Sejumlah pengunjung sedang bermain air di wahana Water Byur di Desa Ponjong, Kecamatan Ponjong. foto diambil beberapa waktu lalu. (Istimewa) Sejumlah pengunjung sedang bermain air di wahana Water Byur di Desa Ponjong, Kecamatan Ponjong. foto diambil beberapa waktu lalu. (Istimewa)
Jumat, 2 Februari 2018 21:40 WIB David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

Ini Dia Wahana Permainan Air di Gunungkidul

Water byur wahana bermain air di Ponjong.

Solopos.com, GUNUNGKIDUL–Membahas potensi wisata di Gunungkidul tidak akan pernah habisnya. Berbagai destinasi dan karakteristik wisata hampir merata di seluruh wilayah.

Salah satunya adalah objek wisata water byur di Desa Ponjong, Kecamatan Ponjong yang memanfaatkan keberadaan sumber air di kawasan tersebut. Awalnya, sumber air Ponjong hanya dimanfaatkan untuk mengairi sawah, pemeliharaan ikan hingga sarana pelengkap kebutuhan bagi warga sekitar.

Namun sejak 2012 lalu, pemerintah desa setempat memanfaatkan sumber tersebut untuk membuat kolam air lengkap dengan wahana untuk bermain. Sepintas, keberadaan water byur tidak jauh berbeda dengan arena di wilayah lain. Hanya saja, perbedaan bisa terlihat saat memasuki kawasan, pengunjung akan disuguhi dengan pemandangan alam khas pedesaan dengan lahan pertanian yang membentang di sekitarnya.

Di dalam arena sendiri terdapat dua buah kolam renang dengan spesifikasi yang berlainan. Kolam sebelah barat mempunyai kedalaman 150 meter yang ditujukan untuk pengunjung dewasa, sementara kolam sebelah timur yang hanya mempunyai kedalaman 50 cm dibangun untuk pengunjung anak-anak.

Tak hanya itu, di sekitar area kolam juga dilengkapi dengan gazebo-gazebo bambu yang disediakan untuk beristirahat setelah lelah bermain. Selain itu, di sebelah kolam juga terdapat wahana becak air yang disediakan pengelola untuk pengunjung.
“Rencananya kami akan menambah satu kolam lagi untuk anak-anak balita,” kata Direktur Badan Usaha Milik desa (BUMDes) Ponjong Anang Sutrisno Jumat (2/2/2018).

Menurut dia, water byur sudah menjadi ikon di Kecamatan Ponjong. Keberadaan wahana ini, kata Anang, tidak lepas dari program pemerintah desa untuk menggali potensi yang dimiliki. “Berhubung kami banyak sumber air, maka potensi itu dimanfaatkan untuk membuat kolam water byur lengkap dengan arena bermainnya,” ungkapnya.

Anang menjelaskan, keberadaan wahana ini bukan semata-mata hanya untuk ajang bermain. Namun yang paling penting, dari pengelolaan itu menjadi salah satu sumber pendapatan asli desa. “Ya hasilnya lumayan. Sedang untuk tingkat kunjungan, setiap tahun tidak kurang 50.000 orang datang ke water byur,” katanya lagi.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…