikut bertepuk tangan dan berteriak guna memberikan semangat kepada para peserta lomba dayung tingkat Kota Solo tersebut.

Baca:

IMLEK 2018 : Catat! Ini Jadwal Event Grebeg Sudiro 2018

Wisata Air Kali Pepe Solo Dibuka Mulai 5 Februari, Ini Fasilitasnya

Dia juga ikut tertawa manakala ada kejadian lucu yang ditunjukkan peserta lomba baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Salah satu contoh kejadian lucu yang akhirnya menimbulkan gelak tawa Lorentina maupun ratusan penonton lain di Taman Parkir Loji Wetan ada momen di mana peserta lomba yang seharusnya fokus mendayung malah saling ciprat-cipratan.

Ada juga kelompok peserta yang tampak begitu bersemangat mengikuti lomba namun ternyata kesulitan mengarahkan perahu keret mereka ke arah yang tepat. Perahu karet yang ditumpangi kelompok peserta tersebut bukannya maju ke depan, malah putar balik dan bahkan berputar-putar di satu lokasi sehingga membuat penonton terbahak-bahak.

Lorentina mengaku terhibur dengan penyelenggaraan lomba perahu dayung di Kali Pepe yang diikuti puluhan kelompok peserta asal Solo tersebut. Saking terhiburnya, dia bahkan ingin menjajal bisa menaiki perahu karet di Kali Pepe.

Nenek Lorentina yang merupakan warga RT 004/RW 011 Kelurahan Sangkrah berharap Pemkot Solo bisa menyediakan wahana perahu di Kali Pepe yang bisa digunakan masyarakat. Jika memungkinkan perahu disediakan bukan saja saat digelar Grebeg Sudiro atau Perayaan Tahun Baru Imlek.

“Sangat menarik ya. Penyelenggaraan lomba dayung ini bisa jadi hiburan masyarakat. Saya lihat penonton lain juga antusias menyaksikan lomba. Buktinya semuanya pada teriak-teriak saat peserta tiba mulai kelihatan,” kata Sri Wahyuni saat ditemui Solopos.com di sela-sela menyaksikan lomba di Taman Parkir Loji Wetan, Senin.

Penyelenggaraan lomba perahu dayung pada event Grebeg Sudiro 2018 merupakan kali kedua setelah yang pertama diadakan tahun lalu. Pada 2017, peserta lomba dayung hanya 11 tim dan khusus peserta dari wilayah Kecamatan Jebres.

Sedangkan kali ini, jumlah peserta mencapai 47 tim setelah statusnya diperlebar jangkauannya menjadi lomba tingkat Kota Solo. Sebagain besar tim merupakan perwakilan kelurahan yang mendaftar. Namun, ada juga dari kalangan swasta yang turun mengirim tim, seperti RS dr. Oen.

Lomba perayu dayung kali ini dibuka Wakil Wali Kota Solo Achmad Purnomo mewakili Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo yang berhalangan hadir karena harus ke Jakarta. Karena jumlah peserta yang cukup banyak, lomba dayung pada Grebeg Sudiro 2018 bakal diadakan selama lima hari hingga Jumat (9/2/2018).

Ketua Panitia Grebeg Sudiro 2018, Bul Hartomo, menyampaikan tujuan lomba dayung itu yakni untuk memberikan motivasi kepada masyarakat Solo khususnya yang mengikuti lomba untuk semakin menyadari pentingnya budaya gotong royong. Selain itu, tidak kalah penting, yakni mempromosikan gerakan menjaga kebersihan sungai.

“Kami bekerja sama dengan Sekolah Sungai dan BPBD Solo mengadakan lomba dayung untuk memberikan motivasi kepada masyarakat Solo agar semakin menyadari pentingnya menjaga budaya gotong royong. Kami juga ingin mengajak masyarakat agar merasa memiliki dan berkeinginan mengamankan aset sungai. Kondisi sungai mesti dikembalikan seperti tempo dulu, yakni bersih dan asri,” jelas Hartomo saat ditemui Solopos.com di jembatan Pasar Gede yang jadi lokasi start lomba dayung.

Panitia Grebeg Sudiro 2018 mengadakan lomba perahu dayung juga untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan perangkat perahu karet sehingga punya keterampilan siaga banjir. Sementara itu, berdasarkan pantauan Solopos.com, lomba dayung bukan saja ditonton masyarakat Solo dan sekitarnya, melainkan juga para pejabat Pemkot terutama para lurah yang awalnya hadir untuk mendukung warganya.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…