Ilustrasi pendidikan Teknologi Informasi. (www.sido.ru) Ilustrasi pendidikan Teknologi Informasi. (www.sido.ru)
Jumat, 2 Februari 2018 09:55 WIB I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Perguruan Tinggi Mesti Buka Jurusan Sesuai Perkembangan Industri

Universitas didorong membuka jurusan-jurusan baru yang sesuai tuntutan zaman

Solopos.com, JOGJA-Lulusan perguruan tinggi adalah aset berharga, tapi jika tidak dikelola dengan baik akan jadi beban tersendiri. Universitas didorong membuka jurusan-jurusan baru yang sesuai tuntutan zaman. Para lulusan juga mesti dibekali dengan ketrampilan berwirausaha.

Sekretaris Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) DIY Sriyati menyatakan, perguruan tinggi perlu membuka jurusan-jurusan yang sesuai dengan revolusi industri generasi keempat, agar lulusannya bisa terserap ke dunia kerja dengan lebih mudah.

Revolusi industri generasi keempat ini ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik, dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak

“Kalau jurusan sudah jenuh di pasar kerja, istilahnya dievaluasi. Perlu dibuka baru. Kalau sudah tidak ada di pasar kerja harus berani ganti dengan jurusan yang bisa masuk ke dunia industri generasi keempat. Misalnya jurusan IT sama robotik. Kalau jurusan yang jenuh jangan dipertahankan, nanti mau dibawa kemana lulusannya,” ucapnya melalui sambungan telepon, Kamis (1/2/2018).

Dari data yang dimiliki Disnakertrans DIY, jumlah angkatan kerja terdidik di DIY cukup banyak, yakni 339.890, hanya kalah dari lulusan SMK yang sebesar 436.844. Namun, angka pengangguran lulusan perguruan tinggi juga tak kalah banyak, yaitu 16.659.

Sriyati mengatakan, pembukaan jurusan baru adalah keniscayaan seiring dengan terus berkembangnya dunia. Apalagi di DIY ia menyebut sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah perdagangan besar, hotel, rumah makan, pertanian, industri pengolahan dan jasa kemasyarakatan.

Padahal sektor-sektor tersebut tidak menyerap tenaga kerja yang banyak dari lulusan perguruan tinggi, sehingga akhirnya banyak yang kemudian menjadi menganggur. “Kalau dilihat itu sektor yang tidak butuh pendidikan tinggi. Sehingga menyebabkan masyarakat yang punya pendidikan tinggi kesulitan. Memang ada jabatan tinggi, tapi tidak banyak. Kesempatan kerja sedikit dan lulusan semakin banyak. Akhirnya over suplai,” jelas Sriyati.

Sriyati mengatakan, para pengangguran terdidik harus melirik ke sektor lain, seperti industri digital kreatif. Karena itulah sangat penting adanya jurusan baru yang bisa menunjang hal tersebut. Jika memang belum banyak tempat yang menyediakan hal tersebut, ia menyatakan masing-masing orang harus mempunyai kesadaran untuk menambah kompetensinya agar sesuai dengan tuntutan zaman.

 

LOKER SOLO
Siapa Mau Kerja di Dealer ASTRA, Cek Syaratnya di Sini, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Visi Pedagogis Daoed Joesoef

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (27/01/2018). Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015) dan Pembaca Serakah (2017). Alamat e-mail penulis adalah fauzi_sukri@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Indonesia, khususnya dunia pendidikan, kehilangan sosok pemikir pedagogis tangguh yang…