garis polisi Ilustrasi garis polisi (Sunaryo Haryo Bayu/JIBI/SOLOPOS)
Jumat, 2 Februari 2018 16:38 WIB Kurniawan/JIBI/Solopos Sragen Share :

Sopir Bus Mengaku Dipukul Polisi, Kapolres Sragen Sebut "Sepertinya Hoax"

Seorang sopir bus Harta Sanjaya mengaku dipukuli seseorang di Sragen yang diduga polisi.

Solopos.com, SRAGEN — Seorang sopir bus Harta Sanjaya berinisial Z, 40, warga Kebakkramat, Karanganyar, mengaku menjadi korban pemukulan oleh seseorang. Dia menduga pelakunya adalah anggota Unit Reserse dan Kriminal (Reksrim) Polsek Sidoharjo, Sragen.

Akibat pemukulan tersebut korban menjalani rawat inap di Puskesmas Kebakkramat, Kamis-Jumat (1-2/2/2018). Korban mengalami luka di bagian bibir dan mata kiri. Saat ditemui Solopos.com, Jumat, kondisi korban sudah membaik dan dibolehkan pulang ke rumah.

Z menuturkan pemukulan itu terjadi di dekat bangunan ruko Pertigaan Pungkruk, Sidoharjo, Kamis, sekitar pukul 08.30 WIB. Saat itu dia sedang menunggu penumpang bersama kernetnya, Slamet, serta kondekturnya, Agus.

“Saat itu ada laporan dari pihak [kru] bus lain ke Polsek, ditindaklanjuti. Enggak tahu bagaimana, terjadi cekcok mulut. Tapi saya enggak tahu apa-apa, tidak salah apa-apa. Bila saya parkir melanggar letter S saya salah, juga bila bikin macet,” tutur dia.

Z melanjutkan tak lama berselang, datang lagi dua anggota Polsek Sidoharjo yang mengenakan seragam lengkap. Mereka lantas menarik Z dari posisi semula yang duduk di depan setir hingga turun ke bawah atau keluar dari bus yang dia kemudikan.

Saat itu, datang seseorang berumur sekitar 38 tahun yang mengenakan pakaian sipil. Laki-laki tersebut menurut Z langsung memukulnya dua kali di bagian bibir dan mata. Mengetahui kejadian itu tiga polisi berseragam tidak melerai.

“Itu [pemukulan] spontan. Polisi yang berseragam diam saja. Setelah itu saya diajak ke pos, tapi dengan kasar dia nglarak saya dengan kasar. Saya sudah bilang saya bukan maling, jangan bawa saya kayak gini, negara kita negara hukum,” imbuh dia.

Ditanya Solopos.com apakah laki-laki yang memukulnya adalah seorang polisi, Z menduga dia adalah anggota Reskrim sehingga tak memakai seragam. “Menurut saya dia [yang memukul Z] Serse mungkin. [mereka] Dari Polsek semua,” tambah dia.

Z mengaku sudah melaporkan peristiwa yang dia alami ke Propam Polres Sragen Kamis. Menurut dia pun pihak Propam sudah mencatat apa yang dia laporkan. Tapi dia tidak tahu apakah laporannya tersebut ditindaklanjuti polisi atau tidak.

Terpisah, Kapolres Sragen, AKBP Arif Budiman, saat dimintai tanggapan Solopos.com melalui layanan pesan singkat WhatsApp (WA), Jumat, langsung memerintahkan tim Propam Polres Sragen untuk mengecek kebenaran informasi tersebut.

“[informasi pemukulan korban oleh polisi] Sepertinya hoax. Itu [insiden di Bangjo Pungkruk yang berbuah pemukulan korban] ribut sesama sopir. Kejadian tersebut sudah dicek oleh Pak Ali Propam,” kata dia.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…