Direktur RSUD dr. Soedono, dr. Bangun Trapsila Purwaka (paling kanan berkacamata), menyampaikan keterangan pers mengenai kasus difteri yang ditangani RSUD setempat, Kamis (1/2/2018). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com) Direktur RSUD dr. Soedono, dr. Bangun Trapsila Purwaka (paling kanan berkacamata), menyampaikan keterangan pers mengenai kasus difteri yang ditangani RSUD setempat, Kamis (1/2/2018). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Kamis, 1 Februari 2018 23:05 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

Stok Kosong, RSUD Madiun Kesulitan Cari Serum Antidifteri untuk 3 Pasien Positif Difteri

Tiga pasien positif difteri yang saat ini dirawat di RSUD dr. Soedono Madiun membutuhkan anti-difteri serum untuk penyembuhan.

Solopos.com, MADIUN — Tiga pasien positif difteri di Kota Madiun membutuhkan anti-diphteritic serum (ADS) atau serum antidifteri. Saat ini stok ADS di wilayah Jawa Timur kosong dan rumah sakit yang merawat tiga pasien itu pun kesulitan mencari serum tersebut.

Tiga orang positif difteri tersebut adalah SS, 36, ER, 14, dan MU, 12. Ketiga orang tersebut merupakan satu keluarga dan saat ini masih menjalani perawatan di ruang isolasi RSUD dr. Soedono Kota Madiun. (Baca: Satu Keluarga Kota Madiun Positif Difteri)

Direktur RSUD dr. Soedono, dr. Bangun Trapsila Purwaka, mengatakan tiga pasien tersebut membutuhkan ADS untuk menetralkan toksin di dalam tubuhnya. Namun, persediaan serum penawar itu sudah tidak ada.

RSUD juga telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota Madiun maupun Dinkes Kabupaten Madiun mengenai ketersediaan ADS. Namun, dua daerah itu tidak memiliki stok serum itu. Bahkan, saat dirinya berkoordinasi ke Dinas Kesehatan Jawa Timur juga menyatakan serum itu tidak ada.

“Kendalanya itu saat ini tidak ada ADS. Stok ADS kosong se-Indonesia. ADS ini yang menyediakan Kementerian Kesehatan dan didistribusikan di Dinas Kesehatan daerah,” jelas dia kepada wartawan, Kamis (1/2/2018).

Bangun menyampaikan pemberian ADS kepada pasien difteri ini sangat penting. Hal ini karena serum ini menetralkan toksin yang dikeluarkan oleh bakteri difteri.

Sebenarnya, kata Bangun, proses penyembuhan difteri ini ada dua yaitu menggunakan antibiotik dan ADS. Antibiotik ini yang akan membunuh kuman atau bakteri difteri. Setelah kuman itu mati mengeluarkan toksin. Toksin tersebut akan mengendap di dalam tubuh. Netralisasi toksin itu menggunakan ADS.

“Kalau toksin ini menyerang jantung, fungsi jantung bisa lemah. Kalau mengenai ginjal bisa gagal ginjal. Netralisasi racun atau toksin ini menggunakan ADS,” jelas dia.

Bangun menyampaikan sehingga pemberian anti-biotik ini harus seimbang dengan ADS. Ketika pemberian antibiotik terlalu banyak dan mengakibatkan banyak kuman mati, tetapi tidak ada ADS itu juga riskan. “Karena kuman yang mati banyak, toksin akan bertambah banyak,” ungkap dia.

Untuk itu, saat ini RSUD masih memantau kondisi toksin yang ada di tubuh tiga pasien tersebut. Dokter yang merawat ketiga pasien difteri itu, dr. Vindrya, menyampaikan dari tiga pasien yang positif difteri hanya satu pasien yang mendapat ADS. Sedangkan dua pasien lain belum mendapatkannya karena memang tidak ada stok.

Satu serum tersebut didapat dari Dinas Kesehatan Pasuruan. Sedangkan di daerah lain serum tersebut kosong. Dia menyampaikan saat ada kejadian luar biasa difteri terjadi beberapa waktu lalu kemungkinan sebagian besar stok ADS dikirim ke Indonesia bagian timur sehingga stok nasional pun kosong hingga kini.

Vindya mengaku tidak mengetahui sampai kapan stok serum ini akan ada dan bisa untuk mengobati pasien positif difteri. “Karena difteri ini kan jarang terjadi. Baru-baru ini ada lagi. Mungkin persediaannya ga terlalu banyak,” jelas dia.

Kolom

GAGASAN
Guru Honorer

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (7/2/2018). Esai ini karya Roko Patria Jati, dosen di Institut Agama Islam Negeri Salatiga. E-mail penulis adalah bee.ascholar@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Tragedi yang mencoreng dunia pendidikan Indonesia muncul lagi bak serial drama televisi yang terus…