Para penggemar perkutut yang tergabung dalam Perkumpulan Pelestari dan Pencinta Perkutut Lokal Seluruh Indonesia melepaskan 150 perkutut secara bersama ke alam bebas di sela-sela Musyawarah Nasional 1 P4LSI di Kota Semarang, Jateng, Minggu (4-2-2018). (JIBI/Solopos/Antara/Istimewa-P4LSI) Para penggemar perkutut yang tergabung dalam Perkumpulan Pelestari dan Pencinta Perkutut Lokal Seluruh Indonesia melepaskan 150 perkutut secara bersama ke alam bebas di sela-sela Musyawarah Nasional 1 P4LSI di Kota Semarang, Jateng, Minggu (4-2-2018). (JIBI/Solopos/Antara/Istimewa-P4LSI)
Senin, 5 Februari 2018 07:50 WIB JIBI/Solopos/Antara Semarang Share :

AGENDA SEMARANG
300 Penggemar Perkutut Lokal Se-Indonesia Kumpul di Gunungpati

Agenda Munas I P4LSI yang diikuti 300-an penggemar burung perkutut lokal se-Indonesia digelar di Gunungpati, Kota Semarang, Jateng.

Solopos.com, SEMARANG — Ratusan penggemar burung perkutut lokal dari berbagai daerah di Indonesia, Minggu (4/2/2018), berkumpul di Kota Semarang, Jawa Tengah untuk mememenuhi agenda Musyawarah Nasional Paguyuban Pelestari dan Pencinta Perkutut Lokal Seluruh Indonesia (P4LSI).

Agenda Munas I P4LSI yang berlangsung di Padepokan Dzikir Al-Hikmah Akbar, Dukuh Mundingan, Gunungpati, Kota Semarang, Jateng, Minggu itu, antara lain pemilihan pengurus pusat P4LSI, penyusunan AD/ART, dan pengurus koordinator daerah dan daerah.

Sekretaris Jenderal P4LSI Adi Suyono menjelaskan pendirian paguyuban itu paling utama adalah untuk mengangkat popularitas perkutut lokal yang selama ini tersisihkan, padahal seni memelihara perkutut lokal merupakan warisan budaya leluhur.

“Awalnya, paguyuban ini [P4LSI] berawal dari komunitas yang terbentuk di jejaring Facebook dengan nama Misteri Perkutut Lokal. Awalnya, hanya 100-200 anggota, namun setelah lima tahun berjalan sudah ada 40.000 anggota aktif,” katanya.

Dari Munas I P4LSI, kata dia, sudah terbentuk korda di lima provinsi, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang selanjutnya dikembangkan lagi dengan pembentukan korwil atau tingkat kabupaten dan kota.

Menurut pengusaha kelahiran Ngawi, 8 Mei 2981 itu, seni memelihara perkutut sebenarnya sudah ada sejak zaman nenek moyang bangsa Indonesia, yakni jenis perkutut lokal, bukan perkutut bangkok yang sudah dikembangkan secara genetis di Thailand.

Ia menjelaskan setidaknya ada tiga kategori perkutut lokal, yakni perkutut lokal alam yang habitatnya asli di alam, lokal ternak yang dibudidayakan oleh peternak, dan perkutut crossing atau persilangan perkutut lokal dan bangkok.

Diakuinya, memelihara perkutut lokal biasanya dikaitkan dengan hal-hal mistis karena memang ada semacam primbon atau kitab kuno Jawa yang menjelaskan, misalnya dari katuranggan atau ciri fisik yang dimiliki burung perkutut.

“Ada katuranggan yang dianggap membawa keberuntungan, katuranggan yang membawa rezeki, dan sebagainya. Biasanya, perkutut dengan katuranggan seperti ini banyak dicari untuk dipelihara,” kata Adi yang mengoleksi 60-an perkutut itu.

Selama tiga tahun ini, kata dia, lomba-lomba khusus perkutut lokal semakin marak, seperti pernah diadakan di Malang, Semarang, Kudus, Nganjuk, dan Cilacap yang memperlihatkan animo masyarakat terhadap perkutut lokal sangat besar.

“Ke depan, kami akan lebih giatkan lomba. Kalau selama ini, lebih ke lomba gacor-gacoran atau paling rajin berbunyi. Nanti, mulai dikembangkan ke seni irama. Artinya, tidak sekadar rajin berbunyi, tetapi iramanya dinilai,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Korda P4LSI Jateng Ahmad Bahtiar Rifai menyebutkan agenda munas pertama di Kota Semarang yang menetapkan Giyanto Hadi Prayitno sebagai ketua umum P4LSI itu dihadiri setidaknya 300 penggemar perkutut dari berbagai daerah.

“Kalau perkutut bangkok sudah ada, namanya Persatuan Pelestari Perkutut Seluruh Indonesia (P3SI). Kompetisinya untuk perkutut bangkok murni seni suara. Dari suaranya, perkutut lokal dan bangkok juga berbeda,” katanya.

Untuk perkutut lokal, diakuinya tidak bisa dilepaskan dari mitos-mitos yang berkembang dalam dunia perkututan sejak zaman dahulu, terutama mengenai cirimathi atau dilihat ciri fisik tertentu yang dimiliki burung perkutut.

“Misalnya, perkutut dengan cirimathi tertentu bisa menyampaikan doa kepada pemiliknya, seperti rezeki, dan sebagainya. Orang berpatokan pada buku primbon. Ini sebenarnya bentuk kearifan lokal yang harus dilestarikan,” katanya.

Munas I P4LSI itu yang bisa diikuti secara gratis oleh peminat burung perkutut itu, dimeriahkan pula dengan pelepasan 150 ekor perkutut lokal ke alam dan pembagian doorprize. Hadiah yang disediakan mulai burung perkutut, sangkar, dan pakan yang disumbangkan donatur.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

LOKER SOLO
Siapa Mau Kerja di Dealer ASTRA, Cek Syaratnya di Sini, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Murid Kencing Berlari, Guru (Honorer) Mati Seorang Diri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (5/2/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Pendidikan Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Bambang Ekalaya atau sering disebut Palgunadi adalah…