Malioboro Berhias Lampion Khas China
Kamis, 1 Februari 2018 10:20 WIB Rima Sekarani I.N/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Hotel di Jogja Siapkan Promo Valentine dan Hari Raya Imlek

Februari umumnya menjadi awal dari masa sepi kunjungan wisata yang kemudian berdampak terhadap rendahnya okupansi hotel

 

Solopos.com, JOGJA-Februari umumnya menjadi awal dari masa sepi kunjungan wisata yang kemudian berdampak terhadap rendahnya okupansi hotel. Namun, momen perayaan hari kasih sayang dan tahun baru Imlek dianggap bakal menjadi peluang yang potensial.

Hal tersebut diungkapkan Sales Marketing Manager Jambuluwuk Malioboro Hotel Yogyakarta, Silvia Herliana Pramono kepada Solopos.com, Senin (29/1/2018).

Dia mengatakan, dua momen itu kebetulan juga terjadi pada pekan yang sama, yakni pertengahan Februari. “Valentine hari Rabu lalu Imleknya Jumat. Itu malah jadi ada masa long weekend,” ujar dia.

Silvia mengatakan okupansi Jambuluwuk Malioboro Hotel Yogyakarta diketahui mencapai sekitar 70% di penghujung Januari ini. Pihaknya berharap bisa meraih capaian yang sama pada Februari nanti atau setidaknya 60%.

Februari hingga Maret memang kerap disebut sebagai low season atau masa sepi kunjungan wisata. Meski begitu, Silvia mengaku cukup optimis tahun ini. Dia juga memastikan tidak ada yang namanya banting harga untuk setiap fasilitas yang disediakan, melainkan hanya beberapa promo. “Untuk Februari nanti, 50% saja sudah dapat,” kata Silvia.

Silvia menambahkan persaingan bisnis perhotelan di DIY diakui semakin ketat dengan terus bertambahnya hotel baru. Setiap hotel mau tidak mau mesti menyusun strategi paling jitu untuk memenuhi target okupansi, mulai dari mengadakan program promo hingga event tertentu.

“Tapi lebih penting lagi untuk selalu memberikan pelayanan prima agar tamu merasa nyaman sehingga mereka nantinya mau memilih hotel kami lagi,” ucap Silvia.

Sebelumnya, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Istidjab Danunagoro mengungkapkan jumlah hotel berbintang akan bertambah dari 157 menjadi 173 unit pada 2018 ini.

Ketersediaan kamar pun otomatis menjadi semakin banyak, yaitu dari 16.739 menjadi 19.322 kamar. “Hotelnya semakin banyak. Jadi persaingan semakin ketat,” ujar Istijab.

Istijab lalu meminta para pelaku bisnis perhotelan tetap bermain cantik dengan terus berinovasi menghasilkan produk yang efektif untuk menggaet tamu. Hal itu misalnya dengan mengadakan promo atau event khusus yang dikemas secara menarik.

Hanya saja, persaingan tidak sehat diakui masih sangat rawan terjadi, terlebih saat menghadapi low season. Menurut Istidjab, banyak hotel yang terkadang merebut pasar yang tidak semestinya karena kejar setoran.

Dia menyontohkan bisa jadi ada hotel bintang empat yang menawarkan fasilitas seharga di hotel bintang tiga atau hotel bintang tiga yang mengambil pasar bintang dua.

LOKER SOLO
Siapa Mau Kerja di Dealer ASTRA, Cek Syaratnya di Sini, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Murid Kencing Berlari, Guru (Honorer) Mati Seorang Diri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (5/2/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Pendidikan Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Bambang Ekalaya atau sering disebut Palgunadi adalah…