Wakil Direktur III Bidang Kemahasiswaan Politeknik Indonusa Surakarta, Edi Susanto (kiri) memberi sambutan saat seminar farmasi bertajuk Perkembangan Industri dan Penggunaan Obat Tradisional di kampus II, Cemani, Grogol, Rabu (31/1/2018). (Bony Eko Wicaksono/JIBI/SOLOPOS) Wakil Direktur III Bidang Kemahasiswaan Politeknik Indonusa Surakarta, Edi Susanto (kiri) memberi sambutan saat seminar farmasi bertajuk Perkembangan Industri dan Penggunaan Obat Tradisional di kampus II, Cemani, Grogol, Rabu (31/1/2018). (Bony Eko Wicaksono/JIBI/SOLOPOS)
Kamis, 1 Februari 2018 11:15 WIB Bony Eko Wicaksono/JIBI/SOLOPOS Sukoharjo Share :

Mahasiswa Farmasi Politeknik Indonusa Surakarta Didorong Jadi Wirausaha Jamu

Mahasiswa Politeknik Indonusa Suarakarta didorong berwirausaha jamu.

Solopos.com, SUKOHARJO—Mahasiswa program studi (prodi) Farmasi Politeknik Indonusa Surakarta didorong berwirausaha jamu herbal. Industri jamu dinilai berprospek cerah lantaran tingkat permintaan produk jamu dari mancanegara cukup tinggi. Hal ini dipaparkan dalam seminar bertajuk Perkembangan Industri dan Penggunaan Obat Tradisional di kampus II, Cemani, Grogol, Rabu (31/1/2018).

Kegiatan itu dihadiri Wakil Direktur III Bidang Kemahasiswaan Politeknik Indonusa Surakarta, Edi Susanto, Ketua Prodi Farmasi Politeknik Indonusa Surakarta, Umi Nasifah serta pakar obat herbal, Indri Kusuma Dewi. Kegiatan seminar itu diikuti sekitar lebih dari 80 mahasiswa. (baca: PENDIDIKAN SUKOHARJO : Khawatir Siswa Putus Sekolah, Penggabungan 24 SD Dibatalkan)

Wakil Direktur III Bidang Kemahasiswaan Politeknik Indonusa Surakarta, Edi Susanto, mengatakan kegiatan seminar prodi farmasi merupakan agenda yang digelar setiap tahun. Selama ini mahasiswa mampu mengaplikasikan materi kuliah dengan membikin produk jamu.

“Orientasi mendatang tak hanya membuat produk jamu namun bisa memasarkan ke konsumen. Para alumni harus mampu menjadi wirausaha jamu herbal,” katanya.

Menurutnya, perkembangan industri jamu makin bergeliat sejak beberapa tahun lalu. Masyarakat cenderung memilih obat herbal dibanding obat kimia lantaran tak menimbulkan efek samping bagi tubuh. Maka dari itu, prospek industri jamu kian cerah pada masa mendatang.

Hal ini harus diiringi peningkatan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan mumpuni di bidang farmasi.

“Saya berharap para mahasiswa aktif mengikuti seminar hingga rampung. Ilmu dan informasi yang didapat saat mengikuti seminar bisa diterapkan saat membuka usaha produksi jamu,” paparnya.

Ketua Prodi Farmasi Politeknik Indonusa Surakarta, Umi Nasifah, menyatakan salah satu sentra indutsri jamu di Indonesia terletak di Desa Nguter, Kecamatan Nguter. Terdapat ratusan pengusaha jamu berskala besar, menengah hingga kecil. Produk jamu tak hanya dibuat di pabrik melainkan industri rumah tangga (IRT) yang berimplikasi pada peningkatan perekonomian daerah.

Sementara itu, pemateri seminar sekaligus owner Omah Djamoe Arroyyan, Indri Kusuma Dewi, mengungkapkan Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan obat tradisional. Jumlah produsen jamu se-Indonesia sebanyak 1.166 orang. Mayoritas produsen jamu berdomisili di Jateng terutama Sukoharjo.

“Saat ini, pangsa pasar jamu di luar negeri selalu meningkat setiap tahun. Paling banyak [pangsa pasar jamu di luar negeri] Bangladesh dan Pakistan. Artinya, bisnis jamu herbal cukup menjanjikan pada masa mendatang,” jelasnya.

LOKER SOLO
Siapa Mau Kerja di Dealer ASTRA, Cek Syaratnya di Sini, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Murid Kencing Berlari, Guru (Honorer) Mati Seorang Diri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (5/2/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Pendidikan Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Bambang Ekalaya atau sering disebut Palgunadi adalah…