Sabilan Riyanto menunjukkan foto anaknya Dwi Aprilinada di rumahnya di Jalan Flaymboyan, Sambilegi Kidul, Maguwoharjo, Depok pada Kamis (1/2/2018). (JIBI/Irwan A. Syambudi) Sabilan Riyanto menunjukkan foto anaknya Dwi Aprilinada di rumahnya di Jalan Flaymboyan, Sambilegi Kidul, Maguwoharjo, Depok pada Kamis (1/2/2018). (JIBI/Irwan A. Syambudi)
Jumat, 2 Februari 2018 12:20 WIB Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

Berfoto Bersama IBu Jadi KenanganTerakhir Mahasiswa Amikom yang Meninggal saat Kegiatan Mapala

Dwi Aprilianda, 18, seorang mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta meninggal saat mengikuti kegiatan mahasiswa pecinta alam (Mapala)

Solopos.com, SLEMAN– Dwi Aprilianda, 18, seorang mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta meninggal saat mengikuti kegiatan mahasiswa pecinta alam (Mapala). Sebelum hilang hayatnya, dia ingin difoto bersama sang ibu.

Baca juga : Mahasiswa Amikom Tewas Saat Ikuti Kegiatan Mapala

Sejumlah warga dan teman-teman Dwi baru saya meninggalkan rumah duka di Jalan Flamboyan, Sambilegi Kidul, Maguwoharjo, Depok pada Kamis (1/2/2018) malam usai mengikuti doa bersama. Ayah Dwi, Sabilan Riyanto, 61, sibuk meyalami para tamu yang hendak pamit. Di sela-sela itu Sabilan menemui wartawan.

Air mukanya nampak lelah, belum ada senyum mengembang darinya. Terlebih saat bercerita tentang putra keduanya yang baru saja dipanggil Sang Halik. Sabilan menanan sedih dan berupaya membendung air matanya agar tak tumpah, kala dia mengingat sesat sebelum anaknya meninggal.

Pada Rabu (30/1/2018) pagi itu dia yang mengantarkan langsung sang putra untuk mengikuti kegiatan bersama Mapala Mayapala Amikom. Dwi telah bersiap membawa ransel serta peralatan lainnya untuk kegiatan hari pertama di Jembatan Babarsari pagi itu. Sang ayah pun telah bersiap mengendarai motor untuk mengantarnya.

“Sudah tak antar mau naik motor itu dia turun lagi minta difoto. Ya sudah lalu difoto dua kali dengan mamanya. Ya sudah yang terakhir itu,” kata dia sambil berkaca-kaca.

Bagi sang ayah, foto itu merupakan peninggalan terkahir yang paling diingat sebelum Dwi tiada. Dia ingat betapa raut wajah sang anak begitu cerita saat difoto.

Namun dia tak menyangka bahwa permintaan foto itu adalah permintaan terakhirnya kepada kedua orang tuanya. Pasalnya beberapa jam setelah foto diambil, anak kedua dari tiga bersaudara itu tak lagi mampu meminta apapun.

Sabilan hanya bisa menemui sang yang anak di Rumah Sakit Hermina dengan kondisi tak dapat bergerak atau pun berbicara karena nyawanya telah berpisah dengan jasadnya.

“Sore itu saya mendapatkan kabar kalau Dwi masuk rumah sakit karena masuk angin. Mulanya mamanya ke rumah sakit duluan, saya jemput si kecil dulu [adik Dwi], setelah itu saya ke rumah sakit melihat [Dwi] sudah meninggal,” ujarnya.

Dia sempat tak percaya atas meninggalnya sang putra, pasalnya selama ini tak ada riwayat penyakit apapun yang pernah diderita sang anak. Beberapa kali mendaki gunung sejak SMP dan juga SMA, Dwi selalu baik-baik saja. Dia tak khawatir sedikitpun karena selain memang anaknya itu memilki fisik yang kuat, dia juga suka kegiatan alam yang membutuhkan kekuatan fisik.

“Cita-citanya itu ingin menjadi tentara sehingga dia memang suka kegiatan-kegiatan fisik untuk latihan. Saya pun mendukung dan tidak pernah khawatir,” jelasnya.

Kini Sabilan, telah berusaha ikhlas. Dia menganggap semuanya adalah sebagai takdir yang harus diterima anaknya. Pasalnya dari apa yang dia lihat, sekujur tubuh sang anak tak memperlihatkan ada bekas luka apapun. Sehingga dia yakin meninggalnya sang anak hanyalah jalan takdir yang harus dijalani.

“Dari kampus sudah ke sini. Semua perlengkapan mulai dari tas dan segela macam juga sudah dikembalikan, yang masih belum cuma dompet sama matras,” katanya.

Kolom

GAGASAN
Kids Zaman Now Membaca Media Cetak?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (12/2/2018) dan Harian Bisnis Indonesia edisi Sabtu (10/2/2018). Esai ini karya Lahyanto Nadie, pengampu Manajemen Media Massa di Kwik Kian Gie School of Business dan pengurus Yayasan Lembaga Pers dr. Soetomo Jakarta. Solopos.com,…