Sejumlah kios milik pedagang rusak parah lantaran tertimpa pohon trembesi di pinggir Jl. R.A. Kartini barat Pasar Bunder Sragen, Kamis (1/2/2018). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos) Sejumlah kios milik pedagang rusak parah lantaran tertimpa pohon trembesi di pinggir Jl. R.A. Kartini barat Pasar Bunder Sragen, Kamis (1/2/2018). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)
Kamis, 1 Februari 2018 17:35 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

5 Kios, 1 Mobil, dan 9 Motor Remuk, 1 Orang Patah Tulang akibat Pohon Tumbang di Sragen

Pohon tumbang di barat Pasar Bunder Sragen mengakibatkan lima kios, satu mobil, dan sembilan motor rusak serta satu orang patah tulang.

Solopos.com, SRAGEN — Pohon trembesi berumur seratusan tahun tumbang lantaran batang pohon lapuk di Jl. R.A. Kartini barat Pasar Bunder Sragen, Kamis (1/2/2018) pukul 03.45 WIB. Pohon berdiameter hampir 1 meter itu tumbang mengenai lima kios milik pedagang sementara batangnya menimpa satu mobil pikap berpelat nomor AD 1856 WN, dan sembilan motor.

Seorang pedagang juga mengalami patah tulang pada tangan kanannya. Pedagang yang patah tulang bernama Muji/Puji, 50, warga Destrikan, Sragen Wetan, Sragen. Muji dilarikan ke RS Karima Utama Kartasura untuk menjalani operasi.

Sementara mobil pikap merek Suzuki Mega Carry yang rusak milik Sumarno, 37, warga Pengkok RT 001, Kedawung, Sragen. Sembilan motor milik pedagang itu di antaranya Honda Beat, Yamaha Vega R, Honda Supra, dan Suzuki Satria ringsek.

Pagi itu Sukarsih, 40, warga Widoro RT 039/RW 012, Sragen Wetan, membuka kios di pinggir Jl. R.A. Kartini tepatnya di lahan milik Pabrik Gula Mojo pada pukul 01.00 WIB. Pada saat bersamaan, Sarono, 55, bersama istrinya, Muji, 50, juga datang membuka kios kelapa.

Kios Sukarsih dan Muji bersebelahan dan sama-sama jualan kelapa. Pohon trembesi berukuran besar berada di antara dua kios milik Sukarsih dan Muji.

“Saya duduk di bawah pohon itu. Awalnya hanya ranting-ranting yang jatuh. Kemudian terdengar suara kretek-kretek. Saya langsung berlari keluar kios menuju kios di seberang jalan. Nah, Pak Sarono dan Bu Muji tidak ikut lari. Untungnya pohon tumbang ke arah selatan dan kios Bu Muji berada di utara pohon itu persis. Bu Muji tertimpa rerimbuhan daun bercampur batang pohon. Setelah diperiksa ternyata tangan Bu Muji sebelah kanan seperti patah. Kalau Pak Sarono tidak apa-apa,” kisah Sukarsih saat berbincang dengan Solopos.com seraya mengupas kulit kelapa, Kamis siang.

Sukarsih dan beberapa pedagang lainnya di sebenarnya sudah melaporkan kondisi pohon besar yang sudah lapuk itu kepada pengelola pasar beberapa bulan lalu tetapi belum ada respons. Sumarno, 37, pedagang lele, asal Pengkok, Kedawung, saat itu juga nyaris tertimpa pohon itu. Ia bersama istrinya langsung lari ke dalam kios dan mereka pun selamat.

Tetapi mobil pikap Suzuki Mega Carry yang dibeli senilai Rp102 juta secara tunai pada 2013 lalu menjadi korban timpaan pohon. Bagian kaca sopir remuk beserta pintu kanan. Ia berharap bisa mendapat bantuan akibat kerugian ini.

“Selain mobil saya, ada sembilan motor yang juga kena pohon tumbang itu. Kebetulan motor-motor itu parkir di depan mobil saya. Pohon itu sebenarnya sudah saya laporkan ke Badan Lingkungan Hidup [BLH] setahun lalu tetapi tidak ada respons,” ujarnya.

Sumarno menyampaikan kerugian akibat pohon tumbang itu mencapai seratusan juta rupiah. Di tempatnya saja, Sumarno mengklaim rugi Rp50 juta. Padahal kios kacamata di sebelahnya juga rusak parah belum lagi kios kelapa dan kios wedangan milik Kayono, 60, warga Dulang, Kedawung, yang rusak parah.

Selain itu, kios tukang cukur milik Parno, 65, warga Bedoro RT 020, Sragen Wetan, juga tidak berbentuk. Sejumlah pekerja dari Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Sragen sibuk membersihkan potongan pohon di pinggir jalan.

Batang pohon itu sudah dipotongi tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) pada Kamis pagi. Kepala Pelaksana BPBD Sragen Dwi Sigit Kartanto menyampaikan ada sembilan personel BPBD yang diterjunkan untuk mengevakuasi pohon tumbang itu.

“Selain BPBD, ada personel TNI, Polri, dan warga sekitar yang ikut bergabung. Evakuasi pohon selesai pada pukul 06.00 WIB. Kami mencatat kerugiannya mencapai Rp100 juta,” ujarnya.

Kasi Pertamanan dan Permakaman Disperkim Sragen, Ismail Adi Pratama, mengerahkan tenaga untuk mengangkut potongan batang pohon. Dia mengaku mendapat laporan pohon yang berpotensi tumbang di ujung selatan Pasar Bunder. Pohon yang tumbang itu, kata dia, tidak dilaporkan ke Disperkim.

“Saya mencatat ada sembilan pohon besar yang berpotensi tumbang. Dini hari tadi tidak hujan dan angin tetapi pohon tumbang. Pohon itu doyongnya ke arah timur tetapi kok robohnya ke selatan. Kalau roboh ke timur korbannya lebih banyak. Kami berencana memangkas ranting dan mendeteksi kekuatan batang pohon itu yang tersisa,” ujarnya.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…