Warga Galih, Sumber, Purwantoro, Wonogiri, mengungsi di salah satu SD di desa setempat, Minggu (5/2/2018). (Istimewa/BPBD Wonogiri) Warga Galih, Sumber, Purwantoro, Wonogiri, mengungsi di salah satu SD di desa setempat, Minggu (5/2/2018). (Istimewa/BPBD Wonogiri)
Senin, 5 Februari 2018 19:35 WIB Rudi Hartono/JIBI/Solopos Wonogiri Share :

BENCANA WONOGIRI
Rumah Terancam Longsor, 78 Keluarga Purwantoro dan Kismantoro Mengungsi

Sebanyak 78 keluarga di Purwantoro dan Kismantoro, Wonogiri, mengungsi karena rumah mereka terancam longsor.

Solopos.com, WONOGIRI — Rekahan tanah di lokasi rawan longsor Dusun Galih, Desa Sumber, Kecamatan Purwantoro, dan Dusun Joho, Desa Gedawung, Kecamatan Kismantoro, Wonogiri, semakin besar seiring musim penghujan yang masih berlangsung. Puluhan warga yang berpotensi terdampak tanah retak kini mengungsi.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri, Bambang Haryanto, saat dihubungi Solopos.com, Senin (5/2/2018), menyampaikan warga terancam longsor itu hingga Senin masih mengungsi. Hal itu karena kondisi tanah di kedua lokasi rawan longsor masih labil.

Rekahan tanah di kedua tempat tersebut panjangnya ratusan meter. Lokasinya di perbukitan yang dijadikan kawasan permukiman warga.

“Pengungsian di Sumber [Purwantoro] ada satu posko, yakni di SDN 1 Sumber. Kalau pengungsian di Gedawung [Kismantoro] ada dua posko di rumah warga. Logistik dan kebutuhan lainnya sudah mencukupi,” kata Bambang.

Dia menginformasikan pengungsi di dua wilayah itu totalnya ada 78 keluarga dengan 298 jiwa. Perinciannya, di Sumber ada 88 jiwa dari 28 keluarga, 27 keluarga di antaranya mengungsi di posko, sedangkan satu keluarga lainnya mengungsi di rumah saudara mereka di desa lain.

Di posko terdapat posko kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) dan dapur umum dari Dinas Sosial (Dinsos). Pengungsi di Gedawung terdapat 210 jiwa dari 50 keluarga. Mereka mengungsi saat hujan mengguyur, karena hujan membuat potensi tanah longsor semakin besar.

Bambang melanjutkan berdasar pantauan di lokasi rawan di area permukiman Dusun Galih, tanah terus bergerak sehingga rekahan semakin lebar dan dalam. Air terlihat menggenang di dasar rekahan.

Tanah masih dimungkinkan bergerak terus jika hujan mengguyur. Pantauan di lokasi tanah bergerak di salah satu rumah warga yang sudah terdampak, kedalaman rekahan mencapai 260 cm. “Sudah ada upaya memperlambat gerakan tanah dengan cara rekahan diuruk,” imbuh Bambang.

Tanah bergerak diketahui Kamis (1/2/2018) siang setelah early warning system (EWS) mengeluarkan tanda peringatan saat terjadi pergeseran tanah. Ketika itu kalibrasi tercatat 15 cm.

Pada pukul 22.00 WIB, EWS kembali berbunyi saat kalibrasi tercatat 10 cm. Kala itu 88 warga berpotensi terdampak diungsikan ke tempat aman. Rekahan di lokasi rawan longsor di Dusun Joho, juga semakin lebar.

Sebelumnya para sukarelawan, personel TNI, dan polisi menguruk rekahan. Tanah bergerak mengakibatkan tembok di tujuh unit rumah retak dan dua unit rumah miring. Dua rumah tersebut terpaksa dibongkar karena sangat berpotensi runtuh. Kejadian tersebut mengancam 210 jiwa dari 50 keluarga. Pihak terkait telah menyiapkan posko pengungsian.

Kepala Desa (Kades) Gedawung, Suradi, hingga berita ini ditulis belum dapat dimintai konfirmasi mengenai kondisi terkini lokasi rawan longsor di Joho.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Murid Kencing Berlari, Guru (Honorer) Mati Seorang Diri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (5/2/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Pendidikan Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Bambang Ekalaya atau sering disebut Palgunadi adalah…