Pembangunan rumah toko (ruko) di tanah kas Desa Sumberejo, Dukuh Ngangkruk, Desa Sumberejo, Klaten Selatan, dekat simpang tiga Bendogantungan, Rabu (31/1/2018). (Cahyadi Kurniawan/JIBI/SOLOPOS) Pembangunan rumah toko (ruko) di tanah kas Desa Sumberejo, Dukuh Ngangkruk, Desa Sumberejo, Klaten Selatan, dekat simpang tiga Bendogantungan, Rabu (31/1/2018). (Cahyadi Kurniawan/JIBI/SOLOPOS)
Jumat, 2 Februari 2018 14:35 WIB Cahyadi Kurniawan/JIBI/SOLOPOS Klaten Share :

Belum Ada Kesepakatan, Pembangunan Ruko di Sumberejo Klaten Sudah Jalan

Pemdes Sumberejo Klaten membangun ruko melalui pihak ketiga.

Solopos.com, KLATEN—Pemerintah Desa (Pemdes) Sumberejo berencana membangun kompleks rumah toko (ruko) di tanah kas desa di Dukuh Ngangkruk, Desa Sumberejo, Kecamatan Klaten Selatan.

Pembangunan dilakukan melalui pihak ketiga. Namun demikian, saat kesepakatan kerja sama antara Pemdes dengan pengembang sedang dibahas, pembangunan ruko itu sudah berjalan. (baca: Bantuan Rp15 Miliar untuk Stimulan 150 BUM Desa Klaten Batal Disalurkan, Ini Penyebabnya)

Kompleks ruko ini dibangun di lahan bekas kios desa yang hampir roboh, di Jl Jogja – Solo, tepatnya dekat simpang tiga Bendogantungan. Menurut rencana, di lahan seluas 10 meter x 26 meter itu bakal dibangun delapan ruko dengan dua lantai.

Kepala Desa (Kades) Sumberejo, Tri Rahardjo, mengatakan pembangunan ruko melibatkan investor karena dana desa tidak mampu mengaver seluruh biaya pembangunan. Jumlah dana desa yang diterima Desa Sumberejo sekitar Rp700 juta per tahun.

Ia menyebutkan butuh dana Rp1,4 miliar untuk membangun ruko. Dana itu dibebankan kepada investor dengan kontrak ruko selama 15 tahun.

“Tapi, ini masih dalam pembahasan. Belum ada kesepakatan dengan investor soal berapa lama kontrak, berapa kontribusi untuk desa, dan lainnya,” kata dia, saat ditemui Solopos.com di kantornya, Rabu (31/1/2018).

Ia membantah jika aktivitas yang kini ada di lahan itu adalah proses pengerjaan kontruksi. Aktivitas itu adalah bagian dari bersih-bersih bekas bangunan lama yang dirobohkan.

Perobohan bangunan dilakukan setelah muncul protes warga yang khawatir bangunan tua itu roboh dan menelan korban.

“Kami sedang mengurus soal perizinan. Perobohan bangunan juga sudah berkoordinasi dengan Inspektorat,” beber dia.

Kades menuturkan rencana pembangunan ruko dengan menggandeng investor sudah dibahas bersama Badan Permusyawatan Desa (BPD) Sumberejo.

Saat Solopos.com meminta konfirmasi Ketua BPD Sumberejo, Agus Marwanto,  menyatakan belum bisa memberikan keterangan.

“Untuk menanggapi hal tersebut BPD akan rapat koordinasi dulu,” kata Agus melalui pesan WhatsApp.

Sementara itu, pengembang ruko, Suyanto, mengatakan pembangunan ruko dibangun di tanah kas desa kendati tidak dibangun pakai dana desa. Pembangunan ruko dilakukan dua pekan lalu seiring dilakukannya pembongkaran bangunan lama. Ia menaksir pembangunan ruko menelan dana sekitar Rp700.

“Yang menanggung biayanya konsumen. Ini ruko sudah ada yang pesan tiga orang. Tapi belum ada kepastian harganya berapa,” paparnya.

Ia mengaku pembangunan ruko itu sudah mendapatkan restu Kades Sumberejo. Proses perizinan sendiri dilakukan sambil berjalan dengan dalih ia tidak mendirikan bangunan baru. Sebab, di lokasi yang sama pernah berdiri kios-kios.

“Ini termasuk rehab karena dulu ada bangunannya. Saat pembebasan lahan tahun 2000-an, diperbolehkan bangun tanpa izin asalahkan tidak menjorok ke jalan. Tapi, IMB tetap kami perbarui karena untuk bahan mencari izin usaha,” jelasnya.

LOKER SOLO
Siapa Mau Kerja di Dealer ASTRA, Cek Syaratnya di Sini, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Murid Kencing Berlari, Guru (Honorer) Mati Seorang Diri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (5/2/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Pendidikan Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Bambang Ekalaya atau sering disebut Palgunadi adalah…