Tim Polres Karanganyar melakukan olah TKP lanjutan di lokasi Diksar Mapala Unisi/UII di Tlogodringo, Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, Jumat (27/1/2017). (Kurniawan/JIBI/Solopos) Tim Polres Karanganyar melakukan olah TKP lanjutan di lokasi Diksar Mapala Unisi/UII di Tlogodringo, Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, Jumat (27/1/2017). (Kurniawan/JIBI/Solopos)
Kamis, 1 Februari 2018 18:17 WIB Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

Mahasiswa Amikom Tewas Saat Ikuti Kegiatan Mapala

Mahasiswa Amikom tewas saat tengah repling.

Solopos.com, SLEMAN–Seorang mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta meninggal dunia saat mengikuti kegiatan Mayapala Junggle School yang digelar mahasiswa pencinta alam (Mapala) Amikom.

Wakil Rektor III Universitas Amikom Yogyakarta, Ahmad Fauzi mengatakan mahasiswanya yang meninggal atas nama Dwi Aprilianda, 18, Mahasiswa semester 1 jurusan D3 Teknik Informatika yang beralamat di Desa Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Sleman. Dwi meninggal saat mengikuti kegiatan Mapala pada hari pertama di Jembatan Babarsari, Kecamatan Depok, Rabu (31/1/2018).

“Saat repling (rapplling) sedang naik tali sudah tinggal sedikit itu yang bersangkutan kecapaian mungkin, terus lemas gitu lo. Pokoknya lemas sudah tidak bisa naik lagi. Tidak terjatuh itu semuanya safety, tidak ada luka apa-apa” kata dia kepada Harianjogja.com, Kamis (1/2/2018).

Setelah mengetahui kondisi tersebut, Dwi langsung mendapatkan pertolongan pertama. Karena kondisinya tidak membaik, dia lalu dilarikan ke Rumah Sakit Hermina. Tetapi beberapa saat kemudian sekitar pukul 15.30 WIB dinyatakan meninggal oleh tim dokter. Namun demikian hingga saat ini pihak kampus belum mengetahui secara pasti penyebab kematiannya.

“Penyebabnya [kematian] kami belum tahu. Saat kami minta diagnosis resmi kepada dokter, dokter bilang akan memberikan diagnosis resmi kepada keluarga, sehingga pihak kampus jika ingin mengetahui hasil pemeriksaan bisa minta izin ke keluarga,” ujarnya.

Setelah dari rumah sakit, jenazah korban pun langsung diserahkan kepada pihak keluarga. Pada Kamis sekitar pukul 11.00, jenazah Dwi dimakamkan.

Di sisi lain, dengan adanya peristiwa ini untuk sementara kegiatan Mapala Mayapala pun dihentikan karena masih dalam suasana berkabung. Pihak kampus juga akan mengevaluasi secara internal terkait dengan adanya peristiwa ini. Salah satu yang dilakukan adalah dengan memperketat seleksi mahasiswa yang hendak mengikuti kegiatan kampus yang membutuhkan ketahanan fisik dan kesehatan yang baik.

“Kedepan agar lebih selektif lagi dalam merekrut anggota karena namanya pencinta alam itu pendidikan dasarnya kan harus membutuhkan fisik, jasmani dan rohaninya kan harus sehat,” kata Fauzi.

Tewasnya mahasiswa Amikom menambah panjang daftar mahasiswa yang tewas saat mengikuti kegiatan pecinta alam di Jogja. Tahun lalu, tiga mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) tewas saat mengikuti kegiatan pendidikan dasar yang dihelat Mapala kampus tersebut.

Lowongan Pekerjaan
Kepala Sekolah KB & TKIT Alhikam Delanggu, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Murid Kencing Berlari, Guru (Honorer) Mati Seorang Diri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (5/2/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Pendidikan Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Bambang Ekalaya atau sering disebut Palgunadi adalah…