Tampilan laman Triponyu. (Istimewa/triponyu.com) Tampilan laman Triponyu. (Istimewa/triponyu.com)
Sabtu, 20 Januari 2018 00:15 WIB Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos Solo Share :

WISATA SOLO
Menangi Penghargaan dari UNWTO, Website Triponyu Langsung Overload

Startup Triponyu yang digagas untuk mengembangkan potensi pariwisata Solo meraih penghargaan dari UNWTO.

Solopos.com, SOLOStartup di bidang pariwisata yang digagas untuk mengembangkan potensi wisata Solo, Triponyu, mendapatkan penghargaan di bidang inovasi pariwisata dari United Nation World Tourism Organization (UNWTO) atau Organisasi Pariwisata Dunia PBB di Madrid, Spanyol, Rabu (17/1/2018) lalu.

Penghargaan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Pokdarwis dan masyarakat Solo. Saat dipertemukan di Dinas Pariwisata Solo tahun lalu, Pokdarwis dan Triponyu merasa punya visi yang sama dalam pengembangan pariwisata Solo, yakni konsep wisata kampung yang kekinian dan anti-mainstream. (Baca: Triponyu Tawarkan Pelesiran Lebih Bermakna)

Konsep ini berupa pariwisata yang melibatkan langsung wisatawan ke dalam kehidupan masyarakat setempat. “Di Solo, kami sudah mengunjungi dan memotret banyak tempat, selain Baluwarti, kami juga ke Sudiroprajan, Jebres, Bumi, bahkan dua hari sebelum teman-teman Triponyu berangkat ke Madrid, kami sempat jalan-jalan ke Joyotakan.”

Mereka tidak hanya memotret keunikan kampung, tapi juga menulis konsep wisatawanya dan travel pattern-nya. Yang menarik bagi Mintorogo saat bekerja sama dengan Triponyu adalah konsep jalan-jalan yang sederhana, misalnya berkunjung ke kerajinan karak, tempe, kaca, lukis kaca, bahkan akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa di Sudiroprajan.

“Yang penting wisatawan bisa terlibat dan masuk ke kehidupan masyarakat,” kata Ketua Pokdarwis Solo, Mintorogo, kepada Solopos.com, Jumat (19/1/2018).

Kekayaan pariwisata di kota yang sudah berusia 270 tahun dan pernah menjadi Ibu Kota Mataram ini mendorong CEO Triponyu, Aditya Pramono, dan teman-temannya membuat startup digital bernama Triponyu.com, satu setengah tahun lalu. Di usianya yang terbilang muda, Triponyu mampu meraih penghargaan dari UNWTO untuk kategori Non-Govermental Organization (NGO).

Menurut Chief Financial Officer (CFO) Triponyu, Alfonsus Aditya, market itu dibuat karena mereka melihat sektor pariwisata Solo sangat potensial. Sayangnya, warga lokal selama ini hanya menjadi penonton bukan pemain dalam dunia pariwisata.

Warga pun seperti tidak tersentuh untuk terlibat atau bisa menerima manfaat dari potensi yang ada. “Di sini ide awal kami bermula, bahwa pariwisata adalah milik semua orang. Tiap pekan kami blusukan ke kampung-kampung di Solo, mulai dari Sudiroprajan, Sondakan, Joyotakan, Baluwarti, dan kampung lainnya.”

Dari jalan-jalan itulah mereka berpikir bagaimana cara mengemas paket wisata dengan konsep yang membuat setiap kampung tidak bisa diperlakukan sama. Seperti diketahui, setiap orang dalam kehidupan sehari-hari bisa menjadi guide bagi kerabat atau keluarganya.

Berangkat dari sinilah, Triponyu melibatkan warga dan komunitas di kampung untuk bisa mengkreasikan apa yang mereka miliki. “Jadi, jika ada wisatawan yang membeli paket yang kami tawarkan, kami akan libatkan masyarakat setempat, apa yang kami lakukan sebisa mungkin ikut memberdayakan mikroekonomi masyarakat.”

Local guide dan anggota pokdarwis ikut terberdayakan, mereka kemudian mendapatkan pelatihan bahasa Inggris dan belajar jadi tour guide yang baik. Mereka juga diajari tentang etika di bidang pariwisata, salah satunya tidak ngepruk wisatawan dengan harga tinggi.

Konsep inilah yang membawa Triponyu masuk 14 besar dari 170 peserta dalam ajang UNWTO award. Di Madrid, mereka bukan lagi membawa nama Triponyu tapi juga Indonesia.

Aditya Pramono dan Alfonsus Aditya sama-sama bertolak ke Madrid. Untuk kategori NGO, Triponyu bertarung dengan sesama kandidat asal Indonesia, Sumba Hospitality School. Persaingan semakin sengit ditambah hadirnya kandidat asal Mexico dan Italia.

Mereka diminta presentasi berkaitan dengan program yang telah mereka jalankan. “Presentasi bertempat di Paraninfo De San Bernardo Universidad Complutense di Madrid. Bagi kami ini sangat luar biasa, ini dulu kampusnya Albert Einsten.”

Begitu nama Triponyu diumumkan sebagai pemenang dalam award UNWTO, website Triponyu nyaris overload. “Kami berkomunikasi dengan tim kami di Solo, pengunjungnya langsung melejit, bahkan nyaris overload. Setiap kali bertemu orang di sini juga selalu bilang, saya sudah buka website-mu,” ujar Aditya yang terhubung dengan Solopos.com saat masih di Hamburg, Jerman.

Seusai mendapatkan penghargaan bergengsi itu, Triponyu akan menata seluruh sistem termasuk partnership-nya. Mereka bahkan akan bekerja sama dengan Sumba Hospitality School, yang dalam ajang dan kategori sama, mendapatkan juara III setelah Meksiko. “Banyak yang akan kami lakukan apalagi setelah ini jaringan kami makin terbuka lebar.”

Ditanya seputar investor yang kemungkinan melirik Triponyu, Aditya belum berani berbicara banyak. “Yang jelas ada [investor yang meminati Triponyu], baru pendekatan, tapi untuk saat ini kami belum bisa sampaikan,” ujar dia.

 

Kolom

GAGASAN
Pelestarian Seni Tradisi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/2/2018). Esai ini karya Tito Setyo Budi; esais, sastrawan, budayawan, dan ketua Yayasan Sasmita Budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Paparan ini saya mulai dari selorohan soal nasi…