Ketua DPRD Karanganyar, Sumanto, menanam bibit pohon di bantaran Sungai Bengawan Solo, tepatnya di Dukuh Gunungmijil, Ngringo, Jaten, Karanganyar, Minggu (4/2/2018). (Sri Sumi Handayani/JIBI/SOLOPOS) Ketua DPRD Karanganyar, Sumanto, menanam bibit pohon di bantaran Sungai Bengawan Solo, tepatnya di Dukuh Gunungmijil, Ngringo, Jaten, Karanganyar, Minggu (4/2/2018). (Sri Sumi Handayani/JIBI/SOLOPOS)
Senin, 5 Februari 2018 13:15 WIB Sri Sumi Handayani/JIBI/SOLOPOS Wonogiri Share :

BENCANA KARANGANYAR
Rawan Erosi, Penghijauan Bantaran Bengawan Solo di Jaten Karanganyar Mendesak

Bantaran Sungai  Bengawan Solo di Karanganyar mendesak untuk dilakukan penghijauan karena erosi.

Solopos.com, KARANGANYAR—Sejumlah lokasi di bantaran Sungai Bengawan Solo di Kabupaten Karanganyar mendesak dilakukan penghijauan karena mengalami erosi tanah.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, tiga lokasi di bantaran Sungai Bengawan Solo mengalami pengikisan tanah akibat banjir maupun aliran air. Lokasi itu masuk Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, yakni Benowo, Gunungsari, dan Gunungmijil. Di bantaran Sungai Bengawan Solo di Dukuh Gunungmijil, tanah bantaran Sungai Bengawan Solo bergeser.

Koordinator salah satu komunitas sosial dan peduli lingkungan di Jaten, Polo Kendho, Irawan Sasongko, menyampaikan banjir dan aliran air Sungai Bengawan Solo mengikis tanah bantaran. Dia memberikan contoh tanah bantaran di Gunung Mijil itu berkurang dari enam meter tersisa 1-2 meter. (baca: BENCANA SRAGEN: 7 Lokasi Tanggul Sungai Bengawan Solo di Sragen dalam Kondisi Kritis)

“Kami kan survei. Tiga lokasi di Benowo, Gunungsari, dan Gunungmijil itu erosi parah. Tanah ladu. Kan ada warga yang punya ladang di bantaran itu terkikis sedikit demi sedikit. Ada makam kampung di bantaran itu juga mulai terkikis tanah di pinggir makam,” kata Irawan saat berbincang dengan wartawan di bantaran Sungai Bengawan Solo, Minggu (4/2/2018).

Komunitas Polo Kendho saat itu berkumpul di bantaran Sungai Bengawan Solo untuk menanam bibit pohon bersama sejumlah mahasiswa Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) Solo. Mereka menanam 300 bibit pohon berkayu, seperti jati, sengon, ketepeng, pecut kuda, dan lain-lain. Irawan menyampaikan komunitas akan menggandeng warga sekitar untuk ikut merawat bibit pohon yang telah ditanam.

“Ini langkah awal. Ke depan bisa dilanjutkan lagi dengan jenis tanaman lain yang lebih banyak supaya tidak semakin parah erosi,” tutur dia.

Camat Jaten, Aji Pratama Heru Kristanto, mengapresiasi kepedulian ATMI dan komunitas Polo Kendho terhadap bantaran Sungai Bengawan Solo. Dia berharap kegiatan itu menginspirasi pihak lain maupun warga sekitar untuk ikut menjaga lingkungan.

“Nanti diperluas lokasi penanaman. Harus disurvei dulu sampai mana kekritisan erosi. Kalau perlu didatangkan ahli dari BLH untuk tahu tanaman apa yang cocok. Kami harap kesadaran masyarakat dan komunitas lain didukung akademisi. Ini bagus,” tutur Heru.

Sementara itu, Direktur Politeknik ATMI Solo, T. Agus Sriyono S. J., menyampaikan kegiatan tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Agus mengklaim program itu rutin dilaksanakan setiap tahun. Tahun lalu, mereka melaksanakan program pembuatan biopori dan penghijauan di wilayah lain.

Penanaman bibit pohon di bantara Sungai Bengawan Solo melibatkan lebih dari 100 orang.

“Wujud syukur kepada bumi dengan menanam pohon. Ini juga bagian dari edukasi bahwa merawat bumi itu bagian dari tanggung jawab manusia. Alam bisa memberikan bencana kalau enggak dirawat. Ini juga mendorong mahasiswa ikut merawat alam,” jelasnya.

LOKER SOLO
Siapa Mau Kerja di Dealer ASTRA, Cek Syaratnya di Sini, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Murid Kencing Berlari, Guru (Honorer) Mati Seorang Diri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (5/2/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Pendidikan Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Bambang Ekalaya atau sering disebut Palgunadi adalah…