Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir (kiri) didampingi mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Bambang Setiaji, memberi keterangan pers di ruang Rektor UMS, Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Kamis (4/2/2018). (Iskandar/JIBI/Solopos)
Kamis, 1 Februari 2018 19:30 WIB Iskandar/JIBI/Solopos Peristiwa Share :

Kontroversi Pidato Kapolri, Haedar Nashir Sebut Muhammadiyah Tak Ingin Diistimewakan

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyebut organisasinya tak ingin diistimewakan, menyusul kontroversi pidato Kapolri.

Solopos.com, SUKOHARJO — Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, meminta tokoh bangsa agar lebih arif dan bijaksana dalam betutur kata. Pernyataan ini terkait pidato Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang dituding tidak menganggap ormas Islam selain NU dan Muhammadiyah.

Hal itu dikatakan Haedar saat menghadiri Kuliah Umum dan Launching Kuliah Jarak Jauh di Gedung Induk Siti Walidah Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Kamis (1/2/2018).

Sebelumnya diberitakan berbagai media massa, video pidato Tito itu menjadi viral. Bahkan, Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), Tengku Zulkarnain, membuat surat terbuka melalui akun Facebooknya tertanggal 29 Januari 2018. Intinya, dia menuding pernyataan Tito tidak menganggap perjuangan umat Islam di luar ormas NU dan Muhammadiyah.

Lebih lanjut Haedar mengatakan pada saat yang sama berharap masyarakat luas tidak menghebohkannya. Dalam hal ini, Haedar mengaku berkhusnuzan (berprasangka baik). Dia menduga Kapolri hanya berniat memberi apresiasi yang lebih tinggi.

Haedar menilai pernyataan Kapolri itu terjadi saking semangatnya Kapolri dalam berpidato. Dia yakin seluruh elite bangsa ini mempunyai pandangan bahwa semua kekuatan dan golongan bangsa itu mempunyai peran dalam kehidupan kebangsaan.

Dia meminta persoalan ini dijadikan pelajaran bagi semua pihak, termasuk Kapolri. “Mungkin kekurangan Kapolri membuat exception bahwa hanya ada dua. Saya pikir ini soal apa ya, kesemangatan, dan kadang juga hal-hal yang stressing dalam lisan dan ucapan,” ujar Haedar.

Menurutnya, Muhammadiyah juga tidak ingin terlalu diistimewakan karena pihaknya mengakui seluruh bangsa ini mempunyai peran. Dia mengimbau agar persoalan ini digunakan sebagai pelajaran, karena selalu ada dalam perjalanan kehidupan kebangsaan ini ucapan-ucapan yang keliru, tidak, pas dan sebagainya.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…