Bandung Mawardi Bandung Mawardi (Istimewa)
Rabu, 24 Januari 2018 05:00 WIB Kolom Share :

GAGASAN
Mengenang (Pendidikan) Guru

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (24/11/2017). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com.

Solopos.com, SOLO–Pada akhir abad XIX orang-orang Jawa mulai memiliki cita-cita baru. Sekian orang ingin menjadi guru seperti tuan kulit putih asal Belanda: mengajar di sekolah.

Guru tampak berpenampilan rapi, bertutur kata sopan, dan memiliki gaji memadai untuk hidup. Ranggawarsita mencatat jenis pekerjaan itu dalam Serat Jayengbaya.

Ia menggubah karya sastra mengandung obsesi, sindiran, dan terasa lucu: luwih enak dadi guru, ugere wis klimah/ sungo marah marang murid/ marem sakeh siswaningwang/ nyana ngelmu ketes-ketes/ satemene saking padha/ bodhone kang miluta/ marmane mempeng atiku…

Orang ingin menjadi guru cuma berbekal bisa membuat kalimat. Di sekolah guru itu mengajar berlagak paling pintar dan luhur. Lagak itu disokong oleh ketololan para murid.

Jayengbaya malah merasa bersalah dan takut jika menjadi guru sombong dan sembrono. Cita-cita jadi guru pun dibatalkan agar tak menjerumsukan orang dalam muslihat ilmu dan kebodohan.

Ranggawarsita menggubah Serat Jayengbaya antara 1822-1830 saat Jawa mulai kedatangan para pendakwah, sarjana, dan guru asal Belanda. Sekolah-sekolah modern diadakan di Jawa tapi membedakan posisi: bocah-bocah Jawa menjadi murid dan orang-orang Belanda atau Eropa menjadi guru.

Keluarga bangsawan dan elite menginginkan bocah-bocah bersekolah untuk pintar, mengubah nasib, dan berharapan mendapat pekerjaan di birokrasi kolonial. Bocah-bocah itu diharuskan patuh pada segala petunjuk para guru dari negeri jauh.

Guru-guru itu berada di sekolahan dengan bangunan khas modern. Para murid Jawa perlahan kagum pada guru. Mereka berhak memiliki cita-cita menjadi guru meski secara hierarkis tetap bakal ada di urutan bawah. Dulu, posisi terpenting selalu dimiliki guru-guru asal Belanda.

Situasi itu ditanggapi Ranggawarsita dengan gubahan sastra, mencatat ada keinginan orang Jawa menjadi guru: mengajar murid-murid dengan ilmu-ilmu baru berasal dari negeri-negeri jauh. Catatan itu mendahului kebijakan pemerintah kolonial mendirikan sekolah pendidikan guru di Solo pada 1852.

Selanjutnya adalah: Sekolah-sekolah untuk kaum bumiputra

Lowongan Pekerjaan
Kepala Sekolah KB & TKIT Alhikam Delanggu, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Murid Kencing Berlari, Guru (Honorer) Mati Seorang Diri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (5/2/2018). Esai ini karya Lardianto Budhi, guru Pendidikan Seni dan Budaya di SMAN 1 Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah s.p.pandamdriyo@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Bambang Ekalaya atau sering disebut Palgunadi adalah…