Anggota Komisi B DPRD DIY saat meninjau pengerjaan pengerukan kolam Pelabuhan Tanjung Adikarto di Desa Karangwuni, Wates, Senin (16/11/2015). (Harian Jogja/Holy Kartika N.S) Anggota Komisi B DPRD DIY saat meninjau pengerjaan pengerukan kolam Pelabuhan Tanjung Adikarto di Desa Karangwuni, Wates, Senin (16/11/2015). (Harian Jogja/Holy Kartika N.S)
Kamis, 1 Februari 2018 12:40 WIB Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

Mimpi Jogja Punya Pelabuhan Besar Masih Jauh

Tanjung Adikarta belum bisa optimal di 2019.

Solopos.com, SLEMAN–Pelabuhan Tanjung Adikarta diprediksi belum bisa beroperasi penuh menyokong Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) pada 2019 mendatang. Kapal ukuran besar yang bisa berlabuh di pelabuhan yang terletak di Wates, Kulonprogo ini juga masih terbatas.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BWWSO), Tri Bayu Aji mengatakan pelabuhan itu masih butuh banyak pengerjaan hingga bisa beroperasi penuh sesuai dengan peruntukkannya. Jika dimaksudkan mendukung operasional bandara sendiri masih memungkinkan bisa tidak berfungsi sepenuhnya. “Kapal besar mungkin sudah bisa masuk tapi enggak optimal,” katanya Rabu (31/1/2018).

Baca juga : Pelabuhan Tanjung Adikarta Masih Butuh Dana Ratusan Miliar

Pelabuhan ini merupakan proyek Pemerintah Pusat untuk mengembangkan industri perikanan dan kelautan. Nantinya, sejumlah kapal-kapal besar akan berlabuh secara terpusat di pelabuhan ini dan menggantikan pelabuhan lain di sekitarnya. Diprediksi kapal dengan kapasitas 100 hingga 300 GT bisa merapat ke Tanjung Adikarta. Pelabuhan ini juga dilengkapi dengan Tempat Pelelangan Ikan (TPI).

Namun, hingga saat ini pelabuhan ini masih mangkrak selain sebagai lokasi memancing dan tempat berswafoto. Kapal yang bisa merapat juga baru sebatas perahu dengan motor tempel berkapasitas lima gross ton. Pembangunan berikutnya masih dibutuhkan termasuk untuk perbaikan tetrapod maupun perpanjangan breakwater.

Sedangkan untuk tahun ini, Tri mengatakan tetap bisa difungsikan untuk kapal-kapal kecil nelayan. Sedangkan untuk kapal besar diakuinya belum bisa dilakukan karena terbatas dengan kondisi pelabuhan tersebut sekarang. Pihaknya juga sampai saat ini terus berkonsultasi dengan Angkatan Laut untuk mendalami soal manufer kapal sebagai bahan kajian operasionalnya.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…