Suasana di acara pameran seni Kembulan di Studio Kalahan, Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Rabu (31/1/2018). (Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja) Suasana di acara pameran seni Kembulan di Studio Kalahan, Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Rabu (31/1/2018). (Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja)
Jumat, 2 Februari 2018 23:40 WIB Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

Lewat Kembulan, NU Sampaikan Pesan Keindahan Bukan Kemarahan

Lesbumi NU gelar pameran seni bertajuk Kembulan.

Solopos.com, SLEMAN–Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama (NU) DIY menyelenggarakan sebuah pameran seni bertajuk Kembulan. Pameran ini merupakan menyampaikan pesan bahwa NU dapat hadir dengan keindahan bukan kemarahan.

Pembukaan pameran seni pada pada Rabu (31/1/2018) di Studio Kalahan, Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping dimulai dengan khidmat. Setelah sejumlah pengujung datang, seorang pria berpakaian Jawa duduk bersila di atas tikar. Lantunan suluk, tembang dakwah Walisonggo bertajuk Singgah-Singgah keluar dari pita suranya dengan mengalun mendayu-dayu, penuh nuansa sugestif-kontemplatif.

Di kalangan masyarakat Jawa, sebuah suluk dipercaya memiliki kekuatan magis yang besar, yang biasa ditembangkan untuk mengawali sesuatu hajat. Tembang itu melantun mengantarkan para pengunjung untuk menikmati karya-karya seni para seniman-seniman NU yang bakal dipamerkan hingga Selasa (6/2/2018) mendatang.

Menurut Ketua Panitia Pameran, Topan Akbar sejumlah seniman yang berpartisipasi tidak hanya berasal dari DIY, tetapi juga berasal dari luar DIY. “Total ada sebanyak 42 seniman individu dan delapan seniman komunitas yang berpartisipasi untuk memamerkan karyanya,” kata dia, Rabu.

Sebelum sejumlah karya dari puluhan seniman bebas dinikmati pengunjung, tiga baris daun pisang memanjang sekitar tiga meter digelar di atas tikar. Diletakkan tepat di depan panggung, daun pisang itu diisi dengan nasi uduk dan lauk-pauk untuk disajikan kepada pengunjung. Puluhan pengunjung bersama-sama melahap nasi di atas daun pisang yang diistilahkan sebagai kembulan.

Salah seorang kurator pameran, A Anzieb memaknai kembulan sebagai sebuah ritual untuk meningkatkan rasa kebersamaan antarsesama yang hampir dikenal seluruh suku di dunia dan nusantara. Terlebih lagi dalam tradisi santri, kembulan telah begitu melekat bukan hanya sebagai makan bersama, tetapi memiliki banyak esensi`yang berhubungan dengan nurani, batin, dan kemanusiaan.

Tradisi santri yang kerap makan bersama-sama di malam hari di atas daun pisang, dan tak jarang pula sebelum terhidang makanan, sang kiai pun ikut memasak bersama-sama dengan santri. Hanya untuk sekedar memasak nasi dan mengulek cabai hasil dari yang ditanam sendiri.“Saat kembulan umumnya apa yang mereka makan adalah yang mereka tanam sendiri. Ini adalah wujud syukur kepada alam yang telah memberikan kelangsungan hidup,” katanya.

Dari situlah, Anzieb memaknai kembulan yang memiliki esensi yang begitu dalam. Esensi itu disalurkan ke dalam wujud karya seni untuk dapat dinikmati dan dimaknai oleh pengunjung.

Sementara itu, bagi Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DIY, Prof. Purwo Santoso yang juga ikut membuka pameran menyebut pameran seni ini adalah sebagai upaya penyampaian pesan dengan keindahan. “Melalui pameran ini memperlihatkan bahwa NU juga hadir dengan keindahan bukan dengan kemarahan,” ujarnya.

Meski bukan seorang seniman, dia mengaku sangat hormat dengan para seniman. Hal itu tidak lain karena kehebatan para seniman menyampaikan pesan dengan suatu keindahan. Menurutnya banyak pesan-pesan simbolik yang dihadirkan dengan indah dalam pameran tersbut. Dia mencontohkan seperti daun-daun pisang yang dihadirkan dalam pameran tertata dengan indah.

Di sisi lain Prof Purwo mengapresiasi kerja Lesbumi yang mampu mengadirkan sebuah pameran untuk menyambut para jemaah dengan suatu keindahaan. “Saya berharap Lesbumi semakin rajin berkarya menyampaikan pesan untuk kemanusiaan,” kata dia.

lowongan pekerjaan
SUMBER BARU REJEKI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Darmanto Jatman Bercerita Jawa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (15/01/2018). Esai ini karya Bandung Mawardi, seorang kritikus sastra. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Rumah dalam pemahaman peradaban Jawa adalah ruang hidup untuk menjadikan manusia ada dan berada. Pemahaman itu menunjukkan konstruksi…