Empat peserta pilkada atau Pilgub Jateng (dari kiri ke kanan) Ida Fauziyah, Sudirman Said, Ganjar Pranowo, dan Taj Yasin. (JIBI/Solopos/Antara/R. Rekotomo) Empat peserta pilkada atau Pilgub Jateng (dari kiri ke kanan) Ida Fauziyah, Sudirman Said, Ganjar Pranowo, dan Taj Yasin. (JIBI/Solopos/Antara/R. Rekotomo)
Senin, 22 Januari 2018 22:50 WIB JIBI/Solopos/Newswire Semarang Share :

PILKADA 2018
Survei Forum Jateng Gayeng Ungkap 87% Pemilih Gemari Politik Uang

Pilkada serentak 2018 di Jateng ditengarai Forum Jateng Gayeng (FJG) diwarnai 87% pemilih yang menggemari money politics alias politik uang.

Solopos.com, SEMARANG — Survei yang dilakukan Forum Jateng Gayeng (FJG) mengungkapkan 87% pemilih di Jawa Tengah baru akan menggunakan hak pilih mereka setelah mendapatkan uang dari peserta pemilihan umum kepala daerah (pilkada). Nilai uang yang mereka inginkan berkisar Rp20.000/orang hingga Rp100.000/orang.

Kenyataan mengejutkan tentang gemarnya warga Jateng dengan money politics atau politik uang itu diungkapkan Ketua Forum Jateng Gayeng (FJG), Ahmad Robani Albar, Sabtu (20/1/2018). “Berdasarkan survei kami 87% pemilih itu mau memilih karena dikasih uang. Sisanya yang 13% itu rata-rata karena kenal, memiliki hubungan saudara dan sebagainya,” paparnya.

Menurut Ahmad Robani Albar, survei dilakukan di seluruh daerah provinsi Jateng dengan melibatkan jajaran pengurus Forum Jateng Gayeng (FJG). Sementara sampel yang menjadi responden adalah semua lapisan masyarakat baik pekerja formal maupun nonformal.

“Kami punya pengurus se-Jateng dan semua pengurus terjun ke masyarakat mengadakan survei ke masyarakat, baik di jalanan maupun mal. Mulai dari tukang becak dan sebagainya. Pertanyaan kami sederhana, ‘Pak/Bu seandainya ada pilgub Bapak/Ibu pilih siapa?’ Rata-rata mau mencoblos jika ada yang ngasih uang,” jelasnya sebagaimana dipublikasikan laman aneka berita Okezone.com.

Seperti kerap diberitakan, terdapat dua pasangan calon yang akan maju dalam perhelatan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) Jateng sebagai rangkaian pilkada serentak 2018. Keduanya adalah Ganjar Pranowo dan Taj Yasin yang diusung PDIP, PPP, Nasdem, dan Demokrat, serta Sudirman Said dan Ida Fauziyah yang diusung Partai Gerindra, PKB, PKS, dan PAN.

Pengamat politik dari Universitas Diponegoro (Undip), Teguh Yuwono, mengatakan pertarungan dua pasangan di Pilgub Jateng akan sengit, karena keduanya memiliki dukungan partai yang sama kuat. “Kalau dilihat dari partai pengusung, saya kira fifty-fifty. Tapi kan penentuan kalah dan menang tidak berbanding lurus dengan jumlah parpol pengusung. Pemilu dengan pilkada itu beda karena ada pertarungan figur di sana,” ujarnya.

Dia mengatakan, figur-figur peserta pilkada atau tepatnya Pilgub Jateng 2018 juga memiliki kekuatan berimbang sehingga berpotensi menarik perhatian pemilih. “Kompetisi ini [pilkada] banyak aspek, tak hanya partai tetapi juga figur. Dinamika pemilih itu kan selalu berkembang setiap saat, karena itu harus didorong supaya bisa lebih kreatif dalam melakukan proses terhadap pemilihan figur,” ulasnya.

Untuk itu masing-masing koalisi parpol harus bekerja keras untuk mengenalkan paslon yang diusung agar menarik simpati pemilih. “Bagaimana rakyat mau membeli [memilih] bukan itu [paslon] bisa dijual atau tidak. Jika barang enggak bagus amat tapi pembeli suka ya tetap dibeli.”

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Visi Pedagogis Daoed Joesoef

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (27/01/2018). Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015) dan Pembaca Serakah (2017). Alamat e-mail penulis adalah fauzi_sukri@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Indonesia, khususnya dunia pendidikan, kehilangan sosok pemikir pedagogis tangguh yang…