Lampu lampion perayaan Tahun Baru Imlek di depan Pasar Gede Solo diuji coba, Senin (5/2/2018) malam. (Nicolaus Irawan/JIBI/Solopos) Lampu lampion perayaan Tahun Baru Imlek di depan Pasar Gede Solo diuji coba, Senin (5/2/2018) malam. (Nicolaus Irawan/JIBI/Solopos)
Senin, 5 Februari 2018 21:49 WIB Ivan Andimuhtarom/JIBI/Solopos Solo Share :

IMLEK 2018
Nyala Lampion Tahun Baru Imlek Solo Diuji Coba, Begini Suasananya

Panitia Perayaan Tahun Imlek 2018 Kota Solo menguji coba nyala lampion di depan Pasar Gede.

Solopos.com, SOLO — Panitia Bersama Solo Imlek 2018/2589 menguji coba nyala lampu lampion di sekitar Pasar Gede, Solo, Senin (5/2/2018) malam. Penyalaan secara intens baru bisa dilakukan setelah lampion berbentuk gapura di Jembatan Pasar Gede selesai dipasang.

Pantauan Solopos.com, warga memadati jalan yang dinaungi lampion di depan Pasar Gede, Solo untuk menyaksikan uji coba tersebut. Mereka turun ke badan jalan di antaranya kendaraan yang berseliweran. Jalan di depan pasar itu belum bagi kendaraan karena agenda malam itu baru sebatas uji coba nyala lampion.

Warga yang berdatangan sebelum uji coba dimulai terlihat antusias ingin mengambil foto. Guyuran hujan pada Senin malam tak menghalangi antusiasme warga. Setelah hujan reda, jalanan kembali ramai oleh warga yang kebanyakan berfoto dengan latar belakang ribuan lampion yang sudah menyala.

Salah seorang warga, Ari, mengaku antusias. Pria lajang itu datang khusus ke Pasar Gede untuk mengabadikan indahnya lampion dengan kamera smartphone-nya. “Ini untuk dokumentasi,” kata dia.

Ketua Panitia Bersama Solo Imlek 2018/2589, Sumartono Hadinoto, mengatakan penyalaan lampion di atas Tugu Jam Pasar Gede dilakukan sekitar pukul 19.30 WIB. Sementara rangkaian lampion di sekitar Pasar Gede sudah dinyalakan sebelumnya.

“Penyalaan secara reguler akan kami lakukan Kamis [8/2/2018] sampai Cap Go Meh pada 4 Maret mendatang,” katanya saat berbincang dengan wartawan di Pasar Gede, Senin malam.

Sumartono menjelaskan pada Tahun Anjing Tanah 2569 ini panitia memasang sekitar 5.000 lampion. Jumlah itu tak jauh berbeda dibanding tahun lalu. “Gapura kami targetkan selesai Rabu [7/2/2018]. Pemasangan gapura hanya bisa dilakukan malam hari. Nah, saat dipasang itu, lampion harus mati, tak boleh dinyalakan. Bisa kesetrum,” kata dia.

Selain lampion, panitia juga bakal memasang 12 shio, lampion Dewa Uang, lampion Punakawan, lampion Werkudara dan lima patung shio anjing yang terbuat dari rotan. Lima patung shio anjing tersebut dibuat dengan bantuan FSRD Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo.

“Lampion Punakawan akan dipasang di sekitar Pasar Gede. Sementara lampion Werkudara akan kami carikan tempat yang strategis. Yang jelas menunggu gapuranya selesai dulu,” tutur dia.

CEO Palang Merah Indonesia (PMI) Solo tersebut menilai keberadaan berbagai jenis lampion adalah bentuk akulturasi budaya yang nyata. Ia menilai perayaan Tahun Baru Imlek itu kini sudah menjadi milik wong Solo.

Menurut dia, pelaksanaan perayaan Tahun Baru Imlek ini membuat misi panitia makin terwujud. Ia menyebut misi itu antara lain adalah membuat seluruh masyarakat Kota Solo yang dikenal majemuk merasa handarbeni (ikut memiliki) kegiatan Tahun Baru Imlek.

“Solo adalah kota majemuk. Kami berharap semua berkontribusi dalam perayaan Tahun Baru Imlek ini untuk mengangkat nama Solo,” kata dia.

Misi selanjutnya, panitia memiliki mimpi besar agar Solo yang diakui sebagai kota ternyaman di Indonesia itu menjadi salah satu destinasi wisata Imlek di Indonesia. “Saya senang karena bisa dilihat ekonomi kerakyatan bergeliat di sekitar Pasar Gede,” tuturnya.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…