Ilustrasi meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE). (sheratonrhodesresort.com) Ilustrasi meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE). (sheratonrhodesresort.com)
Kamis, 1 Februari 2018 15:40 WIB Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Wisata Jogja Perlu Dorong Potensi MICE

Februari hingga Mei diprediksi musim MICE.

Solopos.com, JOGJA–Pemerintah menargetkan kunjungan wisatawan pada 2019 bisa mencapai 20 juta pengunjung. Untuk mencapai target tersebut, tidak cukup mengandalkan murni kunjungan wisata biasa saja, tetapi juga perlu mengoptimalkan meeting, incentives, conference and exhibition (MICE).

Ketua Association Of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) DIY, Udhi Sudiyanto mengatakan selama ini Jogja lebih dikenal sebagai destinasi wisata. “Padahal ada potensi lain yang masih berkaitan dengan wisata tetapi belum tergarap dengan optimal, yakni MICE,” ujar Udhi kepada Rabu (31/1/2018).

Udhi mengungkapkan pemerintah menargetkan kunjungan 20 juta wisatawan pada 2019. Namun, untuk dapat mencapai target tersebut tidak cukup jika hanya mengandalkan kunjungan wisatawan personal saja.

Potensi yang bisa digali yakni dengan incentives MICE. Udhi menjelaskan peluang dari incentives MICE ini sangat besar dalam menarik jumlah pengunjung yang biasanya dalam satu grup bisa mencapai ratusan orang.

“Kalau kunjungan wisata biasa, hanya perorangan atau rombongan keluarga. Sedangkan incentives MICE ini bisa saja sampai 500 orang. Namun, tetap akses lokasi wisata juga harus diperhatikan juga untuk bisa mendukung potensi tersebut,” imbuh Udhi.

Potensi MICE yang memungkinkan dapat menarik kunjungan wisatawan yang lebih besar, apalagi Jogja memiliki banyak hotel yang terus tumbuh. Udhi memaparkan banyak hotel yang telah melengkapi fasilitas MICE dengan sejumlah ruang pertemuan dengan kapasitas yang besar.

Hal senada juga disampaikan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Istidjab M Danunagoro. Sejak lama, Jogja tidak hanya dikenal sebagai kota wisata, tetapi juga salah satu destinasi MICE favorit di Indonesia.

“Pangsa pasar MICE DIY itu dulu sangat besar. Kini hanya sekitar 40 persen, karena sempat adanya pembatasan penyelenggaraan MICE dari pemerintahan. Padahal jika segmen ini tidak dibatasi, maka market share MICE Jogja akan sangat besar,” papar Istidjab.

Istidjab menambahkan jumlah ruang pertemuan yang disediakan perhotelan di Jogja juga sangat memungkinkan untuk menampung kegiatan MICE. Banyaknya hotel yang tumbuh juga kian memberikan peluang untuk mengakomodir potensi itu.

Lebih lanjut Istidjab mengatakan tidak hanya ruang pertemuan berkapasitas besar, tetapi juga kecukupan kamar yang dibutuhkan peserta kegiatan tersebut.

“Musim MICE itu biasanya pada Februari sampai Mei. Akan tetapi, untuk saat ini kebanyakan penyelenggaraannya lebih banyak dilakukan korporasi. Diharapkan Februari ini, MICE mulai semakin ramai, agar di masa low season ini dapat ditopang segmen ini,” jelas Istidjab.

Kolom

GAGASAN
Guru Honorer

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (7/2/2018). Esai ini karya Roko Patria Jati, dosen di Institut Agama Islam Negeri Salatiga. E-mail penulis adalah bee.ascholar@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Tragedi yang mencoreng dunia pendidikan Indonesia muncul lagi bak serial drama televisi yang terus…