Ganjar Pranowo Lesehan Ganjar Pranowo Lesehan
Minggu, 21 Januari 2018 06:00 WIB Asiska Riviyastuti/JIBI/Solopos Ekonomi Share :

Gubernur Ganjar Pranowo Tegaskan Jateng Tak Butuh Beras Impor

Jawa Tengah tak butuh beras impor.

Solopos.com, SOLO — Jawa Tengah dinilai tidak membutuhkan beras impor karena saat ini secara parsial sudah mulai ada petani yang panen di beberapa daerah. Masuknya beras impor dinilai akan merugikan petani.

Jawa Tengah merupakan salah satu daerah lumbung padi nasional. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, menyampaikan saat ini sejumlah daerah seperti Sragen, Grobogan, dan Kudus mulai ada petani yang panen. Panen ini akan terus berlanjut dengan puncak panen raya terjadi pada Maret-April.

“Panen di Jawa Tengah cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sejumlah daerah sudah ada yang panen dan Bulog [Badan Urusan Logistik] siap menyerap gabah petani. Oleh karena itu, kalau beras impor datang, silakan untuk daerah lain yang kurang. Kalau nanti Jawa Tengah juga masuk beras impor, kasihan petani karena harga gabah petani turun,” ujar Ganjar kepada wartawan saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Legi, Sabtu (20/1/2018).

Dia mengatakan akan melakukan pengawasan distribusi beras impor supaya tidak masuk ke Jawa Tengah. Sementara itu, berbagai upaya stabilisasi harga terus dilakuan, salah satunya adalah operasi pasar (OP) dengan menjual beras premium seharga Rp9.350/kg yang merupakan sinergi dari berbagai instansi, diantaranya pemerintah provinsi, pemerintah daerah (pemda), Bulog, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), dan Satgas Pangan.

“Selama ini banyak masyarakat yang mengeluh dan protes mengenai harga beras mahal di media sosial. Oleh karena itu, diadakan OP dengan menghadirkan beras medium dari Bulog ini sebagai upaya memberi alternatif ke masyarakat kalau ada beras terjangkau dengan kualitas baik dan rasanya enak,” kata dia.

Kepala Dinas Perdagangan Solo, Subagiyo, menyampaikan OP menggunakan beras cadangan dari Bulog Subdivre III Surakarta. Cadangan beras cukup untuk hingga Maret sehingga kebutuhan masyarakat tetap aman. Akhir Februari panen di Soloraya mulai banyak dan bisa langsung penyerapan gabah dari petani sehingga tidak akan ada kekosongan beras di Solo.

“Beras impor diperkirakan datang akhir Februari saat petani mulai panen. Tapi beras yang dipasarkan di Solo tetap beras lokal. Sistemnya nanti kalau dinilai ada kekurangan beras, Pemkot Solo lapor Bulog untuk dilaporkan ke Kementerian Perdagangan untuk minta beras impor. Tapi kalau beras lokal cukup, tetap memakai beras dari petani,” jelasnya.

Dia mengungkapkan OP ini merupakan lanjutan dari kegiatan yang kali pertama diadakan pada 8 Desember 2017 lalu sebagai salah satu upaya menjawab keluhan masyarakat karena harga tinggi dan kelangkaan beras. Hal ini juga sebagai bentuk kehadiran pemerintah untuk menjaga kebutuhan pangan masyarakat terpenuhi.

Subagiyo mengatakan OP akan terus berlanjut hingga Maret dengan menjual beras medium senilai Rp9.350/kg. OP ini pun dilakukan dengan dua model, yakni langsung oleh Bulog dengan menggunakan mobil dan menggandeng pedagang di pasar tradisional, yakni Pasar Legi, Pasar Rejosari, Pasar Nusukan, Pasar Harjodaksino, dan Pasar Jongke supaya masyarakat makin mudah membeli beras medium dengan harga terjangkau.

Salah satu pedagang di Pasar Legi, Tatik, mengatakan beras Bulog mendapat dua kali kuriman, yakni dua kuintal dan lima kuintal. Menurut dia, beras medium dari Bulog ini mendapat tanggapan positif dari masyarakat karena kualitasnya yang cukup bagus sehingga saat pengiriman pertama langsung habis dalam dua hari. Meski sudah ada beras yang lebih murah, harga beras dari distributor belum menunjukkan ada penurunan, bahkan cenderung masih naik.

Pedagang beras lainnya, Ali Wiyono, menyampaikan kulak beras dari distributor saat ini naik Rp100/kg sehingga dia masih tetap menjual di harga Rp10.000/kg-Rp13.000/kg. Menurut dia, masyarakat lebih memilih membeli beras premium karena beras medium Bulog dinilai aromanya kurang sedap.

 

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Visi Pedagogis Daoed Joesoef

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (27/01/2018). Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015) dan Pembaca Serakah (2017). Alamat e-mail penulis adalah fauzi_sukri@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Indonesia, khususnya dunia pendidikan, kehilangan sosok pemikir pedagogis tangguh yang…