Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, saat mengikuti operasi pasar beras di Pasar Johar, Semarang, Rabu (17/1/2018). (JIBI/Bisnis/Alif N.R.) Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, mengikuti operasi pasar beras di Pasar Johar, Semarang, Rabu (17/1/2018). (JIBI/Bisnis/Alif N.R.)
Jumat, 2 Februari 2018 10:50 WIB JIBI/Solopos/Antara Semarang Share :

Inflasi Jateng Tinggi, Harga Beras Pemicunya…

Inflasi Jateng pada Januari 2018diakui BPS setempat tinggi karena dipicu naiknya harga beras.

Solopos.com, SEMARANG — Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat naiknya harga komoditas kelompok bahan pangan, khususnya beras, memengaruhi tingginya inflasi pada Januari 2018. “Pada Januari 2018, inflasi cukup tinggi, yakni 0,88%. Lebih tinggi dibanding tingkat inflasi nasional yang hanya 0,62%,” ungkap Kepala BPS Jateng Margo Yuwono di Kota Semarang, Jateng, Kamis (1/2/2018).

Inflasi di Jateng, kata dia, terjadi di semua kota survei biaya hidup (SBH) yang dilakukan BPS. Inflasi paling tinggi berdasarkan catatan BPS Jateng adalah Cilacap yang mencapai 1,33%. Sedangkan inflasi terendah dicatatkan Kota Solo yang sedikit lebih rendah dari tingkat inflasi nasional, yakni 0,55%.

Menurut dia, inflasi terjadi karena kenaikan harga yang ditunjukkan naiknya indeks semua kelompok pengeluaran yang ada, seperti bahan makanan sebesar 3,38%, diikuti kesehatan sebesar 0,75%. “Ada lima komoditas penting yang berpengaruh terhadap inflasi pada Januari 2018, yakni naiknya harga beras, cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, dan tarif rumah sakit,” paparnya.

Untuk beras, sambung dia, cukup besar andilnya terhadap inflasi, diikuti cabai rawit dan merah yang dipengaruhi pasokan, panen raya, dan cuaca yang memengaruhi harga secara umum.

Ia mengatakan inflasi merupakan hal paling strategis yang harus diwaspadai karena menyangkut daya beli masyarakat. Jika harga komoditas terus naik akan menurunkan daya beli masyarakat. “Harapannya, harga [komoditas] relatif tidak banyak bergerak. Kalau harga-harga bergerak cepat, sementara pendapatan masyarakat tetap akan mengganggu daya beli,” katanya.

Namun, Margo mengakui upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengendalikan harga beras di pasaran selama ini sudah cukup bagus. Pemprov pimpinan Gubernur Ganjar Pranowo yang kembali mencalonkan diri dalam Pilgub Jateng sebagai rangkaian pilkada serentak 2018 menggelar operasi pasar beras dan penjualan beras murah di beberapa titik.

“Upaya pemerintah sudah cukup bagus, seperti menggelar operasi pasar beras dan penjualan beras murah di beberapa titik. Artinya, masyarakat bisa menjangkau beras pada harga normal,” katanya. Apalagi, imbuh dia, pasokan beras secara nasional sudah menjadi isu hangat sampai memunculkan wacana mengimpor beras. Pasalnya, kata dia, pasokan beras yang terbatas di pasaran bisa menyebabkan harga tinggi.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…