Sutiyati memperlihatkan foto anak bungsunya almarhum Taufik Nurhidayat dari sebuah bingkai foto keluarga di Rumahnya Sidoarum, Godean, Selasa (23/1/2018). (Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja) Sutiyati memperlihatkan foto anak bungsunya almarhum Taufik Nurhidayat dari sebuah bingkai foto keluarga di Rumahnya Sidoarum, Godean, Selasa (23/1/2018). (Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja)
Selasa, 23 Januari 2018 20:55 WIB Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

Duka Ibu Korban Klithih di Godean, Si Bungsu yang Berjuang Hidup Meregang Nyawa karena Celaka

Meninggalnya korban aksi pelemparan batu atas nama Taufik Nurhidayat, 39, masih menyisakan duka yang mendalam bagi keluarga

Solopos.com, SLEMAN– Meninggalnya korban aksi pelemparan batu atas nama Taufik Nurhidayat, 39, masih menyisakan duka yang mendalam bagi keluarga. Meski pelaku telah ditangkap, keluarga masih belum dapat menerima perbuatan pelaku yang dinilai sadis.

Baca juga : Pelaku Pelemparan Batu di Godean dalam Pengaruh Alkohol dan Obat penenang

Hujan deras mengguyur rumah pasangan suami istri Muhammad Basor dan Sutiyani di Jalan Cermai B7, Perum II Sidoarum, Godean pada Selasa (23/1/2018) siang. Dari dalam rumah, suasana duka masih menyelimuti. Kaca mata yang dikenakan Sutiyani tak mampu menghalangi orang untuk dapat melihat matanya yang masih sembab.

Meski sudah dua pekan putra bungsunya Taufik Nurhidayat meninggalkan dia, tak jarang Sutiyani masih terngiang hingga meneteskan air mata. Kala duduk sendirian dan ada bunyi mobil melintas di depan rumah, seketika itu jua dia teringat putranya yang biasa datang mengunjunginya.

Di bawah suara guyuran hujan, wanita 78 tahun ini bercerita mengenang salah satu diantara tiga putra kesayangannya itu. Taufik merupakan anak yang paling sering bertemu dia, sebab dua kakaknya yang lain sudah tinggal jauh di luar kota.

Meski satu setengah tahun terakhir Taufik telah pindah di rumahnya yang baru di Kecamatan Sedayu, Bantul, tetapi hampir setiap pekan dia selalu berkunjung ke rumah orang tuanya.

Kunjungannya itu pun semakin terjadwal seiring dengan jadwal berobat untuk mengobati penyakit diabetes dan gagal ginjal yang dia derita beberapa bulan terakhir.

Dua kali dalam sepekan Taufik harus melakukan cuci darah di Rumah Sakit Akademik. Dan seusai atau sebelum berobat dia pasti menyempatkan berkunjung.

Sesaat sebelum cuci darah terakhirnya, Taufik menyempatkan mampir ke rumah orang tuanya, Kamis (4/1/2018) pagi sekitar pukul 06.00 WIB dia menyempatkan mandi dan makan sebelum berangkat ke rumah sakit.

Taufik berjanji kepada sang ibu, selesai cuci darah dia akan kembali mampir ke rumah selepas magrib. Namun karena ada urusan pekerjaan dan acara reuni dengan teman-teman sekolahnya, Taufik baru sempat mampir sekitar pukul 20.30 WIB.

“Dia [Taufik] masuk rumah saya suruh bawa sembako ada beras, telur, dan minuman kemasan untuk anaknya. Dia mampir cuma sebentar sama sekali tidak duduk. Dia juga bawa apel dari kulkas untuk dimakan di jalan,” kata dia kepada Harianjogja.com, Selasa (23/1/2018).

Tak disangka pertemuan tersebut adalah pertemuan terakhir sang ibu dengan Taufik yang dalam kondisi sadar. Setelah sebelumnya putranya itu sempat mengeluh karena sakit yang dideritanya begitu hebat, dia akhirnya meninggal lantaran dicelakai orang.

Sepulang mengunjungi orang tuanya, Taufik mendapatkan celaka di jalan. Mobil yang dia kemudikan dilempar batu bersisi tajam hingga mengenai bagian kepalanya. Sempat dirawat di rumah sakit, namun lima hari kemudian dia meninggal dunia.

Rasa sedih dan marah bercampur dalam benak Sutiyani tatkala mengetahui putranya itu meninggal lantaran dicelakai orang. Perasanan marah itu timbul lantaran dia merasa pelaku sangat sadis padahal putranya itu tidak memiliki salah apa-apa.

Sedangkan dia sedih karena putranya itu meninggal dalam kondisi teraniaya dan harus meninggalkan keluarga, istri, dan anak yang masih TK.

Oleh karena itu bagi dia sulit untuk dapat memaafkan pelaku. “Saya dunia akhirat tidak bisa memaafkan pelaku yang membuat anak saya meninggal seperti itu [teraniaya],” ujarnya.

Lowongan Pekerjaan
Kepala Sekolah KB & TKIT Alhikam Delanggu, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Urgensi Mendesain Ulang Prolegnas

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (14/2/2018). Esai ini karya Isharyanto, dosen Hukum Tata Negara di Universita Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah isharyantoisharyanto8@gmail.com.  Solopos.com, SOLO–Sidang paripurna DPR di ujung 2017 lalu dibuka dengan laporan 50 rancangan undang-undang (RUU)…