Aung San Suu Kyi (Reuters) Aung San Suu Kyi (Reuters)
Kamis, 1 Februari 2018 17:15 WIB Chelin Indra Sushmita/JIBI/Solopos.com Internasional Share :

Rumah Aung San Suu Kyi Rusak Gara-Gara Dilempar Bom Molotov

Rumah Aung San Suu Kyi dilempar bom molotov.

Solopos.com, YANGON – Rumah Penasihat Negara Myanmar, Aung San Suu Kyi, di kawasan Yangon, Myanmar, dilempar bom molotov oleh orang tak dikenal, Kamis (1/2/2018). Beruntung, kejadian ini berlangsung saat Aung San Suu Kyi tidak berada di rumah.

Bom tersebut menyebabkan kerusakan ringan pada rumah Aung San Suu Kyi. Namun, sampai saat ini belum diketahui pasti apa motif di balik serangan tersebut. “Itu adalah bom molotov. Ledakannya menimbulkan kerusakan kecil pada bangunan rumah Aung San Suu Kyi,” ujar Juru Bicara Pemerintah Myanmar, Zaw Htay, seperti dilansir CNN.

Ledakan itu memang tidak menimbulkan kerusakan serius. Namun, sejumlah pihak meyakini si pelaku mengincar Aung San Suu Kyi. Sebab, gedung itu merupakan tempat tinggalnya selama bertahun-tahun. Selain itu, banyak orang berasumsi serangan ini dilakukan terkait dengan krisis Rohingya yang tak kunjung berakhir.

Seperti diketahui, nama Aung San Suu Kyi menjadi sorotan dunia sejak terjadinya krisis kemanusiaan di Rakhine, Myanmar, Agustus 2017 lalu. Peraih Nobel Perdamaian itu dianggap gagal melindungi etnis minoritas muslim di Myanmar, khususnya Rohingya. Sebab, selama ini warga Rohingya menjadi target persekusi di Myanmar.

Krisis di Rakhine menyebabkan lebih dari 700.000 orang Rohingya melarikan diri ke Bangladesh. Hal ini memicu masalah lantaran Bangladesh kewalahan mengurus keperluan para pengungsi. Krisis ini dipicu bentrokan antara kelompok bersenjata dengan militer Myanmar di Rakhine pada 25 Agustus 2017 lalu.

Sejak saat itu, pihak militer melakukan kekerasan yang disebut sebagai operasi pembersihan etnis di Rakhine. Pasalnya, mereka melakukan penyiksaan, pengusiran, hingga pembunuhan yang membuat warga Rohingya ketakutan. Selama ini, masyarakat Myanmar menganggap orang Rohingya sebagai imigran gelap dari Bangladesh. Sampai saat ini, diperkirakan lebih dari 1.000 orang tewas akibat krisis tersebut.

Kekejaman militer Myanmar inilah yang membuat warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh. Setelah menetap di pengungsian yang berada di Kutupalong, Bangladesh, selama berbulan-bulan, akhirnya pemerintah Myanmar sepakat menerima kembali warga Rohingya. Semestinya mereka mulai dipulangkan ke Myanmar awal pekan lalu. Namun, rencana ini terpaksa ditunda lantaran pihak Bangladesh belum selesai melakukan pendataan terhadap warga Rohingya.

Padahal, pemerintah Myanmar telah setuju menerima kembali pengungsi Rohingya. Namun, rencana itu harus ditunda karena adanya kendala teknis. Keseriusan pemerintah Myanmar dibuktikan dengan percepatan pembangunan fasilitas yang dibutuhkan ratusan ribu pengungsi Rohingya.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Visi Pedagogis Daoed Joesoef

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (27/01/2018). Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015) dan Pembaca Serakah (2017). Alamat e-mail penulis adalah fauzi_sukri@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Indonesia, khususnya dunia pendidikan, kehilangan sosok pemikir pedagogis tangguh yang…