Petani membentangkan pamflet bertuliskan “Stop Impor Beras”, saat aksi unjuk rasa tunggal di area persawahan Desa Undaan, Kudus, Jateng, Senin (15/1/2018). (JIBI/Solopos/Antara/Yusuf Nugroho) Petani membentangkan pamflet bertuliskan “Stop Impor Beras”, saat aksi unjuk rasa tunggal di area persawahan Desa Undaan, Kudus, Jateng, Senin (15/1/2018). (JIBI/Solopos/Antara/Yusuf Nugroho)
Minggu, 21 Januari 2018 19:32 WIB M. Richard/JIBI/Bisnis Ekonomi Share :

Impor Beras Masif, Neraca Perdagangan Indonesia Terancam Defisit

Kebijakan impor beras dan bahan pangan awal tahun ini dinilai bisa membuat neraca perdagangan Indonesia defisit.

Solopos.com, JAKARTA — Surplus neraca perdagangan Indonesia yang selama ini dibanggakan terancam menjadi defisit seiring kebijakan impor masif dari pemerintah. Awal tahun ini, muncul beberapa rencana impor, seperti beras, garam, dan daging beku.

Ekonom Institute for Developement of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara berharap pemerintah diharapkan lebih berhati-hati dalam menjaga keseimbangan ekonomi di tengah maraknya kebijakan impor sejumlah bahan pangan di awal tahun.

“Kontribusi impor terhadap neraca perdagangan kita juga akan makin besar, dan membuat yang tadinya surplus malah menjadi defisit di tahun 2018,” katanya kepada Bisnis/JIBI, Jumat (19/1/2017).

Bhima menilai surplus neraca perdagangan 2017 tidak begitu signifikan. Meskipun ekspor naik 16%, tetapi impor juga tumbuh 15%. “Artinya net ekspor kita sangatlah kecil, bahkan di data terakhir itu cuma 0,67%,” tuturnya.

Adapun jika melihat neraca perdagangan pada November 2017, terlihat berada pada posisi defisit dan kembali surplus pada di Desember 2017. Ini menandakan pemerintah perlu berhati-hati dalam mengambil langkah impor karena sedikit tekanan bisa membuat neraca perdagangan kembali defisit.

Pemerintah memutuskan untuk mengimpor 500.000 ton beras bersertifikasi khusus yang rencananya akan masuk pada akhir Januari ini. Nantinya, harga beras akan dijual di bawah harga eceran tertinggi beras medium untuk menstabilkan harga beras medium. Baca juga: Kementan Duga Ada yang “Goreng” Harga Sebelum Impor Beras.

Keputusan impor diambil setelah harga beras medium maupun premium melambung dalam beberapa hari terakhir. Secara nasional, beras medium sempat menyentuh harga Rp11.500/kg atau diatas harga eceran tertinggi (HET) sebesar Rp9.450/kg. Sedangkan beras premium sempat naik Rp13.000/kg atau diatas HET Rp12.800/kg.

Padahal, Kementerian Pertanian (Kementan) membantah terjadinya kekurangan stok beras. Stok beras pada Januari 2018 sebanyak 930.000 ton tidak dapat diartikan kekurangan pasokan. Baca juga: Kemendag Ingin Impor Beras, Mentan Bantah Kekurangan Stok.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan stok beras 930.000 ton pada Januari ini tidak kurang karena padi telah memasuki masa panen. “Oh iya, Oktober [mulai memasuki musim] hujan, berarti Oktober, November, Desember, dan Januari ada panen secara logika,” tuturnya kepada wartawan, di Jakarta, Jumat (12/1/2018).

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…