Pemakaman korban pembunuhan. Kerabat korban pembunuhan di Boyolali, Dera, mengiringi jenazah korban ke pemakaman di Semarang, Selasa (23/1/2018). (JIBI/Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
Selasa, 23 Januari 2018 15:28 WIB Imam Yuda S./JIBI/Semarangpos.com Peristiwa Share :

PEMBUNUHAN BOYOLALI
Kaos Abu-Abu dan Permintaan Terakhir Dera

Pembunuhan, korbannya merupakan seorang wanita asal Semarang yang mayatnya ditemukan di Waduk Cengklik Boyolali.

Solopos.com, SEMARANG – Mengenakan kaos berwarna abu-abu, belasan orang terlihat bergerombol di depan rumah kontrakan ibunda Dera Dewanti Dirgahayu yang terletak di Jl. Bukit Menur I RT 006/RW 020, Perumnas Bukit Sendangmulyo, Tembalang, Selasa (23/1/2018) siang. Wajah mereka terlihat sedih karena baru saja kehilangan sosok sahabat, yakni Dera.

Kematian Dera memang menjadi duka tersendiri bagi kerabat dekat serta sahabatnya. Hal itu dikarenakan Dera tewas secara mengenaskan, yakni menjadi korban pembunuhan yang diduga terjadi di rumah kontrakannya di Perum Sawahan Indah RT 001/RW 001, Padokan, Sawahan, Boyolali.

[Sadis! Dera Dihabisi di Rumah Lalu Dibuang ke Waduk Cengklik]

Tragisnya, mayat wanita yang bekerja di sebuah bank swasta di Boyolali itu ditemukan dengan kondisi tanpa busana di area persawahan Waduk Cengklik. Tak hanya itu, di tubuh korban juga ditemukan sejumlah luka yang diduga akibat tindak kekerasan atau penganiayaan.

Seorang rekan korban, Ciplik, menyebutkan sebelum mengalami peristiwa nahas itu, korban sempat mengajak bertemu dengan rekan-rekan alumni SMPN 17 Semarang angkatan 1994. Pertemuan digelar Sabtu (21/1/2018) atau dua hari sebelum korban ditemukan tewas.

Tapi, Ciplik tak menyangka jika pertemuan dengan korban itu menjadi yang kali terakhir. “Kami ketemu untuk membahas reuni yang akan digelar Minggu [28/1/2018] depan. Korban bilang itu pertemuan terakhir. Kami sih enggak punya firasat buruk, karena itu memang pertemuan terakhir sebelum reuni digelar,” ujar Ciplik saat dijumpai Semarangpos.com di rumah duka, Selasa.

Ngebet Reuni

Ciplik menambahkan korban memang ngebet reuni alumni SMPN 17 angkatan 1994 itu terlaksana. Ia bahkan siap menjadi panitia seksi acara dan master of ceremony (MC). Agar reuni itu terealisasi, korban bahkan minta agar pesanan kaos berwarna abu-abu yang dikenakan saat reuni segera diselesaikan.

“Kebetulan kaosnya sudah jadi. Tapi, korban tidak sempat mengenakannya. Jadi kami berikan ke keluarga almarhum,” imbuh Ciplik.

Senada juga diungkapkan Ema. Rekan seangkatan korban saat menempuh pendidikan di SMPN 17 Semarang itu mengaku kehilangan sosok Dera.

[Begini Keseharian Dera Sebelum Mayatnya Ditemukan di Waduk Cengklik]

“Semasa hidup, korban dikenal ceria. Tapi, saat pertemuan terakhir dia terlihat murung. Mungkin karena banyak masalah, apalagi ibunya baru saja mengalami kecelakaan hingga almarhum harus bolak-balik Solo-Semarang untuk merawat,” beber Ema.

Sementara itu, salah satu tetangga korban yang enggan disebutkan namanya mengaku kematian korban meninggalkan sejumlah misteri. Hal itu dikarenakan mobil jenis Honda Jazz yang digunakan korban juga turut hilang.

“Setahu kami korban punya mobil Jazz. Kata kakanya mobilnya juga enggak ada dan di rumahnya ditemukan banyak bercak darah,” beber tetangga korban itu.

[Jenazah Dera Dimakamkan di TPU Jangli Tlawah Jatingaleh Semarang]

Sementara itu, prosesi pemberangkatan jenazah Dera berlangsung khidmat. Sejumlah kerabat dan keluarga korban tampak hadir memberi penghormatan terakhir sebelum pemakaman. Korban dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Jangli Tlawah, Candisari, Semarang, sekitar pukul 13.00 WIB.

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…