Sabtu, 3 Februari 2018 14:15 WIB Kurniawan/JIBI/SOLOPOS Sragen Share :

BENCANA SRAGEN
7 Lokasi Tanggul Sungai Bengawan Solo di Sragen dalam Kondisi Kritis

BPBD Sragen mendeteksi ada 7 lokasi tanggul Sungai Bengawan Solo dan anak sungainya kritis.

Solopos.com, SRAGEN—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sragen mendeteksi setidaknya ada tujuh lokasi bibir atau tanggul Sungai Bengawan Solo dan anak sungainya dalam kondisi kritis lantaran mengalami abrasi atau longsor.

Sayang, BPBD Sragen tak dapat melakukan langkah perbaikan tanggul atau bibir sungai ini lantaran tak mempunyai kewenangan. Padahal bila tidak segera dilakukan perbaikan bagian bibir sungai yang ambrol bisa semakin parah. (baca: BENCANA SRAGEN : Tanah Retak Ancam 2 Rumah Warga Bukuran)

“Tujuh titik tanggul ini yang kondisinya kritis alias perlu segera dilakukan penguatan,” tutur Kepala Pelaksana BPBD Sragen, Dwi Sigit Kartanto, saat diwawancara Solopos.com, Jumat (2/2/2018). “

Sigit merinci tujuh lokasi tanggul kritis, yakni di Sidodadi, Pringanom, dan Pilang, Kecamatan Masaran. Selain itu ada di Karanganyar (Plupuh), Sribit (Sidoharjo), serta Patihan, Kelurahan Karangtengah dan Sapen, Kedungupit (Sragen).

Menurutnya, bila terus terjadi longsor tanggul bisa membahayakan warga yang tinggal di sekitarnya. Sebab jarak antara lokasi tanggul ambrol dengan rumah-rumah warga cukup dekat.

Di sisi lain, pihaknya sudah langsung melapor ke Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) bila terjadi tanggul sungai ambrol. Laporan dilakukan via pesan WhatsApp ke Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Bencana BBWSBS.

“Satgas ini bagian pengkaji cepat dampak kerusakan. Semua sudah kami laporkan melalui WA. Tapi dalam waktu dekat kami akan laporkan kembali via surat agar segera ada respons atau tindak lanjut dari mereka,” imbuhnya.

Di samping itu, lokasi tanggul longsor paling kritis adalah di Karanganyar, Plupuh. Sebab di sekitar bagian tanggul Sungai Bengawan Solo yang longsor terdapat bangunan-bangunan rumah warga. Bahkan ada dapur rumah yang sudah ambrol.

“Di situ paling banyak rumah warga. Bahkan ada bagian dapur rumah yang sudah mulai ambrol. Tapi, kami belum tahu lahan itu milik warga atau masuk sempadan sungai. Itu jadi ranah pemilik sungai untuk memastikan,” katanya.

Sigit menekankan BPBD dan Pemkab Sragen tak punya kewenangan mengambil langkah penguatan tanggul sungai kendati kondisinya sudah kritis. Hal yang bisa dilakukan sebatas melaporkan dan berkoordinasi dengan BBWSBS.

Dia menjelaskan bagian tanggul sungai yang ambrol perlu ditangani dengan pembuatan talud atau diberi bronjong. Namun demikian, jika dilakukan pemasangan parapet seperti di Kota Solo, tentunya lebih kuat.

Sementara itu, Ketua DPRD Sragen, Bambang Samekto, mendukung langkah BPBD yang akan berkirim surat kepada BBWSBS. Menurut dia perlu segera ada penanganan terhadap tanggul sungai yang ambrol tersebut.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Darmanto Jatman Bercerita Jawa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (15/01/2018). Esai ini karya Bandung Mawardi, seorang kritikus sastra. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Rumah dalam pemahaman peradaban Jawa adalah ruang hidup untuk menjadikan manusia ada dan berada. Pemahaman itu menunjukkan konstruksi…