Deretan lapak PKL Gladak Langen Boga (Galabo) siang di Jl. Mayor Sunaryo, Solo, Kamis (1/2/2017). (Nicolous Irawan /JIBI/Solopos) Deretan lapak PKL Gladak Langen Boga (Galabo) siang di Jl. Mayor Sunaryo, Solo, Kamis (1/2/2017). (Nicolous Irawan /JIBI/Solopos)
Jumat, 2 Februari 2018 06:35 WIB Indah Septiyaning W./JIBI/Solopos Solo Share :

PKL SOLO
5 Masalah Ini Jadi Alasan Pemkot Menata Pedagang Galabo Siang

Pemkot Solo memetakan ada lima masalah yang bikin lokasi PKL Galabo siang semrawut.

Solopos.com, SOLO — Pemerintah Kota (Pemkot) Solo serius menata kembali kawasan kuliner Gladak Langen Bogan (Galabo). Lima masalah telah dipetakan Pemkot menjadi bahan evaluasi penataan kawasan Galabo.

Kelima masalah itu adalah parkir liar, lokasi ngetem armada taksi, dasaran pedagang kaki lima (PKL) Galabo siang menjorok hingga ke badan jalan, PKL di atas dan kawasan rel kereta api, serta becak.

Hal itu terungkap dalam rapat koordinasi (rakor) penataan kawasan Galabo di Kantor Dinas Perdagangan (Disdag) Solo, Kamis (1/2/2018). Rakor diikuti perwakilan paguyuban PKL Galabo, serta Dinas Perhubungan (Dishub).

“Lima masalah kami sudah petakan dan besok [Jumat 2/2/2018] siang kami rencanakan ke lokasi dan langsung dilakukan penindakan,” kata Kepala Bidang (Kabid) PKL Disdag Solo Didik Anggono.

Baca:

PKL Galabo Siang akan Direlokasi

Lahan Selatan Danamon Mulai Ditata untuk Relokasi PKL Galabo

Terkait dengan masalah PKL Galabo siang, Pemkot bakal menyosialisasikan kembali larangan dan ketentuan berjualan bagi para pedagang. Dasaran para pedagang akan diatur tidak boleh meluber hingga ke badan jalan.

PKL diharapkan bisa menata diri dan aktivitas parkir dilakukan di tempatnya sehingga tidak menyalahgunakan ruang publik. Selama ini beberapa pedagang mengabaikan aturan dengan menggelar dasaran hingga ke badan jalan.

Kondisi ini menyebabkan arus lalu lintas di Jl. Mayor Sunaryo terhambat. Ditambah lagi dengan keberadaan PKL di kawasan rel kereta api tepatnya di depan Pusat Grosir Solo (PGS) dan Beteng Trade Center (BTC).

Para PKL tersebut mayoritas adalah pedagang musiman dan tidak terdata di Pemkot Solo. “PKL ini akan kami tata. Jangan sampai mengganggu arus lalu lintas, termasuk untuk becak,” katanya.

Kesemrawutan lalu lintas di Jl. Mayor Sunaryo jelas terlihat saat PKL Galabo siang beroperasi. Berdasarkan data Dinas Perdagangan, ada 60 pedagang yang berjualan di kawasan kuliner tersebut.

Operasional mereka berbeda dibanding pedagang Galabo malam yang relatif sudah tertata. Jl. Mayor Sunaryo ditutup saat malam untuk aktivitas kuliner sehingga tidak ada kemacetan.

Terkait penataan parkir, Kabid Perparkiran Dishub Solo M. Usman mengatakan Pemkot akan menindak pengendara yang nekat memarkir kendaraan di depan selter PKL Galabo. Hal ini dilakukan guna mengatasi keruwetan lalu lintas di Jl. Mayor Sunaryo.

“Tidak ada motor dan mobil yang nantinya masih diparkir di depan gerobak PKL Galabo. Kalau masih nekat, ya nanti kami gembok,” katanya.

Larangan itu menjadi solusi jangka pendek atas kemacetan yang kerap melanda kawasan tersebut. Aktivitas parkir terutama di Tugu Dandang juga tidak boleh melebihi ketentuan.

Untuk sementara Dishub akan membatasi area parkir dengan memasang water barrier. “Kami juga akan mengupayakan solusi atas parkir taksi yang turut memicu kemacetan di kawasan Galabo,” katanya.

Ketua Paguyuban Pedagang Galabo Siska Agus Andriyanto mengatakan siap membantu Pemkot dalam menata kawasan Galabo. Dia juga akan berkoordinasi dengan pedagang agar mematuhi aturan Pemkot.

“Kami akan tata lagi lokasi jualan pedagang. Intinya kami siap ditata,” katanya.

lowongan pekerjaan
PT. Astra International Tbk-isuzu, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Visi Pedagogis Daoed Joesoef

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (27/01/2018). Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015) dan Pembaca Serakah (2017). Alamat e-mail penulis adalah fauzi_sukri@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Indonesia, khususnya dunia pendidikan, kehilangan sosok pemikir pedagogis tangguh yang…