Pekerja industri rumahan hio di Desa Waru, Mranggen, Demak, Jateng, Kamis (1/2/2018), menjemur dupa di bawah terbatasnya sinar mentari. (JIBI/Solopos/Antara/Aji Styawan) Pekerja industri rumahan hio di Desa Waru, Mranggen, Demak, Jateng, Kamis (1/2/2018), menjemur dupa di bawah terbatasnya sinar mentari. (JIBI/Solopos/Antara/Aji Styawan)
Jumat, 2 Februari 2018 01:50 WIB JIBI/Solopos/Antara/Aji Styawan Feature Share :

FOTO KERAJINAN DEMAK
Produksi Hio di Mranggen Menyusut

Kerajinan hio di Mranggen, Demak terganggu cuaca.

Perajin hio bekerja di sebuah industri rumahan Desa Waru, Mranggen, Demak, Jateng, Kamis (1/2/2018). (JIBI/Solopos/Antara/Aji Styawan)

Perajin hio bekerja di sebuah industri rumahan Desa Waru, Mranggen, Demak, Jateng, Kamis (1/2/2018). (JIBI/Solopos/Antara/Aji Styawan)

Hio atau dupa khas China diproduksi di industri kerajinan rumahan Desa Waru, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah (Jateng). Para pekerja pembuat dupa batangan yang memunculkan aroma wangi kala dibakar itu, Kamis (1/2/2018), terdokumentasikan Kantor Berita Antara menjemur ribuan hio tersebut di bawah terik mentari yang terbatas pada musim penghujan 2018 ini.

Pada musim penghujan seperti saat ini, pengrajin menyatakan produksi dupa yang dipasarkan ke sejumlah wilayah di Jateng itu menurun dari 2.000 batang/hari menjadi 1.200 batang/hari karena terkendala proses pengeringan yang masih mengandalkan sinar matahari.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

lowongan pekerjaan
SALESMAN/GIRL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Visi Pedagogis Daoed Joesoef

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (27/01/2018). Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015) dan Pembaca Serakah (2017). Alamat e-mail penulis adalah fauzi_sukri@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Indonesia, khususnya dunia pendidikan, kehilangan sosok pemikir pedagogis tangguh yang…