Ekskavator dioperasikan untuk mengeruk tanah kas desa yang direncanakan menjadi kolam renang di Desa Gedaren, Kecamatan Jatinom, Klaten, Kamis (1/2/2018). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos) Ekskavator dioperasikan untuk mengeruk tanah kas desa yang direncanakan menjadi kolam renang di Desa Gedaren, Kecamatan Jatinom, Klaten, Kamis (1/2/2018). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos)
Jumat, 2 Februari 2018 12:00 WIB Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos Klaten Share :

WISATA KLATEN
Gedaren Bangun Kolam Renang dan Terapi di Tanah Kas Desa

Wisata Klaten, tanah kas Desa Gedaren dimanfaatkan untuk membangun kolam renang dan terapi.

Solopos.com, KLATEN – Pemerintah Desa Gedaren, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, membangun kolam renang serta terapi di tanah kas desa setempat. Pembangunan tahap awal menggunakan bantuan keuangan khusus 2017 baru terealisasi pada awal 2018.

Pembangunan kolam renang dilakukan di lahan belakang kantor desa setempat. Lokasi pembangunan berada di samping Umbul Gedaren. Pengerukan tanah guna pembangunan kolam menggunakan satu unit ekskavator.

Kepala Desa Gedaren, Sri Waluyo, menuturkan sesuai rencana pemerintah desa setempat bakal membangun kawasan wisata berisi kolam renang, kolam terapi, serta taman yang diberi nama taman presiden berisi patung-patung Presiden Indonesia.

“Sesuai dengan musyawarah BPD, lembaga, serta tokoh masyarakat bahawa di Gedaren direncanakan dibuat kolam renang hiburan,” kata Waluyo saat berbincang dengan solopos.com, Kamis (1/2/2018).

Pembangunan dilakukan secara bertahap menyusul besarnya biaya pembangunan kawasan wisata. Dari hasil perhitungan konsultan, biaya pembangunan mencapai Rp1,6 miliar dengan total luas lahan yang disiapkan sekitar 2.000 meter persegi.

Pada tahap pertama, pembangunan dilakukan memanfaatkan bantuan keuangan khusus dari APBD Perubahan 2017 senilai Rp200 juta. Proyek tahap pertama menyasar pembangunan kolam renang serta kolam dengan sistem pengerjaan secara swakelola.

Waluyo mengatakan tahap pertama pembangunan kolam tersebut baru dimulai pada awal 2018. Ia menjelaskan dana bantuan keuangan khusus baru cair pada pertengahan Desember 2017.

“Karena dianggarkan melalui perubahan cairnya itu baru sekitar 15 Desember 2017. Kami kejar untuk tahap pertama ini segera selesai. Mohon dimaklumi juga kendala di lapangan harus diterima,” ungkapnya.

Soal kelanjutan proyek pembangunan, Waluyo menjelaskan bakal dilakukan memanfaatkan dana desa yang diterima Desa Gedaren. “Semua itu masih pada batas perencanaan. Ya yang bisa dilaksanakan dan ada pendanaannya dikerjakan satu per satu,” urai dia.

Waluyo mengatakan pembangunan tak menyasar ke umbul yang selama ini sudah ada di desa setempat. Hal itu dimaksudkan untuk menjaga keaslian agar tetap alami dan bisa dimanfaatkan warga setempat.

Desa Gedaren berbatasan dengan desa lainnya di dua kecamatan berbeda yakni Desa Manjungan, Kecamatan Ngawen, dan Desa Jambeyan, Kecamatan Karanganom. Di Manjungan, terdapat Umbul Susuhan yang mulai digarap menjadi objek wisata air, di Jambeyan sejak dulu terdapat kolam renang Jolotundo, sementara Gedaren mulai mengembangkan kolam renang di belakang kantor desa setempat. Ketiga lokasi itu berjarak tak lebih dari 500 meter.

Terkait lokasi objek wisata air yang saling berdekatan itu, Waluyo menuturkan hal itu tak berarti menjadi persaingan antarobjek wisata. Ia berharap ketiga objek bisa dikerjasamakan seperti melalui BUM desa bersama. “Kami tidak ingin bersaing. Justru kami bisa saling kerja sama saling memberikan masukan,” katanya.

Pj. Sekretaris Desa Gedaren, Sukrisna, mengatakan Gedaren selama ini sudah memiliki umbul yang disebut-sebut peninggalan Belanda. Selama ini, umbul tersebut dipertahankan tetap alami dan kerap digunakan untuk ritual pada hari-hari tertentu.

“Umbul itu tetap dipertahankan alami. Airnya juga banyak mengandung mineral serta sudah pernah dilakukan penelitian,” urai dia.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…