Ilustrasi persediaan bahan bakar minyak (BBM) Pertamina. (JIBI/Bisnis/Dok.) Ilustrasi persediaan bahan bakar minyak (BBM) Pertamina. (JIBI/Bisnis/Dok.)
Kamis, 1 Februari 2018 19:50 WIB Imam Yuda S./JIBI/Semarangpos.com Semarang Share :

KELANGKAAN BBM
Begini Dampak Krisis BBM bagi Warga Karimunjawa

Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) melanda Karimunjawa, Jepara.

Solopos.com, KARIMUNJAWA – Sudah lebih dari dua pekan kawasan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah (Jateng) mengalami kelangkaan bahan bakar minyak (BBM). Kondisi itu pun membuat aktivitas warga di pulau yang kerap dijuluki Paradise of Java menjadi terganggu.

Sekretaris Kecamatan Karimunjawa, Nur Soleh Prasetyawan, mengatakan kelangkaan BBM tak hanya mengganggu aktivitas warga. Krisis BBM juga berdampak pada kunjungan wisatawan ke pulau yang terletak di tengah-tengah Laut Jawa tersebut.

“Kalau dulu, saat kondisi normal, kunjungan wisatawan ke Karimunjawa bisa mencapai 1.000 orang per pekan. Kini, tinggal 5%-nya. Penurunan jumlah wisatawan, selain karena kelangkaan BBM juga cuaca buruk yang terjadi akhir-akhir ini,” tutur Soleh saat dihubungi Semarangpos.com, Kamis (1/2/2018).

Soleh mengatakan sampai saat ini Karimunjawa belum mendapat kiriman BBM dari Pertamina. Kali terakhir, BBM diperoleh masyarakat Karimunjawa adalah pada pertengahan Desember 2017.

Kondisi itu pun membuat ketersediaan BBM baik di tingkat pengecer maupun stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) kosong.

“Di sini [Karimunjawa] cuma ada satu SPBU, yakni SPBU AMS. Itu pun sudah tutup sejak beberapa pekan lalu dan tidak melayani pelanggan karena sudah tidak memiliki stok BBM,” tutur Soleh.

Dengan kelangkaan BBM itu pun masyarakat Karimunjawa menjadi sulit beraktivitas. Tidak hanya anak-anak sekolah, para aparatur sipil negara (ASN) pun harus berjalan kaki maupun menggunakan sepeda untuk mencapai lokasi tujuan.

“Jumlah kendaraan yang melintas di jalanan saat ini jumlahnya juga sangat sedikit. Mungkin terdampak kelangkaan BBM,” beber Soleh.

Soleh menambahkan kelangkaan BBM tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat di daratan. Krisis BBM juga memberikan dampak bagi para nelayan yang mencari mata pencarian di laut.

“Terutama untuk nelayan penangkap cumi. Mereka sekarang tidak bisa melaut karena habisnya stok BBM jenis Pertalite. Untuk penangkap cumi kan tidak hanya butuh Solar untuk menjalankan mesin kapal, tapi mereka juga butuh bensin untuk menghidupkan genset. Kalau enggak ada genset, mereka tidak bisa menghidupkan lampu penerangan saat malam hari untuk mencari cumi,” beber Soleh.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…