PKL Barito. Kawasan jual beli onderdil kendaraan di Jl.Barito, Semarang, tampak lenggang, Jumat (19/1/2017). Para PKL Barito tengah menanti relokasi akibat normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT). (Imam Yuda S./JIBI/Semarangpos.com)
Minggu, 4 Februari 2018 15:50 WIB JIBI/Solopos/Antara Semarang Share :

PENATAAN PKL SEMARANG
PKL Barito Mulai Boyongan ke Penggaron

Penataan PKL Jl. Barito Semarang mulai dilakukan seiring kepindahan sebagian dari mereka ke Pasar Klithikan Penggaron.

Solopos.com, SEMARANG — Ratusan pedagang kaki lima di tepian Jl. Barito, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (2/2/2018), mulai boyongan ke Pasar Klithikan Penggaron Semarang. Penataan PKL bantaran Sungai Banjir Kanal Timur itu dikesankan pemkot setempat bakal lancar meskipun beberapa waktu lalu sebagian pedagang mengaku tak puas dengan ketentuan penggantian kios.

Dipimpin Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu atau Mbak Ita, para PKL berkonvoi menyusuri rute dari Kantor Pemerintah Kelurahan Rejosari, Kota Semarang, menuju Pasar Klithikan di Penggaron, Semarang. Ita pun menyampaikan terima kasihnya kepada PKL Barito—khususnya PKL Rejosari—yang mengawali kepindahan ke tempat relokasi menyusul dimulainya normalisasi Sungai BKT Semarang.

“Kami mewakili Pemerintah Kota Semarang mengucapkan terima kasih kepada para PKL yang dengan ikhlas dan tulus pindah ke Pasar Klithikan Penggaron. Tanpa ada aksi demo atau unjuk rasa,” katanya sebagaimana dipublikasikan Kantor Berita Antara, Sabtu (3/2/2018).

Selain memimpin boyongan, Mbak Ita juga menyempatkan meninjau bangunan Pasar Klithikan Penggaron yang masih perlu beberapa pembenahan, seperti pengerasan tanah dan pavingisasi untuk memperlancar akses. “Meski bangunannya sudah bagus, masih perlu pembenahan. Ada sisa lahan di sebelah bangunan los yang bisa dimaksimalkan dengan meratakannya sehingga bisa menampung lebih banyak pedagang,” katanya.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang Fajar Purwoto menyebutkan setidaknya ada lima lokasi PKL di sepanjang kawasan Barito, yakni PKL Rejosari, Bugangan, Mlatiharjo, Karangtempel, dan Pandean Lamper. Untuk PKL Rejosari, kata dia, setidaknya ada 124 pedagang yang direlokasi dari kawasan Barito itu dengan pemberian tenggat waktu untuk membersihkan lokasi sampai pertengahan Februari 2018.

“Ada 1.374 PKL dari 12 kelurahan yang menempati bantaran Sungai BKT. Kami sudah menyiapkan dua lokasi yang bisa ditempati untuk relokasi, yaitu Pasar Klitikan atau Barito Baru dan di Pasar Waru,” kata Fajar.

Pasar Klithikan Penggaron, kata dia, akan ditempati lima titik PKL di Barito, sedangkan Pasar Waru akan ditempati PKL dari Sambirejo, Kaligawe, Tambakrejo, Kemijen, dan Sawah Besar. “Masih ada PKL dari Karangtempel yang belum terakomodir. Kami akan membangun kios baru di Pasar Barito Baru yang akan ditempati PKL Karangtempel sebanyak 538 pedagang,” kata Fajar.

Sukarjo, salah seorang pedagang mengaku lega sudah boyongan ke pasar baru meski belum sepenuhnya bisa memindahkan seluruh barang dagangannya dari lapak lamanya di kawasan Barito. Proses boyongan itu juga tidak disertai dengan pemindahan barang dagangan, melainkan hanya secara simbolis, sekaligus pembagian kunci kios di Pasar Klithikan Penggaron kepada pedagang.

“Sudah lega karena sudah dapat kunci (kios, red.). Nanti kan bisa gampang memindahkan barang dagangan. Kan tidak bisa sekali angkut, harus dicicil sedikit demi sedikit,” kata penjual onderdil motor itu. Meski demikian, Sukarjo mengaku masih khawatir dengan prospek di pasar baru yang digunakan untuk penataan PKL itu apakah sama seperti di Barito, sebab belum semua pelanggannya mengetahui kepindahan ke Pasar Klithikan Penggaron, Semarang.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

lowongan pekerjaan
SUMBER BARU REJEKI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Darmanto Jatman Bercerita Jawa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (15/01/2018). Esai ini karya Bandung Mawardi, seorang kritikus sastra. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Rumah dalam pemahaman peradaban Jawa adalah ruang hidup untuk menjadikan manusia ada dan berada. Pemahaman itu menunjukkan konstruksi…