Ihsan Andriyono. (Harian Jogja/Sekar Langit Nariswari) Ihsan Andriyono. (Harian Jogja/Sekar Langit Nariswari)
Senin, 5 Februari 2018 10:55 WIB Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Di Era Teknologi, Kehadiran Mereka Masih Penting

Mereka harus memastikan rel sejauh 360 kilometer klir dari segala macam gangguan

Solopos.com, JOGJA-Keberadaan petugas pemeriksa jalur kereta api masih sangat dibutuhkan karena perilaku sebagian orang di Indonesia sangat membahayakan perjalanan kereta api. Di wilayah kerja PT KAI Daop 6 yang mencakup DIY dan sebagian Jawa Tengah, rel sejauh 360 kilometer dicek saban hari, oleh orang-orang berkaki kuat yang bakal merasa pegal-pegal ketika mereka tidak berjalan jauh.

Ihsan Andriyono memulai rutinitasnya pada dini hari, sekitar pukul 02.00 WIB. “Biasanya saya bangun jam dua pagi, menyiapkan buku dan peralatan. Kemudian harus mulai jalan jam setengah empat,” kata pria berambut cepak, nyaris gundul, yang usianya sudah nyaris setengah abad.

Peralatan yang pantang dia lewatkan adalah jas hujan, sepatu bot, dan senter. Ihsan adalah tipe manusia langka. Ketika kebanyakan orang masih terlelap di balik selimut, dia sudah harus bekerja seorang diri. Rute pertama ialah Stasiun Sumberlawang, Sragen, menuju Stasiun Goprak, Grobogan. Dalam aplikasi Maps bikinan Google, jauhnya 12 kilometer.

Waktu untuk menempuh jarak itu selama 22 menit menggunakan mobil dan satu jam 47 menit dengan berjalan kaki. Lintasan kerja Ihsan, yakni rel sepur, lebih pendek, sekitar 7,8 kilometer. Dia kudu menyelesaikan tugasnya dari Sumberlawang ke Goprak dalam dua jam, tidak lebih atau kurang. Ritme langkah kakinya diatur agar kecepatannya empat kilometer per jam. Rute sebaliknya dijalani mulai pukul 15.30 WIB, dengan ketentuan dan beban yang sama.

Di antara teman sejawatnya yang sama-sama menyusuri rel, jalur yang dilalui Ihsan tergolong paling jauh. “Rute pertama di pagi hari sangat berat,” kata mantan sekuriti ini.

Selepas subuh, halimun biasanya belum pergi dan itu membatasi jarak pandang Ihsan. Belum lagi jika hujan lebat turun. Dalam kesendirian dan berjalan kaki, dia harus tetap menyorotkan senter yang mengeluarkan cahaya kuning. “Cahaya kuning bisa menembus kabut, kalau cahaya putih tidak bisa, mentok,” ujar dia.

Selama bekerja, Ihsan mematikan peralatan elektronik agar dia bisa lebih fokus. Tugas-tugas wajib yang mesti dia tuntaskan meliputi; rel bersih dari batu, tak ada tanah ambles di sekitar rel, tidak ada tanah yang menutupi rel, hingga memperbaiki sekrup rel yang kerap dicuri maling.

Area yang kudu dia cermati adalah rel sejauh satu kilometer dari Sumberlawang ke Goprak yang dikepung tebing. Jika hujan, longsor biasanya menutup jalur sepur. “Saya sering menyingkirkan batu yang disusun di rel, biasanya disusun anak-anak yang iseng. Saya juga kerap menyingkirkan bangkai binatang.”

Penjamin Keamanan
Ihsan dan puluhan teman-temannya mengikuti pelatihan PPJ yang digelar selama dua hari dua pekan lalu di Kantor PT KAI Daop 6, Kotabaru, Gondokusuman, Kota Jogja. Manajer Humas PT KAI Daop 6 Eko Budiyanto mengatakan ada setidaknya 71 orang PPJ yang bekerja di bentang wilayah Daop 6. Mereka harus memastikan rel sejauh 360 kilometer klir dari segala macam gangguan dan aman untuk perjalanan kereta.

“Rute dan jaraknya berbeda-beda, sesuai jadwal dan grafis perjalanan. Jalur kereta api di Indonesia belum steril, berbeda dari kondisi di Tiongkok maupun Jepang. Jadi harus selalu dicek setiap hari,” kata Eko.

Gangguan yang paling sering dialami lintasan kereta api adalah pencurian baut. “Sehingga di era serba teknologi seperti sekarang, saat hampir semuanya bisa dipantau secara online, jasa petugas pemeriksa jalur tetap sangat dibutuhkan demi keamanan kereta api.”

Ihsan sudah bekerja empat tahun sebagai petugas pemeriksa jalur (PPJ) di PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi (Daop) 6. Tiap hari dia berjalan sekurangnya 15 kilometer. Pulang pergi Sumberlawang-Goprak. Ihsan bekerja enam hari dalam sepekan dan libur tiap Kamis.

Dia sudah tiga kali membeli sepatu khusus yang solnya tidak mudah aus untuk berjalan melewati rel. Itu berarti dua kali lebih banyak daripada jatah sepatu yang dibagikan oleh PT KAI setiap tahunnya. Dia sudah terbiasa dengan beban itu. Masa paling berat sepekan pertama. Kala itu, Ihsan merasa perjalanannya tak berujung dan pulang dengan seluruh badan, terutama kaki, yang pegal. Pada bulan-bulan awal, dia meminta sang istri membalurkan minyak ke seluruh tubuhnya. Sekarang malah sebaliknya, tubuhnya pegal-pegal saat tidak bekerja. “Mungkin sudah seperti olahraga.”

LOKER SOLO
Siapa Mau Kerja di Dealer ASTRA, Cek Syaratnya di Sini, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Murid Kencing Berlari, Guru (Honorer) Mati Seorang Diri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (5/2/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Pendidikan Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Bambang Ekalaya atau sering disebut Palgunadi adalah…