Bisnis kue Nia Ramadhani (Instagram @ramadhaniabakrie) Bisnis kue Nia Ramadhani (Instagram @ramadhaniabakrie)
Jumat, 2 Februari 2018 18:10 WIB JIBi/Solopos/Newswire Issue Share :

Kuenya Disebut Mahal, Nia Ramadhani Buka Suara

Nia Ramadhani menanggapi pendapat beberapa orang yang menyebut harga kuenya terlalu mahal.

Solopos.com, JAKARTA – Nia Ramadhani mencoba peruntungan berbisnis kue yang dilabeli Roti Mama Nia. Namun sayang, beberapa orang menyebut roti yang dijual oleh Nia terlalu mahal.

Seorang Youtubers misalnya menilai, harga Rp72.000 untuk satu boks Mama Nia dengan isi enam roti berukuran kecil dianggap terlalu mahal.

Apalagi, Youtubers yang diketahui bernama Magdalena itu juga menilai rasa roti Mama Nia tidak sesuai dengan harganya. Menanggapi bisnisnya dikomentari negatif, Nia Ramadhani pun langsung angkat suara. Baca juga: Posting Foto Mikhayla Berbaju Terbuka, Nia Ramadhani Diingatkan Bahaya Pedofil

“Menurut aku kalau harga mahal enggak worth it itu tergantung kantong orang masing-masing,” kata Nia Ramadhani, saat pembukaan gerai toko Roti Mama Nia, di Lippo Mall Puri, Jakarta Barat, Jumat (2/2/2018), seperti dilansir Suara.com.

Bintang sinetron Bawang Merah Bawang Putih ini merasa harga yang ditawarkan sebenarnya sudah sepadan dengan rasa rotinya. Namun, ibu tiga anak ini tetap tak mau ambil pusing dengan perkataan segelintir netizen soal harga Roti Mama Nia.

“Kalau enggak mau dan enggak mampu beli ya sudah. Karena kan beda-beda. Ada orang yang merasa harga Rp10.000 itu, gue bisa beli segitu. Ada juga orang yang pendapatannya cuma Rp30.000, beli roti 10.000 ya mahal,” jelas Nia Ramadhani. Baca juga: Pakai Kerudung, Nia Ramadhani Secantik Barbie

“Itu tergantung orang masing-masing. Cuma menurut aku dengan rasanya ini dengan isinya itu, worth it. Tapi kalau ada orang yang enggak suka, ya sudah enggak apa-apa, kan ada banyak pilihan (brand roti) yang lain,” sambung istri Ardie Bakrie.

lowongan pekerjaan
PT. Astra International Tbk-isuzu, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Visi Pedagogis Daoed Joesoef

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (27/01/2018). Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015) dan Pembaca Serakah (2017). Alamat e-mail penulis adalah fauzi_sukri@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Indonesia, khususnya dunia pendidikan, kehilangan sosok pemikir pedagogis tangguh yang…