Suporter Persebaya di kawasan Manahan Solo, Sabtu (3/2/2018). (Crisna Canis Cara/JIBI/Solopos) Suporter Persebaya di kawasan Manahan Solo, Sabtu (3/2/2018). (Crisna Canis Cara/JIBI/Solopos)
Minggu, 4 Februari 2018 07:00 WIB Chrisna Canis Cara/JIBI/Solopos Indonesia Share :

PIALA PRESIDEN 2018
Bonek Punya Tiket Saja Masih Bisa Diusir

Ratusan bonek yang sudah mengantongi tiket tidak bisa memasuki Stadion Manahan untuk menyaksikan tim kebanggaan mereka.

Solopos.com, SOLO — Hendi Aditama, 29, termenung di angkringan sekitar Stadion Manahan saat duel klasik antara Persebaya Surabaya melawan PSMS Medan tengah berlangsung, Sabtu (3/2/2018) sore. Waktu itu laga sudah menunjukkan menit ke-60. Hendi tampak menyendiri di tengah ribuan suporter Persebaya yang masih berusaha masuk stadion saat laga tinggal menyisakan setengah jam.

Suporter Persebaya di kawasan Manahan Solo, Sabtu (3/2/2018). (Crisna Canis Cara/JIBI/Solopos)

Suporter Persebaya di kawasan Manahan Solo, Sabtu (3/2/2018). (Crisna Canis Cara/JIBI/Solopos)

Sebuah tiket gelang berwarna kuning kemudian dia keluarkan saat Solopos.com mengajak berbincang. “Beli ini tidak ada gunanya Mas,” ujar Hendi sambil menunjukkan tiket tribune belakang gawang seharga Rp30.000.

Bonek asal Putat, Surabaya, ini menjadi satu dari ratusan suporter Bajul Ijo yang tak bisa memasuki stadion meski sudah membeli tiket di loket resmi. Bukannya dipersilakan memasuki lapangan, pengusiranlah yang dialami Hendi dan sejumlah bonek meski sudah menunjukkan tiket gelang.

Anjing-anjing milik polisi pun beberapa kali dikerahkan untuk mengusir bonek yang ngotot masuk lapangan. “Saya ini beli tiket resmi di ticket box, tapi tidak boleh masuk. Sudah muter ke semua pintu sama saja,” ujar lelaki berprofesi dokter hewan ini dengan nada kecewa.

Mengendarai bus, Hendi sudah berangkat dari Surabaya Sabtu pagi untuk away day bareng puluhan bonek lain. Hendi sebenarnya semringah saat masih kebagian tiket meski baru membeli satu jam sebelum pertandingan. Dia merasa beruntung karena ribuan bonek yang datang setelahnya urung menonton Irfan Jaya dkk. karena kehabisan tiket.

Namun penolakan petugas membuatnya kecewa berat. Dia bahkan sampai tak selera mengikuti pertandingan lewat live streaming atau menonton di sela-sela pintu besar stadion yang dilakukan ratusan bonek. “Sudah terlanjur gela,” tuturnya.

Calo

Pengalaman menyesakkan juga dialami suporter Persebaya asal Madiun, Mukhodar Salim, 27. Lelaki yang akrab disapa Ipang ini kehabisan tiket meski sudah menggeber motornya agar tak ketinggalan pertandingan. Dia menyayangkan banyaknya calo yang berkeliaran sehingga membuat jatah di ticket box berkurang.

Suporter Persebaya Surabaya terpaksa menonton dari sela-sela pintu ke lapangan Stadion Manahan lantaran kehabisan tiket perempat final Piala Presiden 2018, Sabtu (3/2/2018). (Chrisna Chanis Cara/JIBI/Solopos)

Suporter Persebaya Surabaya terpaksa menonton dari sela-sela pintu ke lapangan Stadion Manahan lantaran kehabisan tiket perempat final Piala Presiden 2018, Sabtu (3/2/2018). (Chrisna Chanis Cara/JIBI/Solopos)

Informasi yang dihimpun Solopos.com, setiap calo bisa memiliki sekitar 30 tiket lebih untuk dijual. Beberapa tiket yang dijual calo juga diketahui palsu. “Banyak teman-teman dari Surabaya, Pasuruan, Banyuwangi bahkan luar Jawa yang tidak bisa masuk. Padahal sebagian dari mereka sudah beli tiket jauh-jauh hari,” ujar pegawai perusahaan TI itu.

Selain itu dia menemukan tiket yang dijual melebihi harga resmi. Dia menyebut tiket tribune belakang gawang yang aslinya Rp30.000 dijual calo hingga Rp75.000 per tiket. Terbatasnya kapasitas Stadion Manahan juga menjadi problem tersendiri untuk para bonek.

Ipang menyebut sedikitnya 25.000 bonek hadir di Manahan untuk menyaksikan Persebaya di perempat final. Namun Manahan sudah membeludak dengan catatan penonton sebanyak 22.184 orang. Seorang bonek asal Magelang, Damar Anom, 21, juga harus gigit jari tidak dapat nonton meski sudah membeli tiket. “Mau bagaimana lagi,” ujar fisioterapis itu.

 

 

 

 

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…